Pria Bayaran dan Gadis Mafia

Pria Bayaran dan Gadis Mafia
BAB 74 : HARAPAN JOURREL


__ADS_3

Dua minggu kemudian ....


Jourrel dan Ibu Dina sudah pulang ke rumahnya sejak seminggu yang lalu. Kondisi Jourrel sudah pulih 100%. Setiap hari ia habiskan waktu untuk mengurus ibunya, membantu menyeka tubuh sang ibu, menyuapi makan dan memberikan obat tepat waktu. Ia selalu menolak tawaran yang ingin menggunakan jasanya.


Meski sesak dalam dada masih begitu terasa, sampai saat ini ibunya masih mendiamkannya. Cheryl juga telah memblokir nomornya.


Begitu pun Tristan yang tidak datang lagi sejak hari terakhir ia berpamitan di rumah sakit. Sejak saat itu pula Jourrel memutuskan berhenti merepotkan Tristan. Sudah cukup ia menjadi benalu untuk sahabatnya itu.


Selesai menutup pintu kamar ibunya, Jourrel membawa bekas piring makanan ke dapur. Tiba-tiba ada segerombolan pria yang mendobrak pintu rumahnya dan menodongkan senjata pada Jourrel.


“Angkat tangan!” seru salah satu yang mungkin pemimpinnya.


Jourrel membelalak, matanya mengedar dan mengeliling sembari mengangkat kedua tangannya perlahan.


‘Tidak mungkin mereka anggota kepolisian,’ gumam Jourrel dengan napas tertahan.


Selama ini dia selalu lolos dari jerat hukum, karena berada di cyrcle para pengusaha kalangan atas yang bekerja sama dengan anggota kepolisian. Uang memang bisa memutar balikkan fakta.


Dua orang dari sekelompok orang tersebut segera membekuk Jourrel, memiting tangannya ke belakang hingga pria itu tidak bisa bergerak.


Tentu saja Jourrel tidak bisa melawan, selain kalah jumlah, Jourrel tidak ingin mengejutkan ibunya dengan suara-suara tembakan yang mungkin akan dilesatkan padanya.

__ADS_1


Tak berapa lama, terdengar benturan sepatu tegas yang semakin mendekat. Orang-orang yang mengelilingi Jourrel segera memberikan jalan, tampak seorang pria paruh baya yang masih begitu tampan dan gagah, berdiri di hadapan Jourrel.


Manik elang mereka saling beradu, raut kemarahan terpancar jelas dari wajah lelaki paruh baya itu.


Jourrel menautkan kedua alisnya, ia sama sekali tidak mengenal pria di hadapannya. Ini pertama kalinya, mereka bertemu.


“Kau, Jourrel Alvaro?” Suara bariton menggema di rumah kecil Jourrel.


Tidak ada jawaban, pria itu menengadahkan tangannya pada sang anak buah. Hingga sebuah desert deagle kini berada di genggamannya.


Pria itu menyeringai, Jourrel masih bergeming di tempatnya. Bahkan ketika moncong pistol tersebut menggerakkan dagu Jourrel hingga terangkat ke atas.


“Siapa Anda? Saya tidak pernah ada urusan dengan Anda!” ucap Jourrel tegas walaupun berada di bawah tekanan.


Jourrel masih tidak mengerti, apa masalahnya dengan orang tersebut. Ia hanya menatap dalam manik elang Leon.


“Kau bilang tidak ada urusan denganku?” Tawa Leon menggelegar hingga memenuhi ruangan itu. “Kamu sudah berusaha melenyapkan nyawa anak gadisku!” sambungnya melotot dengan tajam.


Leon yang memang begitu menyayangi Cheryl sejak kecil, tidak akan pernah membiarkan apa pun menyakitinya, termasuk semut sekali pun.


Jourrel diam mendengarkan, tubuhnya seperti tersengat aliran listrik. ‘Gadis? Apakah Cheryl?’ tebaknya dalam hati.

__ADS_1


“Sudah mengingatnya? Cheryl Anastasya. Kamu pasti tidak asing dengan nama itu ‘kan?” tandas Leon semakin memendarkan amarah di wajahnya.


Seketika jantung Jourrel berdenyut nyeri, bahkan ia tidak tahu bagaimana kabar gadis itu dua minggu ini. Gadis yang sudah menyita pikiran dan hatinya. Gadis yang selalu menari-nari dalam bayangannya.


“Bugh!”


Leon memukul dahi Jourrel dengan pangkal pistolnya hingga mengeluarkan darah.


“Berani-beraninya mengusik keluarga Sebastian!” tegasnya melotot tajam.


Jourrel hanya meringis, menggigit bibir bawahnya begitu kuat agar tidak bersuara. Ia takut ibunya mendengar kesakitannya.


“Bawa dia!” perintah Leon pada para anggota SSG (Sebastian Security Group), tim pasukan khusus perusahaan Sebastian.


Leon membalikkan tubuhnya, melenggang dengan langkah panjang dan tegap diikuti semua anak buahnya, termasuk Jourrel yang diseret paksa.


“Ibu,” lirih Jourrel. Pandangannya yang kabur karena air mata kini mengarah pada pintu kamar ibunya. Ia tentu tidak masalah, mau dihukum mati sekalipun ia sanggup. Tetapi, Jourrel sangat khawatir pada sang ibu.


Air matanya semakin deras menghujani kedua pipinya. Jourrel sungguh tidak kuat jika harus meninggalkan ibunya seorang diri, bahkan dalam kondisi sakit seperti itu.


‘Ya Tuhan! Jika memang ini hari terakhirku, tolong lindungi ibuku! Jangan hukum ibuku karena kesalahanku!’ teriak Jourrel dalam hati. Kepalanya menunduk dengan deraian air mata yang tak sanggup dibendung.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2