Pria Bayaran dan Gadis Mafia

Pria Bayaran dan Gadis Mafia
BAB 27 : AKAR MASALAH


__ADS_3

Jourrel terdiam, tubuhnya terhuyung mundur beberapa langkah hingga bersandar pada dinding pembatas. Tubuhnya merosot, terduduk di lintasan balap. Tak peduli panas yang mulai terasa. Pandangannya sayu, lurus ke depan.


Tristan masih menggeram dengan kemarahannya. Kepalan tangannya tak mengendur sedikit pun. Giginya terdengar bergemeletuk.


"Inget nggak, dulu aku pernah cerita, waktu masih kelas tujuh, rumahku pernah dirampok sampai bokap meninggal? Dan yang diambil bukan duit, bukan emas, melainkan semua surat-surat berharga, surat perusahaan, surat kepemilikan harta gono gini bokap." Jourrel mulai membuka suara.


Jourrel mendongak, tiba-tiba air matanya meleleh di kedua pipinya. Sesak dadanya ketika harus membuka kembali luka itu. Tenggorokannya tercekat, ia menelan saliva dengan berat.


"Hingga suatu hari, ada pengacara yang mengusirku sama ibu dari rumah. Katanya semua harta gono gini sudah bukan milik orang tuaku. Aku yang masih ingusan nggak ngerti apa-apa, diajak pindah sampai luar pulau gini nurut aja. Kami hidup seadanya. Ibu kerja keras setiap hari."


Senyum getir terulas dari bibir Jourrel yang bergetar. "Sejak lulus SMA, aku mulai paham, kalau di balik perampokan di rumah itu, ada dalangnya."

__ADS_1


Jourrel menarik napas sejenak, "Aku nggak sengaja ketemu sama konglomerat yang mau dibunuh orang. Aku bisa nyelametin dia. Karena sejak kecil aku selalu ikut latihan bela diri. Sebagai imbalan, aku dikasih uang banyak banget."


Tatapan Tristan perlahan melembut, cengkeraman di tangannya memudar. Ia turut duduk di samping Jourrel, tanpa memotong ceritanya.


"Sejak saat itu, aku diperkenalkan dengan orang-orang kalangan atas. Mereka menggunakan jasaku untuk membunuh seseorang, tanpa harus melibatkan mereka dan menaruh rasa curiga. Mungkin karena wajahku terlampau polos," ucapnya percaya diri.


"Aku ingin mengumpulkan banyak uang, agar bisa kembali pulang dan merebut kembali apa yang menjadi hakku dan ibuku. Ditambah, ibu sedang sakit keras. Tidak ada pekerjaan yang bisa mendapat bayaran sebesar itu dalam waktu singkat," cerita Jourrel yang kini menoleh pada sahabatnya.


Mulutnya menganga, ia menoleh dengan mata memburam karena air mata. "Jadi ... kamu ...."


Jourrel pun menoleh, kini mereka saling bertatapan. Bibirnya berusaha tersenyum walau air mata terus berjatuhan. "Ya, aku seorang pembunuh bayaran! Selama ini kamu bersahabat dengan bajingan, berandalan dan tidak punya hati!"

__ADS_1


Tubuhnya meringkuk, memeluk kedua lutut dan menyembunyikan mukanya di sana. "Ada seseorang yang memerintahku untuk menghabisi nyawa Cheryl. Jauh sebelum aku mengenalnya, dan sebelum aku tahu siapa dia sebenarnya. Tetapi sekarang, aku berjanji tidak akan menyakitinya lagi."


Jourrel beranjak dari duduknya, ia berdiri membelakangi Tristan, namun sedikit menoleh. "Maaf. Aku sudah mengakui semuanya. Sekarang, aku akan pergi. Jaga Cheryl dengan baik. Dan aku percaya, kamu bisa menjaga rahasia ini. Kalaupun setelah ini kamu ingin menjauhiku, memusuhiku, aku terima."


Kakinya melangkah dengan perlahan, semakin membuat jarak dengan Tristan. Syok? Tentu saja. Tristan sangat terkejut dengan semua pengakuan Jourrel yang baru ia ketahui itu. Ia hanya menatap punggung Jourrel yang biasanya terlihat tegap, kali ini tampak merosot.


Tristan menyeka air matanya. Ia menatap kondisi mobil Cheryl dan motor Jourrel bergantian. Kemudian segera berdiri kembali ke mobilnya. Melajukannya dengan cepat hingga berhenti melintang di hadapan Jourrel.


Sontak, kaki Jourrel pun terhenti. Mata mereka saling menatap lekat ketika Tristan membuka jendela mobilnya. Jourrel mengangguk sedikit, lalu mundur dan berbalik arah.


"Tunggu!" ucap Tristan yang lagi-lagi membuatnya berhenti.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2