
“Terimakasih araknya anak muda.”
Chen An nyaris jatuh karena rasa terkejutnya yang luar biasa. Seseorang kakek yang terlihat seusia Fei Long, sedang memegang Guci yang tadi Ia lemparkan.
Yang membuatnya terkejut adalah Ia tidak bisa merasakan keberadaan kakek itu, hingga si Kakek itu mendatangi dirinya dan bersuara saat telah berada di belakangnya.
Menyadari Si Kakek bukan pendekar biasa, Chen An lalu menawarkan guci arak satunya yang masih penuh terisi. Si Kakek terlihat senang dan segera menegak habis arak tersebut.
“AAH … lumayan juga arak mu ini. Walau rasanya masih jauh dengan arak yang berada di Kota Lindong, cukuplah untuk menghangatkan tubuh malam ini. Terimakasih anak muda, siapa namamu?”
Aroma obat-obatan yang merembes keluar dari tubuh Sang Kakek, membuat Chen An bertanya-tanya dalam benaknya.
“Namaku Chen An Kek. Bagaimana Aku harus memanggil Kakek?” Tanya Chen An sambil menatap lekat kakek tersebut.
Si Kakek hanya terkekeh sebelum berkata yang membuat Chen An terkesiap. “Panggil saja aku Kakek Obat … Sepertinya kau baru saja bertarung habis-habisan. Minumlah Pil pemulih energi ini sebagai pengganti arakmu.”
Kakek tersebut dengan cepat mengambil sebuah guci kecil dan melemparkannya atau lebih tepatnya melayang perlahan mendekati Chen An.
Chen An menerima guci kecil itu dan lalu membuka tutupnya. Aroma obat yang segar segera merembes di udara. Chen An pun terkejut bukan kepalang, setelah mengenali pil itu dari ingatan milik Xiang Long.
Saat Ia mengangkat wajahnya, Chen An kembali terkejut karena tidak lagi mendapati tubuh si Kakek yang telah pergi tanpa Ia sadari sedikitpun.
“Siapa Kakek itu sebenarnya? … Bagaimana Dia bisa memiliki Pil Bunga Krisan Emas yang langka dan sangat mahal ini?”
“Menurut ingatan tuan Xiang Long, Pil Bunga Krisan Emas hanya dibuat oleh Sang Legenda yang telah lama menghilang, Alkemis Tingkat Dewa, Luo Tianyi. Jangan-jangan …”
Chen An segera melesat kesana kemari, mencari sosok Kakek misterius yang Ia yakini adalah Dewa Alkemis. Sang Legenda yang telah ratusan tahun menghilang dari Dunia Atas.
Setelah lelah mencari dan tidak menemukan sedikitpun jejak Kakek Obat, Chen An hanya bisa terduduk kembali di tempatnya semula.
Ia kembali membuka guci kecil itu dan mengeluarkan satu butir dari tiga butir Pil Bunga Krisan Emas. “Aromanya saja sudah membuat tubuhku menjadi segar. Apalagi setelah menelannya.”
__ADS_1
Chen An segera menelan pil tersebut. Ia segera bisa merasakan, bahwa pil itu memiliki kemurnian seratus persen.
Hal itu terbukti dengan tubuhnya yang pulih seperti sediakala, hanya dalam waktu kurang dari tiga menit saja.
“Sebaiknya Aku kembali ke kota Shanzui saja, siapa tahu kakek Obat yang misterius itu berada di sana.”
Selain itu, dengan energi qi-nya yang telah kembali utuh, Chen An tidak perlu khawatir lagi terhadap dua orang Pengawal Kaisar yang berniat untuk membunuhnya.
“Bagaimana pun juga, aku harus menemui kedua Sesepuh itu, untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Aku yakin guru tidak sengaja berbuat seperti itu.”
Chen An segera melayang kembali ke Kota Shanzui. Ia kembali ke kediaman Qiu Feng yang telah selesai berbincang-bincang dengan Pang Hu dan Shao Jie.
Kedatangan Chen An, kembali membuat kedua sesepuh itu menjadi geram. Chen An bukan tidak menyadari hal itu, meski Ia tetap menunjukkan sikap yang tenangnya.
“Tuan Hu dan Tuan Jie, izinkan Aku menjadi penengah permasalahan Anda dengan keponakan jauhku ini.” Qiu Feng segera berinisiatif berkata demikian.
Mau tak mau, Pang Hu dan Shao Jie menahan keinginan mereka. Akhirnya terjadilah pembicaraan diantara kedua belah pihak.
“Sudahilah pembicaraan ini, Kita selesaikan dengan cara kita di dunia Persilatan!” Qiu Feng tak dapat lagi mencegah kedua Pengawal Pribadi Kaisar Wei yang telah sangat marah itu.
Chen An pun tak memiliki pilihan lagi selain menerima tantangan itu. Ketiganya melesat keluar dan segera bersiap dengan jurus masing-masing.
Chen An tentu saja tidak berniat membunuh kedua Pengawal Kaisar itu. Apabila hal itu dilakukannya, maka dirinya akan menjadi musuh seluruh Kekaisaran Wei.
Pang Hu menggunakan jurus yang tadi Ia gunakan untuk menghabisi pemimpin Kelompok Langit Dua. Jurus itu bernama Tapak Pembelah Jiwa.
Sedangkan Shao Jie yang berjuluk Si Kaki Baja, langsung menggunakan jurus Tendangan Petir, jurus terkuat dari teknik Tendangan Kaki Baja miliknya.
Menyadari niat membunuh yang begitu besar dari kedua kakek itu, Chen An segera mengalirkan seratus energi qi ke arah kedua lengannya.
Tanah di sekitar mereka berada, sesaat bergetar pelan saat Chen An mengalirkan kekuatannya untuk menggunakan jurus Tinju Dewa Bumi.
__ADS_1
Pang Hu dan Shao Jie menelan ludahnya saat merasakan aura kekuatan Chen An yang jauh lebih besar dari kekuatan yang mereka miliki.
Namun begitu, mereka tak bisa lagi mundur karena pertarungan ini terjadi atas kehendak mereka berdua.
Pang Hu yang pertama melesat menyerang ke arah kepala Chen An. Disusul serangan dari bawah oleh Tendangan Kaki Baja Shao Jie yang kini telah memercikan petir kecil.
Chen An cukup tersibukkan oleh serangan kedua orang itu, kombinasi serangan tapak dan tendangan, membuat Chen An terpaksa menggunakan Tinju Dewa Bumi.
Shao Jie adalah yang pertama kali melihat tanah di bawahnya, tiba-tiba bergerak membentuk sebuah kepalan tangan. Ia menarik kembali serangannya dan melompat ke udara untuk menjauh.
Sementara Pang Hu yang sedikit terlambat melihat serangan yang tak terduga itu, terpaksa menahan serangan tinju dari bongkahan tanah yang terkepal ke arahnya.
BUGH
“APA !!”
Shao Jie terkejut melihat Pang Hu terlempar ke udara dengan raut wajah yang menahan rasa sakit di dadanya.
“Hu … Apakah kau baik-baik saja?” Bukan jawaban yang Shao Jie dapatkan, justru ia melihat sahabatnya itu muntah darah dan kemudian jatuh terduduk.
Melihat hal itu, Chen An segera menarik kembali serangannya. Sementara Shao Jie segera mendekati sahabatnya, lalu mengeluarkan guci kecil yang berisi pil penyembuh luka dalam.
“Sesepuh berdua… Kita tunda pertarungan ini. Kita harus mencari apa penyebab guruku membunuhi murid Anda. Jika Guruku terbukti tidak bersalah, kuharap Sesepuh berdua tidak menyentuh Guruku. Jika hal itu terjadi, maka jangan salah Aku jika terpaksa membunuh Sesepuh berdua.”
Baik Pang Hu maupun Shao Jie, hanya bisa menahan kemarahan mereka. Keduanya menyadari jika Chen An tidak main-main dengan ucapannya.
Chen An lalu berpamitan kepada Qiu Feng, Ia ingin segera mencari gurunya. Jika Fei Long bertarung dengan kedua orang itu, bisa dipastikan gurunya akan tewas.
Chen An melesat ke arah selatan, Ia berencana mencari Sang Guru, sekaligus menuju ke tempat yang ditunjuk dalam peta di Kotak Batu Hitam.
#######
__ADS_1