Pria Bayaran dan Gadis Mafia

Pria Bayaran dan Gadis Mafia
BAB 66 : JAGA PERASAAN


__ADS_3

Merasa serba salah, Jourrel hanya menahan napasnya sesaat. Ia berada di posisi yang sulit sekarang.


Jourrel kembali menyeret kakinya, semakin mendekat pada Tristan. Menepis lengan Cheryl yang berusaha membantunya. Ia juga seolah mengabaikan gadis itu, walaupun dadanya sesak ketika melakukannya.


“Tan!” panggil Jourrel menyentuh bahu Tristan.


Suara yang tidak asing membuat Tristan mengerjapkan kelopak mata, menegakkan punggung dan mengedarkan pandangan meski masih belum sadar sepenuhnya.


Sepasang netra Tristan menyipit, menguceknya sejenak lalu melebarkan pupil matanya. “Jou?! Kemana aja lu?! Bikin khawatir aja!” seru pria itu berdiri dan menariknya bahu Jourrel ke dalam pelukan.


“Arrghh!” rintih Jourrel yang merasa nyeri dengan gerakan tersebut.


“Tris, Jourrel masih pemulihan. Jangan berlebihan bersinggungan dengan tubuhnya,” saran Cheryl yang suaranya tidak selembut tadi.


Ia masih mengira-ngira, apa kesalahan yang ia buat. Sampai tiba-tiba Jourrel acuh tak acuh padanya. Padahal sebelumnya masih biasa saja. Dan bahkan mampu membuatnya berdebar-debar.


Tristan baru menyadari kehadiran Cheryl. Ia melepas pelukan tersebut dan menatap gadis cantik walaupun dengan penampilannya yang berantakan.

__ADS_1


“Kenapa? Lu terluka?” tanya Tristan mengamati tubuh Jourrel.


“Nggak apa-apa. Pulanglah. Terima kasih banyak sudah menjaga ibu semalaman,” ujar Jourrel merebut kursi dan mendudukinya.


“Eh tapi lu masih pake baju pasien. Minimal sembuh dulu lah!” elak Tristan.


“Tidak! Aku sehat. Pulanglah, Tan. Kalau boleh tolong antar Cheryl ke rumahnya,” tolak Jourrel tanpa menoleh. Ia fokus menatap sang ibu yang masih setia memejamkan mata.


Manik indah Cheryl berkaca-kaca. Ia tersenyum pahit, menahan laju air mata yang mulai menggenang.


“Nggak perlu! Aku sama uncle! Maaf kalau aku ada salah. Semoga ibu lekas sembuh. Permisi,” pamit Cheryl segera memutar tubuhnya keluar ruangan.


“Pulang aja, Uncle. Mungkin aku ganggu!” ujarnya membelakangi Rico dan berjalan perlahan.


Langkahnya tak bersemangat dan tampak lesu. Rico menduga sesuatu terjadi pada sang nona. Rico membuka pintu dengan kasar. Tidak terima ada yang membuat Cheryl sedih.


Cheryl mendelik, memutar tubuh semampainya dengan cepat dan segera berlari menangkap jas Rico. “Uncle!” seru Cheryl menahan gerakan Rico yang sudah melangkahkan satu kakinya masuk.

__ADS_1


“Dia pasti nyakitin kamu ‘kan? Ayo bilang, biar aku pukul lukanya itu! Beraninya membuat kamu sedih!” geram Rico dengan deru napas kasar.


“Uncle apa-apaan sih! Aku mau pulang! Ayo!” ucap Cheryl menarik-narik jas Rico. “Pulang sekarang!” perintahnya sekali lagi dengan pancaran mata sendu.


Rico membuang napas beratnya. Mau tak mau, suka tidak suka, ia tetap menurut. Matanya sempat menatap tak suka pada Jourrel. Kemudian kembali menutup pintu dan pulang bersama Cheryl.


Dua lelaki yang berada di dalam ruangan itu juga langsung mengalihkan pandangan pada sumber keributan.


“Lu apain Cheryl? Kalian berantem?” Tristan menyelidik dengan tatapan mengintimidasi.


“A ... aku? Enggak! Aku nggak apa-apain,” ucap Jourrel menggeleng.


“Masa? Terus siapa itu tadi? Kenapa sampai marah-marah? Ayolah, lu apain lagi Cheryl, Bro?” cecar Tristan yang kini bersandar pada tepi ranjang Ibu Dina, sembari melipat kedua lengannya di dada.


Jourrel mendongak, matanya sendiri seperti tersirat kesedihan. Sedikit memaksa senyum di bibirnya, “Aku, hanya menjaga perasaanmu saja,” akunya.


“What?! Jaga perasaanku gimana maksud lu, hah?” pekik Tristan mendelik.

__ADS_1


 


Bersambung~


__ADS_2