Prahara Kitab Dewa

Prahara Kitab Dewa
059: Syarat Mei Lin


__ADS_3

Dao Fan membacakan Titah Yang Mulia Kaisar Wei Hung yang mengangkat Bangsawan Hao Yan menjadi gubernur Baru Kota Zhaodong. Selesai pembacaan Titah dari Kaisar, semua orang pun kembali berdiri.


“Selamat Tuan Hao…” Chen An segera memberi hormatnya kepada Hao Yan yang mendatangi dirinya dan Komandan Dao Fan.


“Terimakasih Pendekar Chen, Komandan Dao Fan.” Senyum terkembang di bibir Hao Yan. “Bagaimana Situasi Kota Suzhao, Pendekar Chen…?


Chen An Lalu menjelaskan jika Kota Suzhao telah berhasil dibebaskan dari cengkeraman Sekte Pedang Bayangan. Namun Ketua Sekte itu, dikabarkan sedang menuju ke Ibukota Kekaisaran bersama sebagian besar anak anggotanya.


Chen An juga menyampaikan permintaan Komandan Leng Xue, agar seluruh prajurit Kota Suzhao dan Gubernur Lin Dong kembali ke kota asal mereka.


“Benarkah Ketua Sekte Pedang Bayangan menuju ke Ibukota?”


Suara Komandan Dao terlihat khawatir saat ia bertanya demikian pada Chen An yang kemudian menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


“Pantas saja Aku hanya diizinkan membawa lima ratus prajurit. Sepertinya Jenderal Guan Hu telah mengetahui bahwa Ibukota akan digempur oleh kelompok Topeng Baja dan seluruh sekte yang bergabung bersama dengannya.”


Komandan Dao Fang juga menceritakan jika, Ibukota saat ini dipenuhi oleh para pengungsi dari berbagai kota di wilayah Utara dan Barat yang telah berhasil dikuasai oleh Kelompok Topeng Baja dan sekte Aliran Hitam.


Bahkan ada ratusan orang pengungsi yang berasal dari kekaisaran Jian. Dahi Chen An berkerut mendengarnya.


“Pengungsi dari Kekaisaran Jian? Mengapa mereka mengungsi?” Tanya Chen An yang terkejut mendengar informasi tersebut. Komandan Dao Fan lalu menjelaskan informasi yang Ia dapat dari Jenderal Guan Hu.


Setelah mendengar penjelasan Komandan Dao Fan, Chen An pun berpamitan untuk menemui gurunya. Ia berjalan ke halaman belakang kediaman Bangsawan Hao.


“Guru … “


“Mengapa tadi Kau berpura-pura Chen Cen? Seharusnya sekali serang saja, Kau bisa mengalahkannya.” Tanya Thio San yang tengah duduk bermeditasi di sebuah batu besar.


Chen An hanya menjawab bahwa dirinya tak ingin mempermalukan seorang pengawal Kaisar di depan semua orang. Thio San hanya terkekeh mendengarnya.


“Guru ada yang harus ku sampaikan, Aku akan berangkat menuju Ibukota saat ini. Aku mendapat informasi jika Paman Guru Tan Hu dan seluruh anak buahnya, akan menyerang Ibukota Kekaisaran dalam waktu dekat ini?”

__ADS_1


“Benarkah informasi yang kau terima itu? Jika begitu Aku akan menemani mu ke Ibukota.” Ucap Thio San yang segera berdiri dari duduknya.


“Guru … Bukankah Guru pernah berkata ingin mengajari Aku sebuah Jurus rahasia yang tidak bisa Guru Kuasai?” Pertanyaan Chen An mengingatkan Thio San akan niatnya sebelum mereka tiba di kota Zhaodong beberapa hari yang lalu.


“Benar juga, mungkin ini saatnya Kau menguasai Jurus terkuat dari Guruku. Semoga dengan jurus itu Kau bisa, mengalahkan Paman Guru mu Tan Hu. Mari Kita mencari tempat yang tepat. Kau tak ingin menghancurkan kota ini bukan?”


Thio San melayang ke udara disusul oleh Chen An. Keduanya menuju ke tempat dimana Guru Thio San pernah tinggal dan menyembunyikan Cincin Ruangnya.


Setelah keduanya tiba di tempat itu, Chen An duduk seraya memejamkan matanya. Ia mendengar teori tentang jurus terkuat milik Kakek Gurunya dan berusaha mengingat serta memahaminya.


Thio San hanya butuh dua kali membacakan teori dari Jurus itu, agar Chen An bisa menghafalnya.


“Bagaimana, apa Kau sudah bisa mengingat seluruh teori itu?” Tanya Thio San saat Chen An membuka matanya. “Sudah Guru … Tapi ada beberapa kalimat yang sulit ku pahami maksudnya.”


Chen An mengakses ingatan Xiang Long agar Ia bisa memahami teori jurus yang seperti sebuah sajak itu. Namun ada tiga kalimat yang tidak Ia mengerti sama sekali maksud dan tujuannya.


Saat menyampaikan hal itu, Thio San hanya terkekeh.”Tiga kalimat itulah yang gagal Aku pahami, karena itulah Aku tidak bisa menguasai jurus terhebat milik Guruku.”


Suara Mei Lin terdengar di kepala Chen An dan mengejutkan pemuda itu. “Benarkah Kau mengerti maksud kalimat itu Nona Mei Lin?” Tanya Chen An setengah berteriak.


“Tentu saja Aku tahu, tapi ada syaratnya, jelaskan padaku maksud perkataanmu dulu. kata-katamu yang seperti ini, ”memintaku untuk menikahimu?” Apa sih arti kata menikahimu itu” Tanya Mei Lin penasaran.


“Itu … “ Chen an menelan ludahnya. Karena ingin menguasai jurus terkuat milik Sang Kakek Guru, Chen An pun akhirnya menjelaskannya.


“Oh begitu… Bagaimana jika Aku benar-benar memintamu untuk menikahi aku? Jika Kau bersedia, Akan Ku beritahu dirimu tentang Jurus terkuat milik Ras Manusia Naga itu.”


Perkataan Mei Lin di kepalanya, membuat Chen An seketika menjadi marah dan kesal. ”Kau! … Bagaimana mungkin Aku menikahimu makhluk Roh yang sudah mati seperti dirimu?! Kau ingin Aku juga mati Hah!”


Mei Lin hanya tertawa terbahak-bahak. “Tampan tapi bodoh! Aku belum mati, Jasad Kasar ku berada di Dunia di mana Aku berasal. Kau akan menikahiku nanti ketika kita sudah berada di Duniaku. Bagaimana Setuju?”


Chen An hanya terdiam mendengar ucapan Mei Lin yang sepertinya tidak sedang bercanda.

__ADS_1


“Sudah Kau terima saja Syarat darinya itu. Kau Akan menjadi pria paling beruntung diantara jutaan Pria di Dunia Sembilan Benua. Karena bisa menikahi Tuan Puteri kami.”


Suara Roh Rambut Merah, terdengar dari sisi yang lain di kepala Chen An. Untuk beberapa saat, Chen An hanya terdiam. Satu sisi dia sangat ingin menguasai jurus itu. Di satu sisi lain, dirinya tidak ingin berjanji hal sebesar itu.


“Chen Cen ada apa? Apakah Kau telah memahami maksud kalimat itu?” Thio San yang sedari tadi diam, karena menduga Chen An sedang berpikir keras, segera bertanya demikian.


“Belum Guru, Aku belum memahaminya.” Chen An lalu menjelaskan tentang apa yang disampaikan oleh Mei Lin beserta syarat yang diucapkan oleh gadis roh itu.


Saat itulah Thio San teringat kapan dan di mana Ia pernah mendengar tentang Dunia Sembilan Benua. “Guruku pernah mengatakan hal ini, Jurus Tapak Murka Naga, memang berasal dari Dunia Sembilan Benua. Chen Cen sebaiknya Kau terima saja syarat dari gadis itu.”


Thio San terlihat bersemangat sekali, karena keinginannya untuk menguasai jurus itu, akhirnya akan bisa terwujud jika Chen An mau menerima syarat dari Mei Lin.


Chen An hanya menghela nafas panjang. “Mengapa Kau begitu Chen Cen? Apakah Gadis Roh itu tidak secantik Ling’er atau Nona Cui Lan?”


Chen An menggeleng pelan. “Dia lebih Cantik dari mereka Guru. Hanya saja … Aku tidak menyukai dadanya yang terlalu besar.” Walau berat, Chen An terpaksa mengatakan hal tersebut.


“Hahahahaha … Bodoh! Kau benar-benar bodoh Chen Cen! Jika karena hal itu kau tidak menerima syarat darinya, jangan panggil Aku ‘Guru’ lagi!” Tentu saja Thio San tidak serius dengan ucapannya.


“HAH!....”


Chen An sangat terkejut mendengar ucapan dari Gurunya. “Mengapa guru berkata seperti itu?”


“Karena Gurumu ini, ingin sekali bisa menguasai Jurus Murka Naga itu untuk membunuh paman Gurumu Tan Hu demi membalas dendam kematian Kakek Gurumu. Apakah Kau ingin Gurumu ini mati tanpa bisa berbakti pada Gurunya?”


Chen An terdiam seribu bahasa, Ia sebenarnya tak masalah menerima syarat dari Mei Lin. Namun, mendengar dua roh lain menyebutnya sebagai ‘Perempuan Iblis’ membuat Chen An sedikit ragu menerima syarat dari gadis roh itu.


“Siapa Mei Lin ini sebenarnya? Mengapa roh-roh pedang itu menyebut dia seperti itu?”


Tanya Chen An seraya menghubungi Mei Lin yang sedang berusaha membuka lapisan energi pelindung, sehingga gadis roh itu tidak bisa mengetahui isi pikiran Chen An. Teknik itu Chen An dapatkan dari Kitab Segel Langit.


@@@@@

__ADS_1


__ADS_2