
“Astaga Jou! Apa yang kamu lakukan?” seru Cheryl terkejut sekaligus menahan tawanya. Namun ia masih bergeming di tempatnya semula. Tidak ada keinginan untuk menolong lelaki itu.
“Cher, please-lah! Ini nggak lucu,” sahut Jourrel menguatkan cengkeramannya.
Cheryl mencebikkan bibirnya, ia merangkak mendekati Jourrel. Namun hanya memperhatikannya saja, enggan mengulurkan bantuan.
“Bukannya kamu pembunuh bayaran? Masa nggak pernah main ke atap gini?” sindir Cheryl menaikkan sebelah alisnya.
Napas Jourrel terengah-engah. Sinar matahari mulai menyengat membakar kulitnya. Ia sama sekali tidak berani melirik ke bawah.
“Enggak pernah, Cher. Paling di roof top. Itu pun nggak sampai manjat genteng kayak gini. Naiknya lewat tangga. Ayolah bantuin,” rengek Jourrel memberanikan diri melepas satu lengannya dan menjulur ke atas, berharap disambut oleh Cheryl. Kakinya kesusahan naik ke atas.
“Coba rayu aku dan panggil aku sayang. Pengen denger,” goda Cheryl menodongkan telinganya sembari menyibak rambut panjangnya agar tidak menghalangi.
“Sayang, tolong bantuin ya, Cantik, Please. Bukankah kita mau buat rencana ke Medan? Bukannya kamu mau belajar menembak? Aku bakal ajarin, Sayangku!” rayu Jourrel yang sudah berkeringat di sekujur tubuhnya. Tangannya sudah sangat merah karena cengkeraman yang begitu kuat.
“Kamu sudah berjanji ya! Aku pegang omongan kamu, Sayang!” ucap Cheryl dengan nada centil mengedipkan satu matanya.
“Iya! Iya! Oke, aku janji,” jawab Jourrel cepat. Ia sampai lupa dengan ucapannya pada Tiger. Dalam pikirannya saat ini hanyalah bagaimana caranya agar dia bisa selamat dan menjalankan rencananya dengan mulus.
Detik berikutnya, Cheryl justru melompat tepat pada tubuh Jourrel. Lengannya memeluk erat leher pria itu. Pegangan Jourrel terlepas.
__ADS_1
“Sayang!” teriak Jourrel menggema di rumah mewah itu. Jantungnya seolah ikut melompat dari dadanya.
Keduanya jatuh tepat di sebuah teras kamar yang terdapat rumput sintetic-nya. Cheryl menindih tubuh Jourrel, napas Jourrel putus-putus. Ia mendelik dan menemukan Cheryl yang tersenyum manis di bibirnya.
“Cher, kita masih hidup ‘kan? Kita nggak mati ‘kan?” tanya Jourrel tidak berani bergerak. Memutar-mutar pandangannya ke sekeliling.
Cheryl terkekeh geli melihat kepanikan di wajah Jourrel. Ia lalu beranjak duduk, menggeser tubuhnya hingga tepi pembatas balkon.
“Kita masih hidup kok,” sahutnya menatap ke pelataran rumahnya yang begitu luas.
Barulah Jourrel bernapas lega, tangannya meraba-raba wajah dan seluruh tubuhnya, kemudian beranjak dengan cepat menghampiri Cheryl dan duduk di sebelahnya.
“Cheryl! Ada apa?” teriak Tiger berlarian diikuti Leon, Rico dan juga Axel. Mereka menerobos kamar Cheryl ketika mendengar teriakan Jourrel. Khawatir terjadi sesuatu dengan mereka berdua.
Dua sejoli itu kemudian berdiri, “Enggak apa-apa, Pa. Cuma turun kilat dari lantai atas,” tutur Cheryl menaikkan jari telunjuknya ke atas.
Tiger mendongak, ia tidak mengerti maksud ucapan Cheryl. Axel langsung tanggap, ia membelalak, “Gila! Kakak lompat dari atas?” pekik Axel terkejut.
“Begitulah,” sahut Cheryl dengan santai.
“Pantas saja, Kak Jou pasti syok. Kalau Kak Cheryl sih udah biasa!” papar Axel yang mengetahui kebiasaan extreme sang kakak.
__ADS_1
Cheryl meringis, memamerkan deretan gigi putihnya. Kemudian menatap Jourrel yang memang masih tampak mengatur ritme napasnya.
“Astaga anak ajaib!” cibir Leon mengacak rambut Cheryl dengan gemas.
Tiger mengeratkan gerahamnya, menatap anak gadisnya itu tanpa berkedip. Cheryl langsung terdiam ketika manik matanya bertumbukan dengan netra sang ayah.
Ia menunduk, lalu berbalik membelakangi mereka semua. “Kalau masih mau marah mending papa keluar saja. Semuanya deh, keluar!” usir gadis cantik itu masih dalam mode merajuk.
“Ehm!” Tiger berdehem sembari menggaruk keningnya. “Papa ... minta maaf. Tidak seharusnya membentak kamu seperti itu,” aku Tiger dengan nada suara yang rendah.
“Papa nggak salah kok! Bukankah semua keputusan papa mutlak dan tidak bisa diganggu gugat?” sindir Cheryl melipat kedua lengannya di dada. Masih enggan menoleh pada ayahnya.
Jourrel menarik siku Cheryl, gadis itu menoleh, “Hargai orang yang berbicara denganmu. Apalagi orang tuamu. Jangan sampai suatu hari nanti kamu menyesal,” ucap pria itu mampu menyentak hati Cheryl.
Barulah gadis itu berbalik, menatap ayahnya dengan air mata yang mulai menggenang di kedua sudut matanya. “Maaf, pa,” gumamnya dengan tangis tertahan. Ia takut kehilangan, takut penyesalan itu tak terobati.
Anak dan ayah itu pun saling berpelukan, meminta maaf dan saling memaafkan. Jourrel lega melihatnya. Bibirnya mengembangkan senyuman lebar.
“Jourrel,” panggil Tiger membuat pria itu terkesiap. Senyum di bibirnya seketika memudar. Cheryl sendiri langsung meregangkan pelukannya. Ia menatap papanya dan Jourrel secara bergantian.
Bersambung~
__ADS_1