
“Hahahaha … Kau pemuda paling berani yang pernah aku temui. Sayangnya … .” Sosok itu terdiam sejenak, melepaskan aura membunuh yang sangat kuat.
“Kau harus binasa karena keberanian mu itu. Matilah Kau di tanganku!”
Tubuh Pria itu kembali menghilang dari pandangan mata, setelah Ia mengibaskan kain kuning keemasan di punggungnya.
Chen An pun terkesiap saat tidak bisa lagi merasakan aura aneh seperti sebelumnya.
DUAGH
Tubuh Chen An terpental hingga belasan meter dan jatuh terduduk. Saat bangkit, dari sudut bibirnya terlihat setitik darah menetes.
“Mustahil!! … Seranganku hanya membuatnya terluka ringan …?!” Sosok itu berteriak dalam benaknya.
Ia seolah tak percaya, mendapati tendangan kuat yang dapat menghancurkan sebuah batu itu, seperti tak berefek terhadap lawan yang masih terlihat berusia belasan tahun.
Karena penasaran dan sekaligus berambisi membunuh Chen An, Sosok itu kembali melesatkan serangan kuatnya.
Baru saja Chen An berdiri, Ia merasakan perubahan angin di belakang tubuhnya. Chen An melesat cepat ke udara dan berhenti setelah tingginya mencapai dua puluh lima meter dari tanah.
Suasana kembali menjadi hening, Chen An memejamkan mata serta menajamkan indera pendengaran setelah mengalirkan seratus kristal qi ke seluruh tubuhnya.
“Apa! Bocah ini bisa melayang di udara?!” Mulut pria itu terbuka lebar, namun tentu saja Chen An tidak bisa melihatnya.
“Kekuatan bocah ini setara dengan kekuatan Ketua Dua. Untung Aku berhasil menyembunyikan Aura Kekuatan Jubah Emas ini, sehingga dia tidak bisa mengetahui keberadaan ku seperti tadi.”
Suasana tetap hening, karena satu sama lain sedang menunggu lawannya bergerak lebih dulu. Mata Chen An yang terpejam, membuat lawannya enggan untuk bergerak.
“Kemana orang itu? Apakah Dia sudah melarikan diri dari tempat ini.” Chen An masih tetap memejamkan mata, untuk memastikan keberadaan lawan.
Kurangnya pengalaman bertarung, membuat Ia kebingungan menghadapi lawan yang bisa menghilangkan tubuhnya dari pandangan mata.
Ia lalu mengakses ingatan Xiang Long dan mendapati jika Xiang Long pernah bertarung dengan lawan yang menggunakan jurus ilusi, namun situasinya berbeda dengan yang sekarang Ia hadapi.
__ADS_1
Chen An lalu mengeluarkan Pedang Bintang Merah, Ia lantas menggunakan jurus dari Guru Pertamanya, Hujan seribu Pedang.
“Jurus macam apa ini!”
Sosok pria itu terkejut saat Chen An menebaskan pedangnya ke segala arah dan melepaskan puluhan pedang energi yang sangat dahsyat.
Ledakan demi ledakan mulai terdengar saat pedang energi itu menyentuh tanah.
“Aku harus pergi dari sini. Kekuatan ilusi dari Jubah Emas ini, benar-benar menguras energi ku.” Sosok Pria itu melesat, tepat di saat Chen An mengarahkan tebasan pedang ke arah tempat di mana Ia berada tadi.
DUAARR DUAAAR DUUAAR
Pria itu telah berada dua puluh meter dari tempatnya berdiri tadi. Dari terpaan angin akibat ledakan itu, Ia bisa merasakan betapa dahsyatnya serangan tersebut.
Pria itu segera mengerahkan seluruh kemampuan peringan tubuhnya, untuk secepatnya meninggalkan tempat itu.
Setelah beberapa waktu, Chen An pun menghentikan serangan jurusnya. “Sepertinya dia memang telah pergi. Aku harus menemui guru Thio bagaimana cara menghadapi lawan seperti ini.”
Chen An memutuskan untuk kembali, menyusul Qiu Ling dan Qiu Fang. Saat tiba di gerbang barat, pintu gerbang kota itu, masih tertutup rapat.
“Maafkan saya Tuan Pendekar, Jumlah mereka sangat banyak sekali, kota Zhaodong tidak akan menampungnya. Selain itu, kita harus membatasi orang asing memasuki kota ini, bisa jadi ada musuh yang menyusup diantara mereka.”
Chen An memahami kekhawatiran ketua baru Biro Pengawalan Elang Putih itu. Apalagi tentang musuh yang menyusup dan menyamar menjadi pengungsi.
“Diantara para pengungsi banyak anak-anak dan perempuan serta mereka yang telah berusia lanjut. Bagaimana jika mereka dulu yang diizinkan memasuki kota? Sementara yang pria tetap berada di luar hingga kita selesai memeriksa identitas mereka.”
Sesaat Ketua Biro Elang putih itu terdiam. “Baiklah Tuan Pendekar.”
Ketua Biro Pengawalan Elang Putih, segera memberi perintah kepada beberapa orang penjaga, agar mulai membuka kunci gerbang.
Sementara Chen An segera menepi ke pagar untuk berbicara kepada seluruh pengungsi. Ia mengalirkan tenaga dalamnya ke arah leher.
“Dengarkan Aku! Situasi Kota Zhaodong sedang tidak baik-baik saja. Untuk itu saat ini, hanya perempuan dan anak-anak serta orang tua yang diizinkan memasuki kota.”
__ADS_1
Suara riuh segera terdengar, namun Chen An kembali berkata dengan lantang, bahwa besok pagi, pengungsi laki-laki akan diizinkan masuk, setelah diperiksa terlebih dahulu.
Suara riuh kembali terdengar, seiring dengan mulai bergeraknya para pengungsi perempuan dan anak yang memisahkan diri untuk memasuki kota.
Saat melihat Qiu Ling yang hendak memasuki gerbang diantar oleh Qiu Fang, Chen An segera melompat turun dari atas pagar.
“Adik Ling … Kakak Fang … Mari ikut dengan ku menemui Bangsawan Hao.” Keduanya mengangguk lantas mengikuti Chen An yang berlari dengan peringan tubuhnya.
Beberapa saat kemudian, keduanya tiba di kediaman Bangsawan Hao yang di jalan di depan bangunan itu, telah begitu ramai oleh orang-orang yang mengenakan seragam militer Kekaisaran Wei.
“Sepertinya pasukan bantuan dari ibukota kekaisaran telah tiba.” Chen An mempercepat gerakannya, membuat Qiu Fang dan Qiu Ling tertinggal cukup jauh di belakangnya.
Saat itulah Ia melihat Sang Guru yang baru keluar dari dalam bangunan dengan langkah yang terburu-buru. Namun saat melihat Chen An, Ia pun tersenyum.
“Chen Cen … Aku baru saja akan menyusul mu, bagaimana situasi di Gerbang Barat?” Tanya Thio sambil menyipitkan mata, melihat dua orang anak muda mendekati muridnya.
Chen An segera menjelaskan situasi di Gerbang Barat yang telah terkendali serta mengenalkan Qiu Fang dan Qiu Ling.
“Hemmm…. Anak muda … bolehkah aku memegang pergelangan tanganmu?” Tanya Thio San. Sementara Chen An merasa khawatir.”Guru … Apakah Kakak Fang terluka dalam?”
“Tidak … Bukan itu yang ingin ku ketahui.” Thio menjawab seraya menggelengkan kepala. Sementara Qiu Fang terlihat ragu mendekati Kakek yang tubuhnya memancarkan aroma obat-obatan itu.
Setelah menatap Chen An yang kemudian menganggukkan kepalanya, barulah Qiu Fang mengulurkan tangan kanannya. Thio San pun segera meraih tangan pemuda itu.
“Fang Gege …!” Qiu Ling berkata dengan khawatir saat melihat sang kakak tersentak kaget, ketika tangannya tersentuh oleh Thio San.
Qiu Fang tentu saja terkejut saat merasakan aliran energi yang hangat, menjalar memasuki peredaran darahnya dengan sangat cepat.
“Akhirnya Aku menemukan tubuh yang bisa mewarisi seluruh pengetahuan Alkemis ku. Aku bisa mati dengan tenang. Hahahaha..”
Karena begitu gembira, Thio San tertawa keras yang membuat orang-orang di sekitarnya menutup telinga.
“Dasar Tua Bangka peot! Hentikan tawamu. Semua orang sedang bersedih, kau malah tertawa senang!” Suara itu berasal dari seorang Nenek yang sedang berdiri di atas tembok pagar dengan tongkat yang diarahkan kepada Thio San.
__ADS_1
“Nenek!?” Qiu Ling dan Qiu Fang berteriak hampir bersamaan saat mengenali Ibu dari Ayah mereka. Keduanya segera menyambut Sang Nenek yang melompat turun dengan peringan tubuh yang tinggi.
@@@@@