
Cheryl membantu Jourrel berdiri, masih menggamit lengan lelaki itu, tidak mau melepaskannya. Ia tahu, Jourrel sedang rapuh sekarang.
Pandangan mereka tertuju pada Tristan yang kini menatap ke arah Leon. Sempat beradu pandang sejenak, kemudian kembali berhadapan dengan Jourrel dan Cheryl.
“Ibu khawatir waktu kamu ditangkap. Kebetulan aku memang mau ke rumahmu bersama Git ... ah, maksudku Dokter Gita. Kami tidak bisa berbuat apa-apa ketika kamu ditawan. Yang ada di pikiranku saat itu adalah kondisi ibu.” Tristan mulai bercerita.
Bibirnya mengulas senyum, tetapi air matanya masih terjatuh sesekali. Tristan sendiri sudah lama kehilangan ibu. Dia menyayangi ibu Dina seperti ibunya sendiri.
“Ibu ingin meminta maaf dan berterima kasih, karena kamu tetap merawatnya dengan baik dan telaten walaupun ibu sedang mendiamkanmu. Tenang saja, ibu sudah tahu semuanya. Beliau tidak marah, justru sangat menyesal karena sempat marah padamu. Ibu sangat bangga padamu Jourrel, ibu sangat menyayangimu,” tambah Tristan membuat Jourrel menunduk.
Tristan menepuk bahu Jourel, mengusapnya cukup kuat. Tetapi tangisnya justru pecah, tidak sanggup melanjutkan ceritanya.
Gita melangkah maju, “Maaf, ibu terjatuh dari ranjang ketika Tristan hendak menjemput perawat di ujung gang. Aku meminta datang ke rumah untuk merawat ibu. Dan waktu itu, aku sedang di dapur membuatkan minuman hangat. Tensi beliau tinggi, sehingga ....”
“Tidak usah dilanjutkan!” Jourrel berbalik cepat. Meraih tangan ibunya, menciumnya begitu lama dan kembali memeluk wanita itu.
Leon menoleh pada Tiger. Dua pria itu sama-sama terenyuh dengan pemandangan di hadapan mereka. Dua lelaki yang sama-sama kehilangan sang ibu sejak mereka masih kecil.
__ADS_1
“Kak, sepertinya Cheryl menemukan calon pendamping yang tepat," simpul Leon dengan pelan.
Tiger menoleh, memicingkan mata mendengar penuturan Leon. “Apa maksudmu?”
Leon mendesah kasar, pria di sampingnya memang benar-benar tidak peka. “Jourrel itu laki-laki yang tulus ketika sudah mencintai wanita. Dari ceritanya saja, dia begitu meratukan ibunya. Lalu lihatlah, betapa hancurnya dia ketika kehilangan cinta pertamanya, yaitu ibunya. Lelaki seperti itu pasti akan meratukan wanitanya dan tidak akan pernah tega menyakiti wanita yang dicintainya!” papar pria itu menatap Jourrel yang masih memeluk erat sang ibu untuk terakhir kalinya.
Tiger menoleh, meresapi setiap perkataan Leon. Mengusap dagunya yang ditumbuhi jambang. “Hmmm!” gumamnya.
“Aiih! Kau ini memang nggak peka!” sindir Leon.
“Sudahlah! Sekarang tugasmu cari tahu perusahaan ayahnya. Sekejam-kejamnya aku, tidak suka ada orang yang berbuat licik. Apalagi sampai membuat orang lain menderita. Kalau perlu kita balas berkali-kali lipat!” Tiger berbalik dan berjalan keluar, diikuti oleh Leon.
“Diamlah! Bukan saatnya membahas itu!” sembur Tiger melirik tajam.
Leon terkekeh, menepuk bahu kakaknya itu. “Cheryl udah dewasa, Kak! Bukan anak kecil lagi. Sudah saatnya kamu melepas tanggung jawabmu pada lelaki yang tepat. Jourrel pria yang gentle, bertanggung jawab, mereka juga saling mencintai. Tunggu apa lagi?” imbuh Leon semakin membuat Tiger memanas.
Tiger mengendurkan dasinya, ia memang masih tidak siap melepas putri kesayangannya itu. Bahkan bisa dikatakan cemburu dengan lelaki yang dekat dengan Cheryl. “Diam atau kusumpal mulutmu itu!”
__ADS_1
“Silahkan saja, kalau siap menerima kemurkaan Sasa!” Leon mengedikkan bahu dan berjalan mendahului Tiger.
Tiger bergeming, menghentikan langkahnya. Dia tidak akan berkutik menghadapi Khansa. Tiger mengembuskan napas berat sembari membuang muka.
“Hah! Sayang, benarkan anak kita sudah dewasa. Aku jadi merindukanmu!” gumam Tiger mengusap wajahnya kasar, mengingat Jihan yang kini sedang berjauhan dengannya.
“Rico!” teriak Tiger membuat Rico tergopoh-gopoh mendekatinya.
“Iya, Tuan!”
“Urus semua proses pemakamannya!” titah Tiger tanpa menoleh.
“Sudah, Tuan. Semua Tim SSG sudah mengurusnya! Seluruh administrasi juga sudah kami selesaikan atas perintah Tuan Leon,” tutur Rico berdiri di balik punggung kokoh Tiger.
“Hmmm! Katakan pada Cheryl kalau semua sudah siap!” ucap Tiger lalu melenggang pergi meninggalkan rumah sakit.
“Baik, Tuan!” Rico tetap menjawab meskipun tidak didengar oleh tuannya itu.
__ADS_1
Bersambung~