Prahara Kitab Dewa

Prahara Kitab Dewa
045: Lawan Yang Sulit


__ADS_3

Suara lonceng itu berasal dari Gerbang Timur Kota Zhaodong. “Adik Lan … Kembalilah dan temani Bibi Ying.”


Cui Lan ingin menolak namun suara Lonceng tanda bahaya, kembali berbunyi. Kali ini berasal dari arah Gerbang Barat.


“Chen Cen … Kau pergilah ke Gerbang Barat. Gerbang Timur Aku yang akan mengurusnya.” Terdengar suara Thio San yang kemudian segera melesat ke arah timur.


Setelah melihat Cui Lan berlari kembali ke kediaman Bangsawan Hao, Chen An melesat tinggi ke udara.


Dari Ketinggian seratus meter dari tanah, Ia bisa melihat ribuan obor mendatangi Gerbang Barat. Hal yang sama terjadi di Gerbang Timur.


“Sebanyak itu? Mampukah kota ini bertahan.” Chen An melayang cepat ke Gerbang Barat.


Sekitar dua puluh orang penjaga Gerbang Barat, terlihat panik saat obor terdepan dari barisan sepanjang lebih dari satu kilometer itu, berjarak kurang dari seratus meter lagi.


“Bagaimana situasinya?” Karena terlalu fokus melihat ke depan, mereka tidak menyadari kedatangan Chen An yang turun dari udara.


“Pendekar Chen! … Kapan … Ah Anda lihat sendiri jumlah musuh yang datang sebanyak itu.”


Seorang anggota Sekte Pedang Perak yang mendapat jatah menjaga gerbang, berkata dengan suara yang menunjukkan jika dirinya merasa ketakutan.


“Jangan panik … Biar Aku memastikan mereka musuh atau bukan. Jangan menyerang tanpa perintahku.” Chen An menjadi curiga terhadap sesuatu hal.


Dua puluh orang, yang telah bersiap dengan busur dan anak panah, menurunkan busur mereka. Sesaat kemudian semuanya terpana, melihat Chen An melesat ke udara dan menghilang di kegelapan malam.


“Ah Apa yang terjadi dengan mereka?”


Chen An yang kini berada lima puluh meter di atas barisan yang terdepan, melihat jelas jika yang datang adalah para penduduk yang hendak mengungsi.


Chen An mengamati lebih cermat orang-orang di barisan terdepan. Dan Ia tersentak saat mendapati dua wajah yang Ia kenali, wajah Qiu Ling dan Qiu Fang yang terlihat murung.


“Tahan Serangan! Buka pintu gerbang!” Teriakan Chen An yang menggelegar kuat memenuhi udara, sontak membuat rombongan itu berhenti dan segera bersiaga.


“Suara ini… Sepertinya suara dia ..” Qiu Ling berkata kepada Qiu Fang yang sedang melihat ke atas langit. “Benar … ini Suara adik Chen … Itu dia.”


Tentu saja Qiu Ling terkejut saat Qiu Fang menunjuk ke langit. Sementara Chen An menghela nafas panjang lantas melayang perlahan turun dari udara.

__ADS_1


Mulut semua orang terbuka lebar, melihat seorang pemuda melayang turun dari langit bagai seekor burung Elang. Wajah mereka terlihat pucat ketakutan.


“An Gege?! …” Qiu Ling tak bisa lagi menahan rasa gembiranya. Ia segera melompati keluar dari iring-iringan untuk bisa segera tiba di depan Chen An, yang sedang tersenyum melihat dirinya.


“An Gege!...” Qiu Ling memeluk erat Chen An sambil menangis terisak-isak. Untuk beberapa detik, Chen An terpaku, merasakan energi asing bergolak di dalam tubuhnya.


“Ling’er …” Seandainya cahaya obor itu lebih dekat lagi, maka akan terlihat wajah Chen An yang memerah jengah.


Qiu Fang yang melihat hal itu, hanya menggelengkan kepala sebelum melangkah mendekati keduanya. Namun di lubuk terdalam hatinya, Ia berharap Adiknya bisa selalu bersama dengan Chen An.


“Apa yang terjadi Linger…?” Chen An berkata seraya menarik tubuh Qiu Ling agar melepaskan pelukannya. Setelah gadis itu melepaskan pelukannya, terlihat air mata mengalir membasahi pipi putihnya.


Qiu Ling hanya menangis dengan tubuh yang berguncang hebat. Chen An menyadari hal buruk telah terjadi pada Qiu Feng dan Bibi Rao Ji.


“Kakak Fang … Apa yang terjadi, di mana Paman dan Bibi?” Qiu Fang menghela nafas panjang. “Ayah dan Ibu telah tiada saat Kota Shanzui diserang oleh Sekte Aliran Hitam.”


Chen An terdiam beberapa saat, mengingat kembali kebaikan-kebaikan yang Ia terima, dari kedua orang yang memperlakukan dirinya seperti anak mereka sendiri.


“Serangan!… ada serangan!”


Satu orang rekannya, mengalami hal yang tidak berbeda jauh. Sebuah pisau mendarat tepat di keningnya. Para pengungsi pun segera berhamburan lari tunggang langgang meninggalkan barang atau ternak yang mereka bawa.


Puluhan orang berpakaian dan bertopeng hitam, terus melemparkan pisau mereka ke arah para pengungsi, tak peduli laki-laki atau perempuan.


Pengungsi yang terkena pisau, seketika terjatuh dan tak sadarkan diri. Sedang yang terkena pada bagian vitalnya, tewas beberapa saat kemudian.


“Habisi mereka semua yang telah berani membang ……!”


Gluduk


Sosok bertopeng yang memberi perintah, tak mampu menyelesaikan kalimatnya.


Kepalanya telah lebih dulu lepas meninggalkan leher, tanpa Ia mengetahui siapa yang mengantarnya berkelana ke Alam Baka.


Orang bertopeng lainnya terkejut melihat salah satu pemimpin mereka tewas dengan cara mengenaskan, tanpa mengetahui siapa orang yang telah menghabisinya.

__ADS_1


ARGGH! ARGGGGHHH


Dari atas langit yang gelap, melesat ratusan energi pedang dengan kecepatan tinggi bagai hujan turun dari langit.


Satu persatu puluhan orang bertopeng itu berjatuhan tewas dengan luka yang mengenaskan. Tak sedikit yang tubuhnya terpotong menjadi dua bagian.


Suasana ditempat tersebut menjadi hening, di kejauhan masih terdengar teriakan panik dan tangis anak-anak kecil.


Cahaya obor para pengungsi membuat suasana cukup terang. “Keluarlah … Jangan kau kira aku tidak bisa mengetahui di mana dirimu berada.”


Suara Chen An yang baru saja menjejakkan kaki di tanah, terdengar cukup keras. Tidak terlihat satu orang pun di tempat tersebut, entah kepada siapa kalimat Chen An itu ditujukan.


Bau anyir darah dari puluhan mayat orang bertopeng hitam, mulai mengisi udara. Suasana di tempat tersebut, kini kembali hening mencekam.


“Masih juga tidak mau menunjukkan diri? Baiklah!”


Chen An melompat ke udara seraya menendangkan kedua kakinya, tepat ke arah sebuah gerobak milik pengungsi yang telah tewas terkena pisau di lehernya.


BLAAARR


Gerobak itu hancur terkena jurus Tendangan Angin dari Teknik Dewa Angin. Mayat pemilik gerobak, hancur lebur akibat terhantam jurus tersebut.


“Hahahahaha … Tak Kusangka hari ini aku bertemu lagi dengan seseorang yang bisa mengetahui keberadaan ku dengan tepat.”


Terdengar suara yang disusul dengan munculnya sesosok pria dari ruang hampa. Pria itu berusia sekitar lima puluhan tahun dengan Kain berwarna kuning keemasan menutupi punggungnya.


“Pusaka macam apa yang dimiliki orang ini, sehingga tubuhnya bisa tak terlihat oleh mata?”


Sebenarnya Chen An tidak bisa melihat tubuh pria itu. Ia bisa mengetahui keberadaannya tadi, karena adanya pancaran aura aneh dari tempat tersebut.


“Siapa namamu anak muda?” Tanya Pria itu sambil menatap lekat wajah Chen An.


“Pentingkah Kau mengetahui nama orang yang akan mengirimmu menemui mereka?” Tanya Chen An sambil mengalihkan pandangannya ke arah mayat orang-orang bertopeng hitam.


@@@@@@

__ADS_1


__ADS_2