Pria Bayaran dan Gadis Mafia

Pria Bayaran dan Gadis Mafia
BAB 39 : KEDATANGAN DADAKAN


__ADS_3

"Kenapa, Kak? Kakak kenal?" tanya Axel ketika mendengar gumaman Cheryl.


Gadis itu melempar tatapan serius pada Axel, bahkan keningnya berkerut dalam. "Eeemm ... enggak, cuma mirip sama seseorang," jawab gadis itu.


"Siapa? Bisa jadi itu orangnya?" tuduh Axel antusias.


"Hah? Kayaknya nggak mungkin. Kita nggak boleh nuduh sembarangan. Udah sana, aku mau tidur. Capek banget!" ucap Cheryl kembali merapatkan selimutnya dan memejamkan mata.


"Cepet sembuh kakak cantikku!" Axel beranjak keluar dari kamar Cheryl, memberikan waktu untuk beristirahat.


Setelah pintu tertutup, Cheryl membuka kembali kelopak matanya. Ia meraih kertas foto hasil cetakan Axel. Memperhatikannya lamat-lamat. Namun tak lama kemudian menyimpannya di dalam laci nakas dan memejamkan mata untuk beristirahat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Minggu pagi yang cerah, tak seperti biasanya Jourrel bersemangat bangun tanpa harus mendengar gedoran pintu dari ibunya. Jourrel segera keluar dari kamar, ternyata memang belum ada aktivitas apa pun dari sang ibu.


Jourrel mengerti, kondisi ibunya yang menurun membuatnya prihatin. Pria itu melenggang ke kamar mandi untuk sekedar mencuci muka dan menggosok gigi.


Kemudian ia beralih ke dapur. Dengan cekatan Jourrel mencuci beras dan menanaknya. Untuk lauknya, Jourrel memilih keluar mencari warung terdekat saja. Ia tidak bisa memasak. Tidak peduli dengan muka bantal dan penampilan acak-acakannya. Yang terpenting semua siap ketika ibunya bangun nanti.


Sekembalinya Jourrel bersama motor matic milik Cheryl, ia menata semua lauk di meja makan. Setelah itu, Jourrel mulai membereskan rumahnya yang tidak terlalu besar itu.


Menyapu, mengepel, membersihkan debu di setiap sudut rumahnya. Jourrel terkejut ketika menyibak sofa dan menemukan 10 bendel uang seratus ribuan. "Uang apaan nih? Bukannya ibu nggak pernah mau pegang uang sebanyak ini?" gumamnya bertanya-tanya.


"Bu! Ibu!" panggil Jourrel membawa uang tersebut ke depan kamar ibunya.

__ADS_1


Hendak mengetuk, pintu sudah terbuka. "Ada apa, Nak? Kenapa teriak-teriak? Maaf, ibu terlambat bangun ya," ucapnya menengok sekeliling yang sudah terang akan cahaya matahari.


"Bu, ini uang siapa?" tanya Jourrel menyodorkan segepok uang.


"Lha kenapa tanya ibu? Kamu tahu sendiri ibu tidak akan pernah membawa uang sebanyak itu. Ibu takut, Jou. Ibu pasti langsung teringat kejadian dulu," papar Dina yang juga terkejut.


Wanita itu bahkan sampai menopang tubuh pada tepian pintu. Tangan lainnya mencengkeram dadanya yang berdenyut nyeri.


"Maaf, Bu. Jika mengingatkan. Jourrel menemukannya di sofa waktu membersihkannya tadi. Yaudah, ibu mau istirahat lagi? Tadi Jourrel sudah membeli lauk pauk. Nasinya juga sudah matang," ucapnya segera menopang tubuh sang ibu.


"Tidak usah, Nak. Ibu mau rebahan lagi saja. Kepala ibu rasanya berputar-putar," keluh Dina.


Jourrel mengiyakan, ia membantu sang ibu kembali masuk ke kamarnya. Dan membantu merebahkan tubuh sang ibu. Setelahnya ia pergi ke kamarnya, duduk di tepi ranjang sembari menggenggam uang tersebut pada kedua telapak tangannya.


Jourrel terdiam, menatapnya dengan serius. Seolah sedang menyusuri lorong waktu. "Orang asing yang ke sini cuma Cheryl dan sopirnya. Mungkinkah?" Dada Jourrel berdenyut semakin cepat membayangkannya, tangannya mengusap wajahnya kasar.


"Ya Tuhan, Cheryl!" gumamnya melempar tubuhnya di ranjang. Lengannya terangkat menutup matanya.


"Astaga! Obatnya masih tertinggal di motor!" Jourrel terperanjat, teringat waktu membeli lauk pauk tadi obat Cheryl masih menggantung.


Ia segera mandi kilat, mengenakan celana jeans, kaos putih dan juga jaket jeans berwarna biru menyempurnakan penampilannya di pagi menjelang siang itu.


Jourrel melajukan motor tersebut dengan kecepatan tinggi. Hingga tak terasa kini sudah sampai di depan rumah mewah milik Cheryl. Jourrel tidak langsung menekan bell pada pintu gerbang, karena takut ditanyai banyak hal. Ia lebih memilih menelepon Cheryl.


Meski sudah begitu lama tak mendapat jawaban, Jourrel tetap sabar menunggu. Posisinya lumayan jauh dari pintu gerbang.

__ADS_1


"Hmmm! Apaan sih, Rain. Ini minggu, waktunya istirahat! Ganggu aja sih! Mingguan aja sana sama cewekmu atau kemana kek, sebelum besok kita tempur," cerocos Cheryl dengan suara khas bangun tidur, tanpa melihat sang penelepon terlebih dahulu. Karena biasanya, memang hanya sang asisten yang mengganggunya tidak tahu waktu.


"Ehm! Bisa keluar sebentar? Aku ada di depan rumah kamu," ucap Jourrel menahan tawanya.


"DEG!"


Cheryl terperanjat, seketika kedua netranya membelalak dengan sempurna ketika sadar itu bukan suara Rainer. Melainkan suara Jourrel.


Terdiam beberapa saat untuk mengumpulkan kesadarannya. Jantungnya pun berdenyut hebat, diiringi desiran darah yang begitu kuat.


"Jhoni?" gumamnya bersuara lirih.


"Ya ini aku," balas Jourrel meyakinkan.


"Hah?" Cheryl langsung melompat dari ranjang, menyibak gorden berlapis di kamarnya, dan membuka jendela kaca.


Pandangannya langsung tertuju pada depan gerbang. Dari jarak yang begitu jauh, tampak Jourrel melambaikan tangan sembari mendongak ke arahnya. Satu matanya menyipit karena silau. Rambutnya yang acak-acakan justru menambah aura ketampanan tersendiri.


Cheryl membelalak dengan mulut terbuka lebar. Ia menjadi panik seketika. Menggeser gorden dengan kasar lalu mondar-mandir di kamarnya.


"Dia ngapain ke sini pagi-pagi? Hah? Aku harus ngapain ni? Harus gimana? Aiih tu anak kenapa datangnya kek jelangkung! Mana dadakan pula!" gerutu Cheryl.


Mendadak otaknya hang, tidak tahu harus berbuat apa akibat kedatangan Jourrel yang tiba-tiba di saat ia masih terlelap. Sedangkan Jourrel terkekeh melihat Cheryl yang salah tingkah seperti itu.


Bersambung~

__ADS_1


makasih ya yang nungguin 😘 makasih like komen vote giftnya, ,🥰



__ADS_2