
Hening, tidak ada satu pun dari mereka yang berani bersuara. Hanya desir angin dan daun kering yang berserak, menemani ketegangan mereka siang itu.
Deru napas Cheryl berembus dengan sangat kasar. Netranya yang penuh air mata sama sekali tak berkedip, menyorot dengan berani manik tajam sang ayah. Dadanya bertalu dengan sangat kuat.
“Minggir! Papa sudah melihat semua rekaman dari mobilmu! Pantasnya dia dilempar ke penangkaran singa karena beraninya membuatmu celaka!” geram Tiger dengan ekspresi dingin dan bengis. Gemeletuk giginya terdengar begitu jelas.
Cheryl menggeleng dengan cepat, semakin merapatkan tubuhnya pada Jourrel. “Itu dulu, Pa ....” Ucapannya terhenti karena Tiger menyela.
“Tidak peduli dulu atau sekarang!” bentak Tiger tepat di wajah Cheryl. Gadis itu sampai memejamkan mata, hingga kedua pipinya basah dengan derasnya air mata yang berjatuhan.
“Di mata papa, semua sama saja. Tidak ada pengampunan bagi siapa saja yang berani menyakiti keluarga kita!” sambung pria itu dengan suara lantang.
“Silakan, Tuan. Saya siap menerima hukuman. Saya minta maaf yang sebesar-besarnya. Cheryl, menyingkirlah,” ucap Jourrel menyerahkan diri.
Cheryl memutar pandangannya, masih dalam posisi yang sama. “Diam! Setiap orang pasti punya kesalahan. Dan kamu sudah membayar dengan nyawamu, sebelumnya! Tolong jangan seperti ini. Ibu menunggumu Jourrel!” teriak Cheryl frustasi dalam deraian air mata.
Rico yang sudah merasa lebih baik segera berlari, apalagi melihat nonanya ditodong senjata ayahnya sendiri. Bersamaan Leon yang melangkah mendekati mereka semua.
“Tuan! Tuan! Tidak! Jangan!” ucapnya panik, dengan lancang menyingkirkan lengan Tiger dan berdiri di depan Cheryl.
"Kau?!" Tiger semakin menggeram marah. Dia beralih menodongkan senjatanya tepat di wajah Rico. Berani-beraninya Rico melawannya.
__ADS_1
Ah bukankah dari dulu Rico memang selalu melawannya, demi melindungi Jihan? Meski kini napasnya tersengal-sengal, debaran jantungnya sudah berantakan.
“Uncle!” lirih Cheryl terharu dengan pengawalnya itu.
Sedangkan Leon yang berjalan tenang kini berhenti di belakang Tiger. Lalu meletakkan moncong pistolnya di kepala belakang Tiger. “Hei! Kamu memang terlalu kaku! Coba lihat putri kesayangan kita. Hemm ... sepertinya kita harus mengadakan sidang di meja bundar. Turunkan itu senjatamu!” perintah Leon dengan santai namun menuntut.
Tiger melirik dengan ekor matanya, Leon mengedikkan kepala sebagai isyarat agar segera menurunkan pistol di tangannya.
“Cheryl! Ikut mobil Om Papa saja! Takutnya papamu menggila,” sindir Leon setelah Tiger menurunkan lengannya perlahan.
“Sama Jourrel ya, Om papa!” pinta Cheryl ingin berteriak atas pembelaan pamannya itu.
Leon menaikkan sebelah alisnya, “Ya!” gumamnya memutar tubuh.
“Bisa-bisa, om papa nanti yang dibunuh aunty mama mu, kalau kamu kenapa-napa!” celetuk Leon mencium kening Cheryl.
Barulah gadis itu bisa mengurai tawa, meski masih menitikkan air mata. “Lepasin dulu itu borgolnya, Om!” pinta Cheryl menunjuk lengan Jourrel.
“Kau selalu saja memanjakannya! Aku tunggu di rumah!” seru Tiger masih dengan emosinya yang membuncah. Lalu melangkah cepat menuju mobilnya.
Cheryl hanya menatap punggung papanya sampai memasuki mobil. Lalu melajukannya dengan kecepatan yang sangat tinggi.
__ADS_1
“Tenang saja! Om papa di depanmu!” ucapnya menepuk-nepuk puncak kepala Cheryl. Leon beralih menatap Jourrel. “Hei, kau! Kalau memang cinta ya kejar, perjuangkan. Jangan malah pasrah gitu aja! Kali ini saya maklumi. Tapi tidak ada kata lain kali!” tandasnya dengan tatapan tajam.
Jourrel menelan salivanya gugup. Perasaannya campur aduk, tegang, gugup, takut, haru dan bahagia bercampur aduk menjadi satu. Bibirnya bergetar karena bingung mengungkapkan apa yang ia rasa.
“Lepaskan borgolnya!” perintah Leon pada anak buahnya.
Semua tim kembali menurunkan senjata, lalu satu orang segera maju untuk melepas besi yang melilit di lengan Jourrel.
Rico mengembuskan napas lega. Menyeka peluh yang membanjiri wajahnya. Sedari tadi begitu tegang sampai hampir kehabisan napas.
Leon kini berjalan ke arahnya. Rico membungkuk hormat pada tuannya itu. Dalam hati menebak-nebak, apa yang akan dilakukan Leon padanya.
“Bawa mobil Cheryl ke rumah! Kamu juga harus ikut!” ucap Leon menepuk bahu Rico.
“Baik, Tuan!” sahutnya kembali menegakkan punggungnya, hatinya kembali lega karena tak perlu merasa di ambang nyawa seperti ketika Cheryl menyetirnya.
Cheryl dan Jourrel saling bertatapan lekat, dua pasang netra itu berlapis cairan bening hingga memudarkan pandangannya.
Perlahan, Jourrel melangkahkan kakinya, mengikis jarak di antara mereka berdua. Jourrel menangkup kedua pipi Cheryl. Bibirnya masih terkatup rapat, hanya sorot mata penuh cinta mereka yang saling berbicara. Hampir mendekatkan wajahnya pada Cheryl, terhenti dengan sebuah senjata yang menempel di kepala Jourrel.
"Jangan macam-macam! Siapkan alasan yang masuk akal dan bisa diterima!" ancam Leon membuatnya kembali bergidik.
__ADS_1
Bersambung~