Pria Bayaran dan Gadis Mafia

Pria Bayaran dan Gadis Mafia
BAB 98 : MISI SELESAI


__ADS_3

Jourrel diam mematung, cukup terhenyak ketika mendapat ciuman mendadak dari gadis itu. Keduanya memejamkan netra mereka, menyatukan embusan napas hangat mereka.


Telapak tangan Jourrel segera menahan tengkuk Cheryl dan semakin memperdalam ciumannya. Meski sama-sama tidak berpengalaman, Jourrel memimpin ciuman itu sesuai nalurinya.


“Cheryl! Cheryl! Kau dengar papa?” seru Tiger ketika tak mendengar apa pun lagi selain suara ledakan yang menggelegar.


Cheryl langsung membuka mata, mendorong dada Jourrel lalu menjatuhkan tubuhnya di kursinya sendiri, “I—iya, Pa. Cheryl baik-baik saja. Bagaimana dengan Paman Bian dan yang lainnya?” Cheryl balik bertanya dengan napas tak beraturan.


“Kami semua aman, Nona. Jangan khawatir.” Bian menyahut ketika namanya disebut.


“Ah, syukurlah!” Tiger mendesah lega di markasnya.


Cheryl mengembuskan napas kasar, menyentuh bibirnya sembari tersenyum lebar. Ciuman pertama yang cukup kacau, akan tetapi sangat berkesan baginya.


Ia menjadi salah tingkah, apalagi saat Jourrel menatapnya lamat-lamat. Wajahnya memerah seperti tomat. Ia segera melajukan kembali mobilnya menuju penginapan mereka.


“Nona! Dame, berhasil melarikan diri,” lapor Rico yang belum berhasil menemukan jejaknya. Mereka terlalu fokus dengan Cheryl dan Jourrel, sehingga ia berhasil meloloskan diri.


“Uncle pantau terus, jika muncul tanda-tanda kehadirannya, segera hubungi kami,” ucap Cheryl.


“Baik, Nona!”


“Hati-hati, Cheryl. Tetap waspada,” sambung Tiger kembali khawatir.


“Siap, Pa. Tenang aja. Kami akan menyusul ke Palembang setelah semua beres!” ucap Cheryl dengan yakin.


“Papa tunggu kedatanganmu.”


“Papa masih inget janji ‘kan?” Cheryl kembali mengingatkan.


Terdengar helaan napas berat dan panjang dari pria itu. “Hemm! Lihat saja nanti!” balasnya.

__ADS_1


\=\=\=\=0000\=\=\=\=


Baru hendak menginjak kaki di pelataran basemen hotel, Rico memberi kabar bahwa Dame mengamati mereka dari jarak yang cukup jauh.


“Kali ini giliranku, kamu istirahat saja! Semua harus habis malam ini juga!” semangat Jourrel mengecup kening Cheryl kemudian bergegas menuju motornya. Segera melajukan dengan tak sabar, setelah memasang helm dengan pas. “Uncle, jenis mobil dan plat nomornya!” pinta Jourrel meninggalkan Cheryl.


Akan tetapi gadis itu tak tinggal diam. Cheryl kembali masuk ke mobil dan menyusul Jourrel. Ia  juga mendengar apa yang dibicarakan Jourrel dan Rico.


Setelah mendapat informasi beserta petunjuk jalan, Jourrel mempercepat laju motornya. Matanya memicing dengan tajam, memindai setiap mobil yang ia lalui.


Tak mau kalah, Cheryl juga mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tetap fokus meskipun sudah lewat tengah malam.


Rico yang masih stay di hotel, terus memberi instruksi pada Jourrel, mengenai jalur mana saja yang dilalui oleh Dame.


“Nona, Anda ke mana?” seru Rico ketika melihat titik keberadaan Cheryl yang berdekatan dengan Jourrel.


“Aku tentu nggak bisa diam saja, Uncle!” sahut gadis itu bersemangat.


“Tenanglah, Sayang. Aku di belakangmu,” sahut Cheryl santai.


Saat Jourrel kembali fokus ke depan, ia kehilangan jejak. Konsentrasinya memang sempat buyar mendengar Cheryl mengikutinya. Sehingga harus memalingkan pandangan dari Dame.


“Uncle, di mana dia?” pekik Jourrel mengendurkan gasnya, kecepatan motornya semakin turun.


“Sebentar, kami juga kehilangan signal!” sahut Rico bekerja keras kembali menemukan keberadaan mobil Dame.


Cheryl sendiri menurunkan kecepatannya, ia menyiapkan revolver yang ada di dashboard mobilnya. Bibirnya tersenyum tipis mengingat saat Jourrel mengajarinya, karena dibumbui dengan drama romantis yang tak terlupakan seumur hidupnya.


Mata Jourrel mendelik ketika tampak sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi dari belakang Cheryl.


“Cheryl! Cepat maju!” teriak Jourrel yang mengejutkan Cheryl. Senjata apinya terjatuh, matanya menangkap Jourrel yang melambaikan tangannya sambil terus berteriak.

__ADS_1


“Nona, cepat menyingkir!” Rico pun berteriak ketika mobil Dame ternyata mengincar mobil yang ditumpangi Cheryl dan Jourrel tadi. Dame sempat melihat mobil Cheryl mengikutinya, Dame segera memotong jalan dan bermaksud menabrak mobil tersebut.


Panik dan gugup, Cheryl baru tersadar setelah melihat pantulan gerakan mobil dari belakangnya yang melaju dengan kecepatan sangat tinggi.


Jourrel memutar arah dengan cepat, memacu kuda besinya berlawanan arah dengan mobil Dame. Tidak ada waktu lagi, jarak mereka sudah terlalu dekat. Jourrel menatap dengan seringai yang sangat tajam. Setelah mengatur handle dan gigi motor, Jourrel yang melaju dengan kecepatan tinggi melintangkan motornya dengan kemiringan 45° lalu sengaja  melepaskannya dari jarak beberapa meter dan sedikit memberi dorongan di kakinya.


Tubuh Jourrel berguling dan sempat terseret di jalan raya. Ia terus berguling hingga berhenti di tepi jalan. Motornya tersangkut di ban depan mobil Dame. Gesekan dan decitan rem pun memekakkan telinga.


Jourrel segera berdiri walaupun hampir terhuyung, lalu mengarahkan dessert deagle tepat pada Dame. Tanpa basa basi, Jourrel segera membuka jalannya peluru, lalu menarik pelatuk tepat di kepala Dame.


“Dor! Dor! Dor!”


“Ayah, ibu, semua selesai,” gumam Jourrel menembaknya berulang kali, lalu memejamkan mata, membuka kembali ingatannya ketika orang-orang itu menghabisi nyawa sang ayah, juga penderitaannya bersama sang ibu. Mengeluarkan semua dendam dan amarahnya hingga mobil Dame kehilangan kendali, menabrak dinding pembatas jalan.


“Duaarrrrr!”


Mobil meledak membuat tubuh Jourrel terhempas, terpental dan berguling di jalan karena jarak mereka yang cukup dekat.


“Jourrel!” teriak Cheryl.


Saat mendengar benturan yang begitu keras, Cheryl memutar setirnya. Ia ternganga dan segera menyingkir dari jalur mobil Dame agar tidak terseret dan berbenturan dengannya.


Cheryl turun dari mobilnya, berlari dengan sangat kencang menghampiri sang kekasih yang tergeletak di tepi jalan. “Jourrel! Jourrel bangun! Jou!” pekik Cheryl menggoyangkan bahu Jourrel.


Cheryl membuka kaitan helm Jourrel, lalu memangku kepala pria itu. “Jou, sadarlah,” ucapnya mulai terisak.


“Cheryl!” lirih Jourrel mengernyitkan keningnya merasakan nyeri di sekujur tubuhnya. “Misi ... se—le—sai,” ujar Jourrel terbata-bata. Kemudian kehilangan kesadarannya.


“Jourreeeel!” teriak Cheryl histeris memeluk kepalanya begitu erat.


Bersambung~

__ADS_1


Xavier libur dulu ygy... Aku mau ketik ini sampai tamat. stay tune... Banyakin komennya yaa. 🥺😭


__ADS_2