Pria Bayaran dan Gadis Mafia

Pria Bayaran dan Gadis Mafia
BAB 76 : TIDAK ADA WAKTU LAGI!


__ADS_3

“Halo!” Sapa Tiger ketika Leon meneleponnya, tanpa memberi jeda terlalu lama.


“Bagaimana kamu menjaga Cheryl selama ini, hah? Kamu membiarkan dia dalam bahaya! Bahkan membiarkan pelakunya berkeliaran dan masih bernapas!” sentak Leon pada kakaknya itu.


Kening Tiger mengernyit, ia sendiri baru saja tiba di Jakarta siang itu. “Apa maksudmu Leon?” tanya Tiger tidak mengerti.


“Aku sedang bersama Jourrel Alvaro, pria yang sudah berulang kali melakukan percobaan pembunuhan pada Cheryl. Mau aku yang eksekusi sendiri, atau kamu ikut juga?” tawar Leon menyeringai.


Tiger terdiam sejenak, memikirkan siapa orang yang dimaksud Leon. Akan tetapi sudah tidak ada waktu lagi. “Di mana kamu? Aku segera menyusul!” ujar Tiger dengan cepat.


“Perjalanan ke bandara,” sahut Leon menatap pergelangan tangannya. “Sepuluh menit lagi sampai!” sambungnya.


“Tunggu di sana!” Tiger segera mematikan sambungan telepon mereka dan melaju ke bandara.


Sementara itu, Rico yang tengah menyetir tiba-tiba menghentikan mobilnya mendadak. tubuh Cheryl sampai terhuyung ke depan.


“Uncle! Hati-hati dong!” pekik Cheryl bersamaan mengangkat panggilan dari Tristan. Mereka saling beradu pandang sekilas, wajah Rico tampak pucat. Cheryl sendiri menegakkan duduk dan memalingkan pandangannya.


“Ada apa, Tris?” tanya Cheryl setelah menempelkan kembali ponsel ke telinganya.


“Cheryl, gawat! Jourrel ....”


“Aku tidak mau denger apa pun lagi mengenai dia!” tegas Cheryl memotong ucapan Tristan.

__ADS_1


“Tunggu, Cher! Jourrel dalam bahaya. Dia dibawa rombongan pasukan khusus. Sekilas aku baca pada pakaiannya, mereka dari anggota SSG. Bahkan mereka semua menggiring Jourrel sambil menodongkan senjata! Cher, kamu satu-satunya orang yang bisa membantuku. Kalau kamu membenci Jourrel, setidaknya lakukan demi Ibu Dina. Beliau lumpuh, separuh tubuhnya tidak bisa digerakkan karena  terkena struk ringan,” papar Tristan panjang lebar karena takut Cheryl buru-buru mematikan ponselnya.


“DEG!”


Tubuh Cheryl bergetar, seperti baru terkena sambaran petir. Dia mencoba menarik napas yang mulai menderu kasar. Mencerna setiap kata yang terucap dari bibir Tristan.


“A ... apa? SSG? Kamu nggak salah lihat? Dan apa kamu bilang? Ibu lumpuh?” tanya Cheryl mengulang ucapan Tristan untuk memastikan.


“Iya, Cher. Aku khawatir mereka akan membunuh Jourrel.”


Cheryl menutup mulutnya yang menganga, dadanya sesak diiringi air mata yang mulai menggenang di kedua sudut matanya. "Om papa!" gumamnya terkejut.


“Ka ... kapan kejadiannya?” tanya Cheryl di tengah rasa paniknya.


Tanpa menjawab apa pun lagi, Cheryl mematikan teleponnya. Ia menoleh pada Rico dengan mata berkaca-kaca.


“Nona!”


“Uncle!”


Mereka memanggil bersamaan.


“Nona, gawat! Tuan Leon menangkap Jourrel. Dan sekarang sedang menuju ke bandara. Bahkan beliau sudah menghubungi Tuan Tiger juga untuk eksekusi!" lapor Rico dengan jantung bertalu kuat.

__ADS_1


Ia bisa mendengar suara Leon, karena Leon sedang menggunakan jaringan yang bisa terhubung pada semua anak buahnya. Sedangkan Rico, walaupun tidak bekerja secara langsung pada Leon, dia tetap masih menjadi anggota Leon juga.


“Ya Tuhan! Uncle pindah sekarang juga!” teriak Cheryl tidak sabar.


Gadis itu melepas seatbeltnya. Rico mengerti, ia segera turun dan bertukar posisi dengan Cheryl. Gadis itu melangkahkan kaki ke kursi sebelah. Duduk tegak di balik kemudi. Seatbelt terpasang rapat, ia menoleh pada Rico yang sedang bersiap dan tampak mengatur napasnya.


“Maaf ya, Unle!” ujar Cheryl sebelum mulai menginjak pedal gas kuat-kuat.


Tanpa peduli kondisi jalan raya yang begitu padat, Cheryl tetap mengemudi dengan kecepatan tinggi. Ia terus bergerak ke kiri, kanan, untuk mencari celah agar mobilnya bisa menyalip semua kendaraan yang ada di jalan tersebut.


Rico tidak berani membuka matanya, merasakan kecepatan yang begitu tinggi apalagi di jalan yang ramai, benar-benar membuatnya pasrah jika memang ini hari terkhirnya.


Melewati lampu merah di perempatan, Cheryl menoleh ke kiri, kanan dan depan. Ia semakin memperdalam pedal gas, menerobos lampu merah. Tak peduli polisi yang kini mulai mengejarnya.


“Nona! Apakah polisi mengejar kita?” seru Rico yang seluruh tubuhnya bergetar. Masih memejamkan mata kuat, dan tangannya berpegangan begitu erat.


Terdengar peringatan dari polisi agar mobil Cheryl segera menepi. Cheryl bergeming, masih berkonsentrasi  penuh untuk mencari celah-celah jalan, meski sangat sempit sekalipun. Dia tidak ingin membuang-buang waktu.


“Semoga tidak terlambat!” ucap Cheryl dalam tangisnya. Ketakutan dan kekhawatiran menyergap seluruh tubuhnya.


 


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2