Prahara Kitab Dewa

Prahara Kitab Dewa
058: Chu Bei


__ADS_3

“Apakah hati mu terbuat dari batu Tuan Chen An?” Pertanyaan Roh Phoenix Api membuat Chen An tertegun, Ia menatap tajam ke arah mata Cui Lan.


“Apa maksudmu berkata seperti itu?” Tanya Chen An keheranan.


“Apa Kau tidak tahu mengapa gadis ini mengikuti dirimu dan mempertaruhkan nyawa demi bisa selalu berada di dekatmu?” Tanya Roh Phoenix Api yang membuat Chen An kembali tertegun.


“Tentu saja Aku tahu Dia menyukaiku, tapi Aku tidak ingin menjalin hubungan khusus dengan seorang perempuan, sebelum Aku berhasil membalas dendam atas kematian Ayah dan Ibuku.”


Mendengar jawaban Chen An, Roh Phoenix Api tersenyum. “Kau begitu naif, tapi Aku merasa Kau juga menyukai gadis ini, benar bukan?”


Chen An hanya diam sembari mengalihkan pandangannya. Ia tak ingin menjawab pertanyaan Roh Phoenix Api yang begitu ingin tahu perasaannya terhadap Cui Lan.


“Mengapa Kau diam saja? Apakah Kau malu untuk mengakuinya?” Chen An hanya tertawa kecil menanggapi pertanyaan Makhluk Roh tersebut. “Nanti Kau akan tahu sendiri. Kita harus cepat tiba di Kota Zhaodong, tambah lagi kecepatanmu.”


Chen An meningkatkan laju melayangnya. ”Ingin beradu cepat denganku? Dia lupa sedang menantang siapa.” Roh Phoenix Api mengerahkan seluruh kemampuann melayangnya.


Bukan hanya bisa menyusul Chen An yang sudah berada setengah Li di depannya, Phoenix Api juga melewati Chen An seraya berteriak keras. “Aku tunggu di kota Zhaodong!”


Chen An tentu saja terkesiap melihat kecepatan Roh Phoenix Api yang dalam satu helaan nafas, telah berada satu Li jauh di depannya. Walau Ia mengerahkan kekuatan penuhnya, tetap saja Chen An tertinggal saat tiba di Kota Zhaodong.


Terlihat tubuh Cui Lan sedang duduk santai di tembok pagar kota itu. “Lamban sekali Kau.” Ucapnya sambil tertawa kecil dan tawanya menghilang setelah mengembalikan kesadarannya pada Cui Lan.


Melihat sikap Cui Lan yang berubah dingin, membuat Chen An sedikit merasa heran. Belum sempat Ia bertanya, gadis cantik itu telah melompat turun dan melesat menuju ke kediaman Bangsawan Hao, tanpa terucap sepatah kata pun darinya.


“Benar kata Guru Fei, Perempuan adalah makhluk paling rumit di dunia.” Chen An menghela nafas, lantas melayang turun ke jalan utama kota itu dan mengabaikan tatapan takjub puluhan orang yang melihatnya.


Setibanya Ia di depan kediaman Bangsawan Hao, Wakil Komandan Dao Fan baru tiba dan turun dari kudanya. Di sampingnya, terlihat seorang pria berusia lima puluhan tahun yang mengenakan jubah berkualitas tinggi.

__ADS_1


Begitu melihat Chen An, Wakil Komandan Dao segera menghampiri dan memberinya hormat. “Inikah pemuda yang Kau ceritakan itu Komandan Dao?”


Pria itu bertanya seraya menatap Chen An, terlihat keraguan di matanya tentang berita yang disampaikan oleh Dao Fan, yang kini resmi diangkat menjadi Komandan Prajurit Penjaga Kota Zhaodong.


“Benar Tuan Bei …Pemuda inilah yang membunuh Ketua Sekte Tombak Angin dan membebaskan Kota ini dari cengkeraman mereka. Tuan Muda Chen, Perkenalkan Tuan Chu Bei, salah satu dari Lima Pengawal Pribadi Kaisar.”


Chen An memberi salam dan hormatnya kepada Chu Bei. “Anak Muda … Aku ingin menyampaikan sesuatu, tapi sebelum itu bisakah kita bertukar satu atau dua jurus?”


Chen An menatap Komandan Dao yang segera menganggukkan kepala, setuju dengan apa yang diucapkan oleh Chu Bei.


“Apakah hal ini sebuah keharusan Tuan Bei?” Tanya Chen An untuk mengetahui apa sebenarnya yang ingin Chu Bei sampaikan.


“Tentu saja, karena berita yang ku dengar dari Komandan Dao yang mengatakan kemampuan mu sangat tinggi, bahkan mungkin melebihi kemampuan Guru Agung Zhang San. Aku ingin membuktikannya dengan bertukar satu atau dua jurus dengan mu.”


Chen An menganggukkan kepalanya. “Kurasa Komandan Dao terlalu melebihkan kemampuanku, Tuan Bei. Tapi jika Anda memaksa, Aku tak bisa menolaknya. Silakan Tuan Bei.”


Chen An pun segera memasang kuda-kuda jurus Tinju Si Gila. “Lihat serangan!” teriakan Chu Bei menjadi awal pertarungan keduanya yang terjadi di halaman depan rumah Bangsawan Hao.


Thio San dan seluruh orang yang berada di dalam ruangan mereka, segera melesat keluar dari bangunan megah itu, saat mendengar suara pertarungan keduanya.


“Bukankah itu Chu Bei si Pendekar Tangan Besi? Mengapa Ia bertarung dengan Chen An?” Pertanyaan itu keluar dari mulut Nenek Obat setelah mengenali sosok yang bertarung dengan Chen An.


Thio San hanya menatap pertarungan keduanya dengan dahi mengerut. “Mengapa Chen Cen mengurangi kekuatannya? Siapa orang yang dilawannya itu?”


“Dia adalah Satu dari lima orang pengawal pribadi Kaisar Wei, Leluhur Thio. Seharusnya An’er bisa dengan mudah menjatuhkannya. Mungkin dia sengaja melakukan hal itu untuk sebuah tujuan tertentu.”


Menyadari kebenaran dari perkataan Du Tiannyi, Thio San memutuskan untuk meninggalkan halaman. Namun langkahnya terhenti saat mendengar suara seseorang yang jatuh ke tanah dan ucapan sombong dari Chu Bei.

__ADS_1


“Ternyata hanya sebegini saja kemampuan mu anak muda. Kurasa, Yang Mulia Kaisar akan menerima keputusanku yang batal untuk mengundang mu datang ke Istana.”


Thio San ingin bergerak, namun tatapan Chen An yang memberinya isyarat, membuat Ia tersenyum kesal dan berlalu meninggalkan halaman itu.


“Terimakasih Tuan Bei, karena anda mengurangi tenaga. Aku mengaku kalah.”Chen An memberi hormat dengan tersenyum tipis.


“Bocah ini? Dia tidak terlihat kesakitan sedikit pun setelah terkena pukulan telak dari ku. Bocah ini … Jangan-jangan….” Dalam benaknya, Chu Bei keheranan dengan kondisi Chen An yang baik-baik saja setelah mendapat serangan darinya.


Chu Bei tertegun sejenak, Ia pun menyadari jika Chen An telah sengaja mengalah dan memberinya muka, berkait dengan jabatannya sebagai pengawal Sang Kaisar.


Chu Bei yang penasaran akan kemampuan Chen An yang sebenarnya, ingin sekali melanjutkan pertarungan. Namun mendengar pengakuan Chen An, Ia pun terpaksa menerimanya.


“Komandan Dao, Kau saja yang menjelaskan situasi Ibukota kepada Bangsawan Hao dan menyampaikan Titah Yang Mulia Kaisar ini. Aku harus segera kembali ke ibukota secepatnya.”


Chu Bei memberikan gulungan kain berwarna kuning keemasan kepada Dao Fan dan segera menunggangi kudanya.


“Anak Muda, terimakasih. Ku harap kelak dikemudian hari, aku bisa melihat kemampuanmu yang sesungguhnya. Sampai jumpa.”


Chu Bei memacu kudanya, meninggalkan kediaman Bangsawan Hao Yan, yang baru saja tiba di halaman rumah bersama puteranya, Hao Jie.


“Titah dari Yang Mulia Kaisar Wei Hung!”


Komandan Dao mengangkat Gulungan Kain berwarna kuning keemasan di depan wajahnya. Seluruh orang segera berlutut mendengar perkataannya yang lantang itu.


Chen An adalah orang terakhir yang berlutut, itu pun setelah mendapat tatapan heran dari Komandan Dao serta bangsawan Hao Yan dan seluruh orang yang berada di tempat tersebut.


@@@@@

__ADS_1


__ADS_2