Pria Bayaran dan Gadis Mafia

Pria Bayaran dan Gadis Mafia
BAB 104 : FINAL EPISODE


__ADS_3

Menjelang malam pesta pernikahan telah usai. Semua kembali ke penginapan masing-masing. Jika ada para tamu yang ingin jalan-jalan, tetap menggunakan fasilitas yang disediakan.


Semua keluarga besar sebastian telah pulang. Cheryl dan Jourrel diiring ke hotel bintang lima milik Leon. Sebuah ruang VIP sudah disiapkan untuk pengantin baru itu. Dan kini mereka diiring oleh club Extraordinary Riders. Mobil-mobil mewah yang terbuka atapnya mengular di sepanjang jalan.


Cheryl yang menyetir mobil pengantin, tidak kesulitan meski masih mengenakan gaun pengantin. Semua tim berseru menyanyikan yel yel club mereka, disambung lagu selamat ulang tahun untuk Cheryl.


Tentu saja hal itu menarik perhatian setiap orang di jalan. Akan tetapi mereka abai saja. Tetap berteriak dengan kompak, sesekali menekan klakson mereka.


“Kamu seperti ratu mereka, Sayang. Sampai segitunya,” keluh Jourrel menoleh ke belakang.


“Begitulah!” sahut Cheryl tertawa lebar. “Tenang aja, mereka selalu menghargaiku! Pastinya menghargai kamu juga sebagai suamiku,” sambungnya mencuri kecupan singkat di pipi Jourrel. Lalu kembali fokus ke jalan.


Jourrel terperanjat, menahan senyumannya. ‘Mancing-mancing mulu! Awas aja nanti!’ batin Jourrel mulai berpikiran liar.


\=\=\=\=000\=\=\=\=


Sesampainya di pelataran hotel, Cheryl turun dan menyerahkan kunci pada petugas. Jou membantu memegang gaun Cheryl. Perempuan itu menghampiri teman-temannya.


“Guys! Di hotel ini kalian bebas mau ngapain aja. Gratis, karena semua udah dibooking. Mau ke kelab, karaoke, makan sepuasnya gratis ya. Nggak usah sungkan. Kalau mau jalan-jalan juga bebas, tunjukin aja kartu undangan kalian biar gratis kalau mau kemanapun. Thanks banget semua udah hadir. Aku tinggal ya!” pamit Cheryl melambaikan tangan.


Semua tentu saja bersorak kegirangan, bersiul bahkan ada yang berteriak ‘I love you, my queen!’ Tetapi langsung bungkam ketika melihat tatapan tajam Jourrel.


\=\=\=\=000\=\=\=\=


Setelah membersihkan diri, Jourrel menepuk ranjang di sebelahnya saat melihat Cheryl sudah keluar dari kamar mandi. Hanya berbalut handuk kimono dan handuk kecil di rambutnya. “Sini!”


“Mau ganti baju dulu, Sayang!” elak Cheryl ingin melarikan diri.


Namun dengan cepat Jourrel melompat dari ranjang dan menangkap tubuh mungil istrinya. Cheryl memekik, ketika tubuhnya melayang di udara lalu diletakkan perlahan di atas ranjang. Jourrel berada tepat di atas tubuhnya.


“Tidak usah pakai baju,” bisik Jourrel membelai pipi Cheryl yang mulai memerah.


Cheryl menjadi gugup. Padahal biasanya ia yang agresif. Tetapi saat ini, seperti mati kutu. Tubuhnya meremang berada sedekat itu dengan pria yang kini sudah menjadi suaminya. Dadanya bertalu dengan kuat.


“Aduh, sayang. Aku mules,” ujar Cheryl mendorong dada suaminya.


Jourrel terpaksa berguling dan menyingkir dari tubuh istrinya. Membiarkan Cheryl beranjak ke kamar mandi lagi. Setelah beberapa saat, Cheryl kembali dan Jourrel ingin memulainya lagi. Namun lagi-lagi Cheryl harus izin ke toilet. Dengan alasan ingin buang air kecil. Jourrel mendesah kasar. Mengacak-acak rambutnya kesal.


Begitulah yang terjadi, Cheryl diserang panik luar biasa. Hingga harus berkali-kali ke toilet untuk menyingkirkan kegugupannya.

__ADS_1


Setelah beberapa kali, Cheryl menemukan Jourrel sudah tertidur dengan posisi tengkurap. Cheryl merasa bersalah. Ia langsung mengganti pakaiannya dengan cepat lalu merebahkan tubuhnya di samping Jourrel dengan sangat hati-hati.


Tiba-tiba lengan Jourrel menindih perutnya. Cheryl menahan napas sesaat. Jourrel kembali membuka matanya. “Kamu belum siap ya?” gumamnya bersuara parau. Lalu tersenyum dan membelai bibir Cheryl yang terbuka sedikit.


“Enggak apa-apa, kita bisa lakukan lain kali kalau kamu sudah siap,” ujar Jourrel hendak menyingkirkan lengannya dari tubuh Cheryl.


Namun dengan cepat Cheryl menahannya. “Enggak! Aku siap kok!” ucapnya mantap. Mau besok atau sekarang semua sama saja.


“Yakin?” tanya Jourrel memastikan.


Cheryl megangguk menarik telapak tangan Jourrel ke bibirnya lalu menciumnya. Jourrel langsung bersemangat, matanya yang sempat mengantuk seperti full charge.


Dan malam itu menjadi malam yang bersejarah bagi pasangan pengantin baru itu. Dengan susah payah dan kerja keras, akhirnya Jourrel mampu merenggut kegadisan perempuan yang kini berada di bawahnya.


(Bisa dibayangin sendiri ygy... Udah pinter semua kok ya kan 😂😂)


\=\=\=\=000\=\=\=\=


Tiga hari kemudian, Jou dan Cheryl baru keluar dari hotel dengan wajah berseri-seri. Kali ini Jourrel yang menyetir. Jika saja tidak ada panggilan dari Tiger, tentu saja mereka enggan keluar dari hotel. Masih ingin menikmati waktu berdua saja tanpa pengganggu apa pun.


Mereka tiba di markas Klan Blackstone. Jourrel terpaku melihat bangunan megah yang luar biasa canggih itu. Cheryl langsung memimpin jalan menuju penjara bawah tanah.


Pria itu berdiri di depan ruangan sempit dan lembap, menatap dua manusia yang akan mereka eksekusi.


“Tadinya papa sudah nggak sabar. Tapi papa sudah janji,” ucap Tiger menyodorkan sebuah revolver canggih ke tangan Cheryl. Tentu saja gadis itu dengan senang hati menerimanya.


“Of course! Thanks, Pa. Papa emang the best. Selalu nepatin janji,” puji Cheryl mengarahkan senjatanya tepat ke dada Gevano.


“Hai, Tuan. Lama tidak berjumpa. Ingin menyampaikan pesan terakhir? Ah tidak ya?” Cheryl langsung melesatkan beberapa tembakan ke arah dada pria itu, tanpa menunggu jawaban apa pun. Seketika tubuh pria itu ambruk dengan beberapa lubang di dadanya.


“Wow! Ini korban pertamamu, ya! Keren!” puji Tiger menepuk puncak kepala Cheryl.


Jourrel mendelik melihatnya. Meski dia sendiri yang mengajari Cheryl, namun tak menyangka jika perempuan itu berani melakukannya.


“Satu lagi mana, Pa?” tanya Cheryl antusias.


“Di sudut sana!” tunjuk Tiger dengan jari telunjuknya.


Cheryl bergegas ke sana bersama Jourrel. Reno mendelik saat menatap kedatangan mereka berdua. Lalu beranjak ke pintu besi dan menjulurkan tangannya.

__ADS_1


“Kurang ajar! Dasar pengkhianat! Harusnya kamu mati!” teriak Reno pada Jourrel yang menatapnya dingin.


“Mulai sekarang, tidak ada yang boleh menyentuh istriku!” sahut Jourrel dengan dingin lalu merebut senjata api di tangan Cheryl dan menarik pelatuk tepat di kepala Reno, ditambah lagi pada jantung pria tua itu hingga tergeletak tak berdaya.


Cheryl memeluk suaminya yang masih mengatur napas. Jourrel menatapnya dengan serius. “Jadi, ayah kamu adalah mafia?” tanya Jourrel bersuara pelan. Cheryl mengangguk dengan sebuah senyuman.


Selama ini Jourrel sudah curiga. Akan tetapi ia tidak berani menduga-duga. Mungkin jika dia masih bertekad membunuh Cheryl, justru ia lah yang akan tinggal nama.


“Kenapa?”


“Enggak apa-apa, Sayang. Aku tetap mencintaimu. Tidak peduli siapa pun kamu dan keluargamu!” ucap Jourrel mencium kening Cheryl bertubi-tubi.


“Hei! Kalian!” teriak Tiger mengejutkan mereka berdua. Cheryl dan Jourrel menoleh serentak. “Jangan membuat papa kangen sama mama!” serunya dengan nada serius.


Tawa memekik dari pengantin baru itu. Mereka berdua menghampiri Tiger lalu memeluk pria itu dari kedua sisi.


“Jou, perusahaanmu harus dirombak total. Jika kamu tidak keberatan, nanti papa akan membimbingmu sekaligus memberi suntikan dana jika memang diperlukan. Ah kalau perlu semua orangnya harus diganti. Takutnya akan menjadi pengkhianat!” papar Tiger menawarkan diri.


“Saya percayakan sepenuhnya sama papa. Saya harus banyak belajar dari papa dan mungkin Cheryl juga,” sahut Jourrel bernapas lega. Setidaknya ada yang akan membimbingnya, karena Jourrel belum pernah memiliki pengalaman apa pun dalam mengelola perusahaan.


“Baiklah! Sekarang kita harus pulang. Mamamu ngomel terus karena kamu nggak pulang-pulang!” sambar Tiger merengkuh kedua anaknya keluar dari markas, menuju rumah utama.


\=\=\=\=000\=\=\=\=


“Masih inget jalan ke rumah kamu?” sambut Jihan dengan ketus ketika melihat kedatangan Cheryl bersama suaminya.


Cheryl terkekeh, memeluk mamanya dengan sangat erat. “Maaf, Ma!” ucapnya mencium pipi mamanya.


“Mama kangen tau!” balas Jihan melembut dan memeluk putrinya dengan sangat erat. “Ayo masuk! Mama sudah masak banyak banget buat kalian. Jou, ayo masuk!” ajak Jihan.


“Iya, Ma!” sahutnya mengekori dua wanita yang saling berbisik lalu tertawa terbahak-bahak. Entah apa yang mereka bicarakan, para pria hanya mengedikkan bahu sambil tertawa, tertular tawa dari para wanita kesayangan mereka.


 


...\=\=\=\= T a m a T \=\=\=\=...


Big thanks and big hugs for all support 🥰💜 love you sejagat antariksa 😅


__ADS_1


__ADS_2