
Cheryl masih menggantungkan tangannya, sembari tersenyum menyeringai. Sedikit memiringkan kepala tanpa mengalihkan tatapan tajamnya pada Gevano.
"Halo, Tuan Gevano. Senang sekali kita bisa bertemu lagi," ucap Cheryl dengan bahasa formal, tegas dan elegant. Jauh berbeda ketika mereka bertemu beberapa waktu silam.
Gevano menatap tak percaya, dadanya naik turun dengan cepat. Tak lama kemudian, pria itu justru tertawa. Bahkan sampai terbahak-bahak. Karena menganggapnya ini hanya sebuah lelucon.
Cheryl sama sekali tidak terpengaruh. Ia menarik kembali tangannya, mengeluarkan sebuah kartu identitas dan menyodorkan ke hadapan Gevano. "Bisa baca nggak? Perlu kacamata pembesar? Atau, butuh bantuan untuk membaca?" ujar Cheryl setengah membungkuk.
Jantung Gevano bertalu dengan begitu kuat ketika membaca huruf demi huruf pada kartu identitas Cheryl. Seketika kedua kakinya melemas. Tubuhnya lunglai seolah tak bertulang. Tenggorokannya tercekat, oksigen dalam paru-parunya sudah terkuras habis hingga menimbulkan sesak di dadanya.
"Bagaimana? Sudah mengenal saya 'kan?" tutur Cheryl kembali menyimpan kartu identitasnya.
Rainer berdiri, menarik sebuah kursi untuk diduduki oleh Cheryl. Gadis itu mendaratkan tubuhnya dengan gerakan santai, namun mampu mengguncangkan jiwa Gevano.
"Saya, tidak pernah main-main dengan setiap ucapan saya, Tuan!" ucap Cheryl dalam mode serius. Suaranya mampu membuat siapapun bergidik mendengarnya. Apalagi saat ini raut wajahnya sangat menyeramkan. Tidak ada garis senyum sama sekali di bibirnya.
Tubuh Cheryl sedikit mencondong pada Gevano yang wajahnya sudah bermandikan bulir keringat. Bibirnya tampak sedikit bergetar dan begitu pucat.
"Mungkin saya bisa mempertimbangkan, jika Anda hanya melakukan satu kesalahan saja. Tetapi ternyata, saya selalu mengambil keputusan yang tepat. Bisa saja saya melaporkan pelecehan kemarin ke polisi. Tapi, saya rasa ini sudah cukup," tegas Cheryl mendekatkan kembali berkas pemutusan kerja samanya.
__ADS_1
Susah payah Gevano menelan ludahnya, mencoba menegakkan tubuhnya yang perlahan meluruh. Kedua tangannya mengepal dengan begitu kuat.
"Jangan senang dulu, Nona. Anda, tidak memiliki bukti apa pun. Saya bisa mengajukan banding di pengadilan nanti," sahut Gevano yang suaranya sedikit bergetar.
Sekuat tenaga mengeluarkan diri dari jeratan seorang Cheryl Anastasia. Seorang yang baru ia ketahui, ternyata bukan gadis biasa, sang penguasa dalam dunia bisnis maupun desain bangunan di Jakarta.
"Oh ya?" Cheryl terkekeh dengan tatapan remeh. Kemudian menoleh pada sang asisten. "Rain, tolong tunjukkan bukti-buktinya," titah Cheryl mengedikkan kepala.
Gadis cantik itu menopang dagu dengan satu lengannya. Begitu menikmati seberapa panik, pucat dan ketakutan yang terpancar dari wajah lelaki angkuh dan sombong di hadapannya itu.
"Siap, Boss!" sahut Rainer bersemangat.
"Santai saja, Tuan Gevano. Tidak perlu tegang seperti itu," ucap Cheryl penuh seringai.
Beberapa menit berlalu, Rainer selesai mengaksesnya. Sebuah rekaman gambar dan suara kini berputar di layar laptop tersebut. Segera Rainer memutarnya sedikit memberi dorongan agar dekat dengan Gevano.
Lagi-lagi Gevano seolah kehabisan napas. Jantungnya melesat dengan debaran yang begitu tinggi. Rekaman ketika Gevano menyerang dan memaki Cheryl, hingga ketika pria itu melakukan pelecehan pada gadis cantik itu.
Gerakan dalam video itu begitu cepat, namun suaranya terdengar nyaring dan begitu jelas. Setelah rekaman selesai, ada screenshoot foto-foto dengan slide lambat yang diambil dari potongan video tersebut. Di situ terlihat sangat jelas wajah angkuh Gevano.
__ADS_1
Bagai tertimpa reruntuhan gunung, Gevano merasa hancur seketika. Tubuhnya terpaku dan sulit bergerak.
Cheryl menatapnya dengan santai. Menggerakkan jam tangan mewah di lengan kirinya. Tidak ada yang tahu, bahwa jam tersebut sudah disetting sedemikian rupa.
Terdapat kamera kecil yang bisa merekam setiap aktivitas yang diinginkan oleh Cheryl. Kamera pengawas dengan kualitas yang tinggi. Ia sudah mempelajarinya dari sang ayah. Untuk mengantisipasi setiap kecurigaan yang muncul di benaknya. Baik itu dalam lingkup kerja ataupun dalam lingkungan sosial.
"Bagaimana Tuan Gevano? Apakah bukti-bukti itu belum cukup? Silahkan kembalikan saham kami dalam waktu tidak kurang dari 7x24 jam. Lebih dari itu ...." Cheryl beranjak berdiri, "Kemungkinan besar Anda akan mendekam di penjara. Dan perusahaan Anda akan diblacklist," ancam Cheryl tegas, dengan tatapan tajam.
"Oh iya satu lagi. Tuan Gevano yang terhormat, jangan pernah remehkan siapa pun orang-orang di sekitar Anda. Atau Anda akan hancur dengan kesombongan dan sikap arogan anda sendiri. Permisi," pungkas Cheryl melenggang pergi dengan langkah anggunnya, diikuti oleh Rainer.
"Tu ... Tuan!" panggil sang sekretaris dengan penuh ketakutan.
"Aaaarggghh! Bresngsek!" teriak Gevano frustasi menghamburkan apa pun yang ada di depannya, hingga mengundang perhatian semua orang yang ada di sana.
Bersambung~
Ayoooo tumpengan 🤣🤣
__ADS_1