
“Uncle!” seru Cheryl memutus tautan mata mereka.
Dalam hati Jourrel mendesah lega, ia mengira pria itu adalah ayah Cheryl. Akan tetapi, tetap saja ada rasa was was dalam hatinya.
Jourrel mencoba mengurai senyum di bibirnya, menetralkan debaran jantung yang sudah bagai lari marathon, sembari memberi sedikit anggukan sopan pada Rico.
“Jangan bergerak sampai dokter datang!” tegas Rico dengan wajah seriusnya. Lengannya menjulur menekan nurse call tanpa mengalihkan tatapan tajamnya pada Jourrel.
Pria itu pun mengangguk. Suasana menjadi canggung seketika. Sampai kedatangan tim medis yang segera memeriksa kondisi Jourrel.
Hampir satu jam menjalani serangkaian pemeriksaan, dokter memastikan kondisinya cukup stabil. Tinggal pemulihan luka pada kepala dan bekas operasinya saja. Obat-obatan yang diberikan memiliki kualitas terbaik, menunjang proses penyembuhan Jourrel. Ditambah lagi, dia memiliki daya tahan tubuh yang bagus.
“Tolong lepas saja semuanya. Saya sudah lebih baik,” pintanya melayangkan tatapan permohonan.
“Baiklah, jika ada keluhan apa pun segera hubungi kami!” tutur dokter tersebut, Jourrel hanya mengangguk. Cheryl pun tidak melarang setelah dokter memutuskan seperti itu.
Suster segera melepas selang oksigen dan infusnya, kemudian menyiapkan kursi roda. Namun pria itu menolak. Ia kekeh ingin berjalan saja. Tidak ingin menyusahkan orang lain dan berusaha melakukannya sendiri sesulit apa pun itu.
“Sombong!” ketus Rico memicingkan mata.
__ADS_1
Jourrel hanya menanggapi dengan sebuah anggukan kecil. Cheryl sendiri merapatkan bibirnya. Ia menatap malas pada Rico lalu berdiri di samping Jourrel dan menyentuh lengannya.
Jourrel membeku, menoleh pada Cheryl hingga manik mata mereka saling bertautan erat. Jangan tanyakan bagaimana dentuman jantung keduanya ketika kontak fisik itu terjadi.
“Eheemm! Mendadak panas!” ledek Rico mengusap tengkuknya sembari membuang pandangan ke samping.
Pria paruh baya itu melangkah dengan kaki tegasnya keluar ruangan terlebih dahulu. Menyembunyikan senyum yang merekah tanpa diketahui oleh dua sejoli itu.
Sontak, Jourrel dan Cheryl menjadi salah tingkah. Jourrel berusaha menapakkan kedua kakinya pada lantai dingin itu.
Matanya terpejam sejenak, mengatur napasnya karena masih sedikit lemas dan pusing. Akan tetapi tekadnya begitu kuat. ‘Aku nggak boleh lemah. Ibu membutuhkanku,’ batin Jourrel membuka mata sembari membuang napas kasar.
“Pelan-pelan aja. Berubah pikiran? Mau bawa kursi roda?” tawar Cheryl khawatir masih merengkuh lengan kanan Jourrel.
Cheryl dengan sabar menyamakan langkah Jourrel yang begitu lambat, menuju ruangan Ibu Dina pagi-pagi sekali. “Maaf ya, uncle rico memang begitu perangainya. Tapi sebenernya dia baik kok.” Cheryl membuka percakapan lagi.
“Nggak apa-apa. Aku pikir dia ayahmu,” sahut Jourrel.
“Bukan. Papa masih di luar ... eh, di Palembang. Uncle itu yang bantu jagain aku sejak kecil. Ya bisa dibilang sudah seperti papa sendiri sih, hehe.” Hampir saja keceplosan mengenai keberadaan sang ayah di luar negeri. Cheryl tidak mau membuat kesenjangan yang besar antara dia dan Jourrel. Takut pria itu akan menjauhinya.
__ADS_1
“Oh,” sahutnya mengangguk.
Jarak ruangan mereka sebenarnya tidak jauh. Namun Jourrel sesekali berhenti ketika nyeri yang sesekali menyerangnya. Cheryl pun setia menemani. Sesekali mengajaknya bercanda. Dan tak melepas rengkuhan lengannya. Rico senyum-senyum sendiri di belakang mereka.
Ketika sampai di depan ruangan, Cheryl membuka pintu lebar-lebar. Mereka masuk dengan sangat hati-hati. Hingga langkah Jourrel berhenti ketika pandangannya lurus ke depan.
Ia menemukan Tristan yang sedang tidur, menyandarkan kepala di tepi ranjang Ibu Dina. Jourrel merasa sesak ketika teringat jika sahabatnya itu mencintai Cheryl.
“Ada apa? Kenapa berhenti? Sakit lagi ya?” tanya Cheryl menatapnya penasaran.
Jourrel melepaskan tautan tangan Cheryl di lengannya. Sempat meremas jemari lentik itu lalu menurunkannya. “Aku bisa sendiri,” ucap Jourrel melanjutkan langkahnya yang tertatih.
Jourrel menggeram pada dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia menikmati suasana, disaat sahabatnya selalu ada untuknya. Bahkan mau menggantikan posisinya untuk menjaga sang ibu. Padahal dia tahu persis bagaimana perasaan Tristan pada Cheryl. “Bodoh!” ucapnya mengepalkan kedua tangannya.
“Apa?” Cheryl mengernyit ketika mendengar umpatan Jourrel.
Bersambung~
__ADS_1
Insha Allah 1 bab lagi nyusul di antara RL yang membelit. 😊 makasih supportnya ya 🥰