Pria Bayaran dan Gadis Mafia

Pria Bayaran dan Gadis Mafia
BAB 95 : SESUAI RENCANA


__ADS_3

Lain halnya di Perusahaan Greenlight, perusahaan yang dikelola oleh Bonar dan jajarannya.


Pagi-pagi sekali sejak mulai beroperasi, puluhan bahkan mungkin ratusan orang tak dikenal berpakaian rapi, elegan dan serba hitam, dengan berbagai senjata di tangannya kini tengah memenuhi lingkup perusahaan.


Sebagian turun dari helikopter, di rooftop perusahaan tersebut dan serentak langsung menuju ke ruang presdir.


Derap langkah kaki serentak yang menggema, tentu saja mengejutkan semua karyawan di sana. Akan tetapi todongan senjata mereka membuat para karyawan tak berkutik, baik pria maupun wanita. Mereka langsung berjongkok sembari meletakkan kedua tangan di belakang kepala.


“Kumpulkan semuanya dalam satu ruangan! Termasuk tim kemananan!” perintah Bian, sang pemimpin, melalui alat yang tersambung pada semua anggota klan Black Stone, klan mafia yang dipimpin oleh Tiger.


Seorang karyawan yang duduk paling belakang, menjulurkan tangan perlahan hendak menekan tombol alarm emergency. Bian yang melihatnya hanya tersenyum miring, karena ia tahu semua jaringan alarm dan CCTV sudah diretas oleh Leon beserta tim SSG.


Panik karena tak terdengar apa pun, ia kembali menatap ke depan. Namun membelalak dengan napas tertahan, karena moncong senjata laras panjang tepat berada di keningnya.


“Kau mau mati?” seru Bian dengan suara baritonnya. “Percuma! Semua jaringan telepon mati. Termasuk CCTV! Jadi, jangan coba-coba bergerak!” tegas Bian.


“Ti—tidak, Tuan! Ampun! Ampuni saya!” sahut karyawan itu bersujud di kaki Bian.


Dengan cepat Bian menendangnya hingga terjengkang. Kemudian beralih lagi ke depan lalu menembak tombol alarm yang ada di dinding ruangan itu. Semua orang memekik sembari menutup telinganya karena terkejut.


“Jangan ada yang berani macam-macam! Atau kalau tidak aku ledakkan kepala kalian detik ini juga!” berang Bian tidak main-main.


“Tunjukkan semua berkas-berkas perusahaan. Semuanya! Baik legal, illegal, kepemilikan, keuangan, semua laporan yang berkaitan dengan perusahaan ini!” perintah Bian mengedarkan pandangannya.

__ADS_1


Tidak ada satu pun dari mereka yang angkat bicara. Mereka menundukkan kepala dalam-dalam. Lalu sebuah tembakan dilesatkan lagi oleh Bian ke langit-langit ruangan luas tersebut.


“Cepat! Siapa penanggung jawabnya!” sentak Bian bersuara lantang.


Mereka lalu menunjuk dua orang dan meminta agar segera maju. Dari pada nyawa mereka melayang sia-sia. Hingga dua lelaki paruh baya kini beranjak penuh ketakutan. Bian menggiringnya dengan todongan senjata, semua anak buahnya masih stan by di posisi, melingkar ketat pada sekumpulan karyawan perusahaan tersebut.


Ya, Cheryl sudah menyiapkan segalanya. Ketika ia mengatur pertemuan, disitulah klan sang ayah bertindak. Cheryl juga meminta fake meeting dengan beberapa bawahannya di tempat yang berbeda, untuk mengulur waktu Bonar agar tidak datang ke perusahaan selama seharian ini nanti.


\=\=\=\=000\=\=\=\=


Dentuman di dada Jourrel meledak-ledak, namun kelembutan Cheryl mampu meluluhkannya. Jourrel mengatur napasnya seperti anjuran Cheryl. Senjata terlepas dari tangannya. Lalu beralih memeluk Cheryl begitu erat. Matanya terpejam, merasakan kehangatan dan ketulusan Cheryl.


Tubuh lelaki itu bergetar dalam dekapan Cheryl, meski tidak mengerti permasalahannya, Cheryl menepuk bahu pria itu dengan perlahan. Seperti seorang ibu yang sedang menenangkan anaknya. Hingga ketegangan Jourrel memudar.


“Uncle, kita ke resto hotel ini dulu,” ujar Cheryl setelah meregangkan pelukannya.


"Siap, Nona!” sahut Rico mengangguk dan berjalan terlebih dahulu.


“Tenangin diri dulu.” Cheryl mengusap bahu Jourrel.


Jourrel mengangguk, mereka segera berjalan beriringan menuju restoran di hotel tersebut. Cheryl tak melepas genggaman tangannya di sela jemari Jourrel. Lelaki itu tampak lebih pendiam dari biasanya.


Setelah duduk saling berhadapan, Cheryl menggenggam kedua tangan Jourrel. Ia menghela napas panjang, “Sekarang ada aku, lepaskan sesak di dadamu. Atau, jika setelah melihat orang itu dan kamu berubah pikiran, kita masih ada waktu untuk mengubah rencana,” ucap Cheryl dengan nada lembut.

__ADS_1


Jourrel menaikkan pandangan, netranya langsung disambut tatapan lembut dari Cheryl, senyum pun terulas dari bibir gadis cantik itu. Senyuman yang selalu menggetarkan hatinya.


“Dia ... adik tiri ayah. Seingatku, dulu dia yang paling dekat dengan ayah. Akan tetapi ... aku tidak mengerti kenapa semua berbalik seperti ini,” lapor Jourrel penuh kebimbangan. Seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat barusan.


“Oke, aku mengerti. Uncle, orang kita sudah mulai masuk perusahaan itu belum?” tanya Cheryl.


“Sudah, Nona! Sesuai rencana,” sahut Rico tersenyum misterius.


Cheryl mengangguk, kemudian menyodorkan gelas yang sudah berembun ke hadapan Jourrel, “Minumlah dulu,” ujarnya.


“Jangan gegabah ya, pelan tapi pasti. Kita harus berhasil. Kamu nggak mau ‘kan pernikahan kita nanti gagal?" ucap Cheryl mengusap punggung tangan Jourrel.


Jourrel langsung menatap Cheryl, tangannya beralih mencengkeram jemari lentik perempuan itu. “Tentu saja! Rasanya, aku tidak percaya,” sahut lelaki itu tersenyum haru.


“Makanya, tetap tenang, fokus dan waspada.”


Mereka mengisi sarapan sekaligus makan siang itu sambil bersenda gurau. Membahas banyak hal hingga mengundang tawa Cheryl, ketika mengingat pertemuan pertama mereka yang penuh drama.


Rico ikut terkekeh di belakang mereka. Menepuk keningnya karena tidak menyangka kisah cinta mereka cukup heroik dan dramatis.


Tanpa mereka sadari, Bonar yang baru datang ke restoran tersebut menemukan Cheryl bersama seseorang yang tak asing baginya. Ia sangat hafal garis wajah lelaki yang bersama Cheryl saat ini. Garis wajah adik tirinya yang ia lenyapkan puluhan tahun lalu.


 

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2