
Cheryl menepis tangan Jourrel sedikit kasar, tatapannya berubah tajam. "Iih apaan sih sentuh-sentuh!" ucapnya ketus.
Jourrel mendengkus, ia sendiri tidak tahu kenapa harus melakukan gerakan refleks seperti itu. Jourrel menggaruk belakang kepalanya yang mendadak gatal. "Ya, itu ... maksudnya, jangan bicara sembarangan!" ucapnya gagu.
Cheryl hanya memutar bola matanya malas. Kemudian menoleh sekeliling seperti tengah mencari-cari sesuatu.
"Cari apa?" tanya Jourrel penasaran.
"Tombol nurse call-nya di mana sih?" gumamnya berdecak kesal.
Jourrel mengerutkan keningnya, "Emang kenapa?" Ia maju dua langkah hingga kini tepat berada di sisi ranjang. Satu lengannya menjulur ke belakang tubuh Cheryl, kemudian menekan tombol yang dicari-cari sedari tadi.
Tatapannya menunduk pada perempuan itu. Jarak yang tercipta begitu dekat. Bahkan ketika Cheryl mendongak, ia dapat merasakan embusan napas hangat lelaki itu.
"Iih, apaan sih mepet-mepet!" kesal Cheryl mendorong dada Jourrel.
Bukannya kesal, pria itu hanya tertawa kecil. Ia mundur sedikit. "Cuma nekan tombol. Tuh di belakang kamu," ucapnya menunjuk dengan dagunya.
"Bilang dong!" balas Cheryl dengan ketus.
"Kamu itu habis kecelakaan masih sama aja ketusnya," cibir Jourrel namun hanya ditanggapi tatapan tajam dari gadis itu.
__ADS_1
Selang beberapa menit, dokter dan dua perawat memasuki ruangan. Cheryl langsung menegakkan duduknya dan menatap kedatangan tim medis.
"Dok, aku boleh pulang 'kan? Sus, tolong lepasin ini. Ribet banget dipakein ginian segala," cetus Cheryl menunjuk infus dan selang oksigen yang menempel di hidungnya.
Para tim medis mengernyit heran, mereka saling pandang kemudian dokter segera mendekat. "Biar saya periksa dulu, Nona," ucap dokter tersebut.
"Aku udah sehat, Dok!" elak Cheryl.
"Berisik banget. Nurut aja kenapa sih? Tidur!" ucap Jourrel dengan tatapan intimidasi.
Perlahan Cheryl kembali merebahkan tubuhnya dibantu oleh Jourrel. Entah kenapa ia menurut begitu saja. Mungkin karena banyak yang memperhatikannya, tidak mau mendebat hal-hal yang tidak penting.
"Silakan, Dok!" ucap Jourrel, ia kembali mundur untuk memberikan ruang dan waktu bagi dokter melakukan tugasnya.
Tentu, karena mobil yang dimilikinya memiliki standar keamanan yang tinggi. Sang ayah sudah mempersiapkannya jauh sebelum Cheryl bisa berkendara. Meski sempat mengalami syok, itu bisa diatasi dengan mudah oleh Cheryl. Ia bukan gadis yang lemah.
"Baik, karena tidak ada kondisi yang mengkhawatirkan, Anda diperbolehkan untuk pulang hari ini juga, Nona. Tetapi saran saya, tunggu sampai cairan infusnya habis." Dokter menoleh pada suster di sebelahnya, "Tolong percepat, Sus!" pintanya.
"Baik, Dok." Suster mengangguk patuh kemudian mempercepat laju tetes infusnya agar lekas habis.
"Kalau begitu, kami permisi, Nona. Tuan, silakan menyelesaikan administrasinya," ucap sang dokter yang seketika diangguki oleh Jourrel.
__ADS_1
"Baik, terima kasih, Dok," balas pria itu dengan ramah.
Setelah kepergian para tim medis, Cheryl berdecak kesal. Ia meraih telepon untuk menghubungi assistennya. Tanpa menunggu lama, telepon pun tersambung.
"Rain, please cariin motor matic. Apa aja merknya terserah. Langsung anter ke rumah sakit...." Cheryl menoleh mencari tahu keberadaannya.
"Hadi Kusuma!" sambung Jourrel yang mengerti kebingungan Cheryl.
"Rumah Sakit Hadikusuma. Nggak pake lama!" cecar Cheryl.
"Tunggu-tunggu! Belum juga salam sapa udah nyerocos dari tadi. Ini motor buat siapa? Terus ngapain kamu di rumah sakit? Abis nabrak orang?" tebak Rainer di balik telepon. Ia mengira atasannya itu habis menabrak orang dan berniat bertanggung jawab.
"Udah deh, jangan banyak tanya. Pokoknya dateng ke sini dan bawa motornya! Kalau sampai lewat satu jam, aku potong gajimu!" ancam Cheryl.
"Busset! Iya oke, iya. Tunggu, Yang Mulia. Pesanan segera datang," jawab Rainer dengan pasrah.
Jourrel menautkan sepasang alisnya. Sedari tadi ia memperhatikan setiap ucapan Cheryl. Bahkan enggan berkedip menatap wajah cantik itu.
Usai menelepon Rain, ia meletakkan ponselnya dengan kasar. Tanpa sengaja kembali mengangkat pandangan hingga netranya saling bertumbukan dengan Jourrel. "Apa, lihat-lihat?"
"Sepertinya pengaruh obatnya habis. Udah nggak mempan lagi dan kembali ke mode galak," gumam Jourrel pelan.
__ADS_1
Bersambung~