Pria Bayaran dan Gadis Mafia

Pria Bayaran dan Gadis Mafia
BAB 50 : INTIMIDASI


__ADS_3

Embusan angin yang menerpa permukaan kulit mereka, sama kuatnya dengan desiran darah yang mengalir dalam tubuh Cheryl, seiring dengan laju motor mereka yang begitu cepat.


Kedua tangannya mengepal kuat di atas paha Jourrel. Air matanya tak kunjung berhenti, justru semakin deras membanjiri kedua pipinya.


Jourrel yang paham apa yang dirasakan Cheryl, menggantungkan satu tangannya, mengusap lembut lutut Cheryl yang terbalut dengan celana bahannya. Ia menyetir dengan satu tangan, berusaha memberi keyakinan pada gadis itu perlahan-lahan.


Cheryl menundukkan pandangan, dadanya berdenyut nyeri melihat bagaimana perlakuan Jourrel. Ia yang tidak berpengalaman dalam percintaan, diperlakukan seperti itu membuatnya semakin gusar.


Sesampainya di rumah sakit, Jourrel segera melepas helm dan meraih tangan Cheryl. Kemudian berlari menuju IGD, yang mana Tristan sudah duduk di kursi tunggu.


"Tan! Gimnaa?" tanya Jourrel berdiri di depan Tristan masih tak sadar menggenggam lengan Cheryl.


Tristan mendongak, lalu pandangannya turun pada tangan dua sejoli itu. Jourrel yang sadar segera melepasnya. Ia menelan ludahnya dengan kasar. "Sedang ditangani!" sahutnya singkat. "Duduklah," ucapnya mengedikkan kepala.


Jourrel menyuruh Cheryl duduk di sebelah Tristan, sedangkan ia sendiri tengah mondar-mandir tak tenang. Cheryl duduk, namun manik matanya tak lepas dari setiap gerakan Jourrel.


Sedangkan dia sendiri tak luput dari tatapan Tristan. Ada sesuatu yang seakan menghimpit dada pria itu, jika memang dugaannya benar.


Di tengah kegusaran menunggu kabar sang ibu, ponsel Jourrel berdering. Ia segera meraihnya, sempat terdiam beberapa saat, ketika melihat sang penelepon. Wajahnya berubah pias. Bola matanya bergerak dan mengarah pada Cheryl yang ternyata masih setia menatapnya.


Tatapan mereka saling bertautan dalam, hingga Jourrel memutuskannya terlebih dahulu. Jourrel memalingkan muka, "Aku ... aku angkat telepon dulu," pamitnya melenggang pergi meninggalkan Cheryl dan Tristan. Ia tetap menjauh meski tak mendapat sahutan dari mereka.


Cheryl menatapnya curiga. Ia sendiri segera mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan pesan pada Rainer. "Rain, minta satu pengawal bayangan, buat awasin Jourrel. Laki-laki yang sekarang antar jemput aku. Sekarang juga ke Rumah Sakit Amarta. Awasi dari kejauhan, dia masih pakai motor yang kamu beli kemarin. Buruan! Nggak pake lama!"

__ADS_1


Tak lama, Rain pun membalas, "Hobi banget sih lu di rumah sakit, Cher. Astaga, untung bokap nyokap lagi nggak di rumah. Kirimin fotonya dong, mana tahu mereka. Motor lu pasaran, banyak yang sama. Salah orang berabe entar."


"Ishh nggak ada fotonya! Dia pakai jaket jeans biru, kaos putih, celana panjang jeans. Nanti deh kalau dia kembali. Suruh jalan aja dulu!"


"Ok, Boss. Lu nggak diapa-apain 'kan?"


"Kagak!"


Setelah mengirim pesan tersebut, Cheryl menegakkan duduknya, ia menggenggam erat ponselnya dan bibirnya masih terkatup rapat dengan mata yang tajam.


"Cher, ada apa sebenarnya?" tanya Tristan mencoba menghangatkan suasana.


Gadis itu memicingkan mata, "Sedekat apa hubungan kamu dengan Jourrel?" Cheryl justru bertanya balik dengan nada dingin.


Tristan mengernyitkan keningnya, "Ma ... Maksudmu?"


"Jawab saja! Sedekat apa kalian berdua?" desak gadis itu lagi dengan nada yang lebih tinggi.


"Kami sahabatan sudah sejak lama." aku Tristan tetap tersenyum menanggapinya.


"Berarti kamu pasti tahu, kalau Jourrel berencana akan melenyapkan nyawaku 'kan?" tandas Cheryl menyeringai tajam dan begitu dingin.


Tristan sampai bergidik melihatnya. Apalagi kini Cheryl tak berkedip menatapnya dengan penuh intimidasi, begitu tajam, kuat dan tak terkalahkan.

__ADS_1


"Atau kalian bersekongkol?" cecar gadis itu lagi.


Panik pun mulai melanda lelaki itu. Intimidasi Cheryl kali ini benar-benar membuatnya tersentak kaget. Derap jantungnya berlarian entah ke mana.


"Bu ... bukan begitu, Cher," sanggah Tristan menggerakkan kedua lengannya di depan dada.


"Lalu?" Cheryl mendongak, menuntut jawaban dari pria Tristan.


Sedangkan di sisi lain, Jourrel berada di toilet setelah sebelumnya menoleh ke sekiling dan memastikan tempatnya aman.


"Ya!" sahut Jourrel setelah mengangkatnya.


"Mr. J! Berapa lama lagi aku harus menunggu, hah? Sudah meminta bayaran tinggi tapi kerjanya tidak becus! Kau sudah menandatangani kontrak itu! Atau kau tahu sendiri akibatnya!" sentak sebuah suara bariton di ujung telepon.


Jourrel terdiam, berkali-kali menelan salivanya sembari mengatur napas. "Saya ingin bertemu dengan Anda. Atur pertemuan secepatnya!" sahut Jourrel dengan suara tegas.


"Aku mau pertemuan kita membawakan hasil! Jangan hanya membawa kabar burung. Sore nanti aku tunggu di perusahaan!" geram Reno lalu menutup panggilannya.


Bersambung~


Nungguin ya? 😚 Makasih loh yang bolak balik ngecek..hehee


Maap ya, kemarin tuh udah ngetik, tapi karena lemot aku cek update versi. Pas udah update ehhh naskahnya ilang, nggak ke upload... Auto ngambek 🤣🤣 terus liat komen eeh ada yang nunggu, yaudah coba bangun lagi moodnyaa...

__ADS_1


Lope you seluas samudera gaeess ,😘


__ADS_2