Prahara Kitab Dewa

Prahara Kitab Dewa
014 : Membantu Kota Shanzui


__ADS_3

“Jangan harap bisa pergi dari sini dengan membawa nyawa kalian!” Aura membunuh yang Chen An keluarkan, membuat sosok komandan Chao dan Qiu Fang bergidik ngeri.


Apa yang mereka lihat kemudian, membuat nyali keduanya benar-benar menciut.


Beberapa prajurit bahkan terkencing di celana, karena menyaksikan kekejaman yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.


Pedang Kristal Siluman yang telah Chen An cabut dari sarungnya dan tadi digunakan untuk membunuh Meng Chu, segera menebar maut saat pemuda itu menggunakan jurus Seribu Hujan Pedang.


Puluhan energi berbentuk pedang, melesat keluar dari ujung pedang Chen An, ketika Ia menebaskan pedang di tangannya beberapa kali.


Jerit kematian para perampok yang berusaha lari dari tempat tersebut, membuat suasana malam menjadi semakin mencekam.


Dalam satu kali serangannya itu, Chen An berhasil membunuh setidaknya dua puluh orang perampok. Tubuh mereka sebagian besar terpotong menjadi dua bagian.


Sementara puluhan orang lainnya, berhasil menjauh dan lari menyebar ke berbagai arah. Suara jerit kematian dari rekan-rekannya, membuat mereka semakin panik.


Chen An yang sedang mabuk karena pengaruh tuak, menyeringai lebar. Ia pun melesat dengan cepat mengejar mereka.


Qiu Fang dan Komandan Chao, hanya bisa mendengar suara jeritan, tanpa bisa melihat apa yang terjadi di tempat berjarak seratus meter dari atas tembok kota, dimana mereka berada.


Lima menit kemudian, suasana menjadi hening. Tidak lagi terdengar suara jeritan. Hanya kegelapan malam yang bisa mereka lihat.


“Komandan Chao … Sepertinya pemuda itu telah menghabisi seluruh kawanan perampok Serigala Hitam.?” Qiu Fang berkata, memecah keheningan suasana.


Ratusan mayat perampok dengan kondisi yang mengenaskan serta bau anyir darah, membuat suasana malam di depan gerbang utara Kota Shanzui itu, terasa semakin mencekam.


“Sepertinya begitu Tuan Muda … Apakah kita akan memeriksanya?” Qiu Fang menggeleng. “Kita tunggu saja pemuda itu kembali.”


Komandan Chao pun setuju dengan keputusan Qiu Fang yang adalah putera dari Qiu Feng, Gubernur kota Shanzui saat ini.


Beberapa saat kemudian, sosok Chen An terlihat melangkah santai di kegelapan malam. Jubahnya, kini berwarna merah karena bersimbah darah, demikian juga dengan bilah Pedang Kristal Siluman.


Saat Chen An telah berada lima meter pintu gerbang kota yang diterangi oleh cahaya obor, Qiu Fang dan Komandan Chao melompat turun dan segera menyapanya.

__ADS_1


“Terimakasih tuan atas bantuan anda, jika boleh kami …” Ucapan Komandan Chao terpotong karena perkataan Chen An kepada Qiu Fang.


“Aku ingin bicara empat mata dengan mu …”


Chen An yang telah selesai membersihkan pedangnya, segera melangkah ke sisi kanan pintu gerbang setelah memasukkan pedang Kristal Siluman ke sarung di punggungnya.


Sementara Qiu Fang tertegun mendengar ucapan Chen An yang berkata dengan raut wajah dingin kepadanya. Rasa jerih dan was-was sontak merasuki tubuhnya.


Wajah Komandan Chao menjadi pucat, Ia terlihat cemas saat Qiu Fang melangkah mengikuti Chen An, yang kemudian berhenti pada jarak dua puluh meter darinya.


“Aku tahu, tadi Kau melihatku melayang ke udara. Aku harap … Kau bisa menjaga rahasia ini. Jangan paksa aku untuk membungkam-mu selamanya. Berjanjilah untuk menjaga rahasia ini!”


Tubuh Qiu Fang bergetar, dengan terbata-bata ia pun segera mengucapkan janji kepada Chen An, untuk tidak menceritakan kepada siapapun tentang apa yang dilihatnya tadi.


Chen An membalikkan badannya, menatap lekat mata Qiu Fang yang juga sedang menatapnya. Jarak antara keduanya, terpaut satu setengah meter saja.


Untuk beberapa saat keduanya sama-sama tertegun. “Sepertinya aku tak asing dengan wajah pemuda ini, tapi dimana Aku pernah melihatnya?”


Pertanyaan dalam benak Qiu Fang senada dengan pertanyaan di benak Chen An. Hanya saja Chen An berhasil mengingat peristiwa delapan tahun silam.


Chen An yang tidak ingin berteman dengan kaum bangsawan, segera hendak beranjak pergi meninggalkan kota Shanzui. “Tunggu sebentar…!”


Chen An kembali membalikkan badannya, menatap wajah penasaran Qiu Fang. “Apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Entah kenapa, Aku merasa pernah melihat wajahmu sebelum saat ini.”


Chen An tersenyum tipis. “Sampaikan salam Guruku Fei Long ke Ayahmu, Tuan Qiu Feng, Kakak Fang …”


Chen An membalikkan badan dan segera melesat dengan peringan tubuhnya menuju ke arah utara. Tubuhnya hilang di kegelapan malam yang hampir mencapai puncaknya itu.


Sementara Qiu Fang terdiam berusaha mengingat-ingat nama Fei Long. Ia pun bergegas kembali ke kediaman Ayahnya, setelah memberi arahan kepada Komandan Chao untuk memperketat penjagaan di kedua gerbang kota.


Qiu Fang melesat dari atap ke atap bangunan lain, tanpa menyadari jika Chen An mengikuti dirinya dari ketinggian seratus meter di udara.


Saat lima lima puluh meter lagi sampai di rumahnya, terdengar suara denting pedang beradu dan jeritan kematian yang silih berganti.

__ADS_1


Qiu Fang menjadi panik saat menyadari suara itu berasal dari halaman rumahnya. Saat Ia telah tiba, terlihat situasi yang kacau balau di kediaman Sang Ayah.


Puluhan orang bertopeng dan berpakaian hitam, menyerang kediaman Qiu Feng. Penyerangan ini yang ketiga kalinya dalam dua bulan terakhir.


“Tuan Muda Fang! Cepat lindungi Tuan Besar dan Nyonya!”


Suara itu berasal dari pengawal pribadi Sang Ayah, bernama Luan Hu. Ia sedang menghadapi dua orang yang mengenakan cadar, yang sepertinya adalah pemimpin kelompok tersebut.


Jumlah prajurit yang menjaga kediaman walikota Shanzui itu, tidak seimbang dengan jumlah penyerang bertopeng hitam, apalagi dalam segi kemampuan bertarung yang berbeda jauh. Sehingga dalam sekejap, situasi berhasil di kuasai oleh para penyerang yang rata-rata memiliki kemampuan di tingkat Pendekar Ahli.


Qiu Fang hendak menerobos masuk ke dalam rumah, menolong ayah dan Ibunya. “Lepaskan Aku!” terdengar teriakan keras Qiu Ling yang membuat amarah Qiu Fang menggelegak.


Adik perempuannya itu, tengah diseret oleh dua orang bertopeng. Walau adiknya memiliki kemampuan di Tingkat Pendekar Ahli, namun menghadapi dua orang lawan sekaligus bukanlah hal mudah.


“Hentikan pertempuran atau gadis ini kami bunuh!” Salah seorang bercadar yang tadi bertarung dengan Luan Hu, terlihat telah menghunuskan pedangnya ke leher Qiu Ling.


Gadis berusia lima belas tahun itu, hanya menangis atas situasi yang Ia alami. “Suruh keluar Qiu Feng! Atau gadis ini akan mati!”


Suasana menjadi hening, kedua belah pihak telah mengambil jarak satu sama lain. “Lepaskan puteriku! Aku yang kalian cari bukan?!”


“Ayah …!”


“Tuan Besar …!”


Sosok Qiu Feng keluar dari dalam kediamannya bersama sang isteri yang telah menangis. “Ku mohon lepaskan puteri kami! Jangan bunuh dia. Bunuh kami saja!”Rao Ji, Ibu Qiu Ling berkata di sela isak tangisnya.


“Hahahaha … Semua itu tergantung pada keputusan Suamimu! Qiu Feng …. Serahkan peta itu atau kau tidak akan melihat puterimu lagi.”


Sosok bercadar yang menyandera Qiu Ling, berkata dengan suara congkaknya. Merasa jika dirinya telah berada di atas angin.


DESSH!


KLONTANG!

__ADS_1


Pedang di tangan Sosok bercadar yang berada di leher Qiu Ling, terjatuh ke tanah saat sebuah pecahan genteng menghantam pergelangan tangannya dengan sangat kuat.


******


__ADS_2