
Gadis itu menoleh ke sumber suara. Tepat di balik punggungnya, Poltak yang juga turut duduk dengan tegap di lantai, menganggukkan sedikit kepala.
“Gimana dengan orang itu, Pol?” Cheryl justru menanyakan hal lain. Tidak mempedulikan dering ponselnya yang masih menggema.
“Perjalanan ke Palembang, Nona. Sementara ditahan di markas Tuan Tiger,” sahut Poltak menunduk sopan. Ia langsung paham dengan maksud sang boss.
“Dapet undangan nggak kalau eksekusi nanti?” Cheryl menatapnya sendu.
“Maaf, saya kurang paham, Nona. Semua keputusan di tangan Tuan Tiger,” jawab pria itu lagi.
Cheryl kembali meluruskan pandangan, ia meraih ponselnya. Manik matanya mendelik ketika nama sang ayah terpampang di layar ponselnya. Ludahnya terasa nyangkut di tenggorokan.
“Aku harus ngomong apa?” gumamnya menyeka air mata di kedua pipinya. Gadis itu menghirup udara dalam-dalam, matanya terpejam mencoba menetralkan perasaannya.
Berkali-kali berdehem, takut suaranya masih serak dan bergelombang. “Halo, Pa,” sapa Cheryl dengan suara semanis mungkin.
“Lama sekali angkat teleponnya?” seru suara bariton di balik telepon.
“Maaf, Pa.” Cheryl menggumam lirih.
"Ada apa? kenapa suaramu terdengar sedih? Apa ada yang menyakitimu?” tembak Tiger yang tepat sasaran.
Cheryl menoleh pada Poltak, ia mengerjap bingung. Berbagai pertanyaan mulai bermunculan di benaknya. Kenapa sang ayah terdengar santai dan biasa saja. Dan seolah tidak tahu kejadian apa-apa.
“Papa di mana?” Cheryl bertanya balik.
“Papa sedang dinas di luar negeri. Hanya saja, sedari tadi perasaan Papa nggak enak. Pulang dari sini Papa langsung ke sana menjemput mangsa!” terang Tiger membuat Cheryl berdegub dengan kencang.
‘Mangsa mana yang papa maksud? Gevano, Reno atau Jourrel,’ Hatinya bertanya-tanya dengan rasa was-was.
“Cheryl, Rico sudah perjalanan ke Jakarta. Berhubung anaknya tidak bisa diandalkan untuk keselamatan kamu, jadi dia yang harus menjagamu!” tambah Tiger dengan tegas.
"Hmm ... iya, Pa. Rain biar fokus sama perusahaan aja. Mama ikut, Pa?” sahut Cheryl menyembunyikan rasa khawatirnya.
__ADS_1
Rico yang menjadi kaki tangan sang ayah, bagaimana jadinya kalau nanti selalu bersamanya? Cheryl bergelut dengan pikirannya sendiri.
“Dalam waktu dekat ini mungkin tidak. Mama melihat ada peluang bisnis di Palembang. Dia mau membuka cabang butik di sana. Tahu sendiri mamamu keras kepala,” balas Tiger diiringi tawa, membayangkan istri kesayangannya itu.
“Yaudah kalau gitu, Pa. Mama ‘kan memang pekerja keras. Hati-hati ya, Pa,” ucap Cheryl bermaksud mengakhiri panggilan.
“Ya, Sayang. Kamu juga hati-hati di sana,” seru Tiger lalu menutup panggilan.
Cheryl memutar tubuhnya dengan cepat, Poltak sempat terkejut dan salah tingkah karena ditatap begitu lekat oleh nona mudanya itu.
“Papa belum mendengar masalah ini?” tanya Cheryl.
“Belum, Nona. Beliau sedang ada pertemuan besar dengan pemerintahan Rusia untuk kerja sama persenjataan beliau. Selama di sana, beliau tidak menerima laporan apa pun kecuali ketika Tuan menanyakannya. Karena itu, Tuan Reno dan bawahannya sementara hanya menjadi tahanan saja di markas. Belum ada tindakan sampai menunggu Tuan datang,” papar Poltak.
Seketika dada Cheryl terasa begitu lega. Beban yang mengimpit dadanya sedari tadi seolah hancur dengan perlahan. Ia bersandar dinding sembari mengembuskan napas lega.
“Izinkan aku yang bicara langsung dengan papa,” gumam Cheryl menoleh pada pria yang usianya tak jauh darinya.
Beberapa detik berlalu, suster tersebut kembali berlari masuk. Namun lengannya segera ditahan oleh Cheryl. “Apa yang terjadi?” tanya gadis itu dengan wajah serius.
“Pasien kehilangan banyak darah. Stok di rumah sakit ini sedang kosong. Kami sedang berusaha menghubungi bank darah dan rumah sakit lain agar segera mendapatkannya,” jelas suster tersebut.
“Apa golongan darahnya?” tanya Cheryl menegang.
“Golongan darahnya O, Nona.”
“Aku! Aku! Aku juga sama. Ambil saja darahku!” seru Cheryl menyodorkan lengannya pada suster itu.
Terdiam sejenak, karena melihat Cheryl yang tampak begitu kacau. Penampilannya berantakan, meski tak dapat memudarkan kecantikannya.
“Baik, kalau begitu mari, saya periksa dulu!” ajak suster tersebut ke sebuah ruangan khusus untuk test darah.
Poltak menggaruk kepalanya yang tidak ditumbuhi rambut. Mendadak menjadi bingung. Ada apa antara nona mudanya dengan pria yang sedang berjuang hidup dan mati di meja operasi. “Maaf, Nona. Saya tidak bisa janji. Apalagi jika Tuan sendiri yang bertanya,” gumamnya menghela napas panjang.
__ADS_1
Sesuai prediksi, Cheryl memiliki golongan darah yang sama dengan Jourrel. Ia segera dibawa masuk ke ruang operasi untuk mendonorkan darahnya setelah prosedur donor darah sudah terpenuhi semua.
Gadis itu berada di brankar yang berdampingan dengan Jourrel. Hanya saja tertutup sebuah tirai, dan hanya terlihat kepala pria itu saja.
Jarum berukuran besar pun sudah mulai menyusup pembuluh venanya. Darah yang mengalir langsung dihubungkan dengan lengan Jourrel melalui selang.
Pandangan Cheryl tak lepas sedikit pun dari pria itu. Air matanya meleleh dari kedua sudut matanya. Dadanya berdentum sangat kuat di dalam sana, melihat lelaki tampan itu memejamkan mata rapat.
Suara mesin monitor detak jantung yang menggema, ditambah peralatan stainless yang saling berdentuman, membuat sekujur tubuh Cheryl merinding.
******
Sementara itu, di bandara Rainer sudah menjemput Rico sesuai dengan titah Tiger. Keamanan Jihan yang sudah terjamin di Palembang, membuat Tiger mengutus Rico untuk menjaga Cheryl.
Dua pria beda usia itu saling melempar pandang. Sama-sama terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya Rico merangkul Rainer terlebih dahulu.
“Haiih! Kau ini!” keluh Rico menepuk punggung Rainer.
Barulah Rainer membalas pelukan sang ayah yang merupakan orang kepercayaan Tiger. Ya, lelaki muda itu adalah anak tiri dari Rico yang ia didik sejak kecil.
Tiger pun meminta Rainer agar mengenyam pendidikan yang sama dengan Cheryl, karena mereka seumuran. Sehingga, sejak kecil mereka memang selalu bersama dan bersahabat baik. Berkat kecerdasannya, Rainer pun dipercaya bisa mengembangkan perusahaan bersama Cheryl.
“Ayah kenapa sendirian? Tuan dan Nyonya tidak ikut?” tanya Rain setelah melepas pelukannya.
“Mmm ... tidak. Ayah harus menjaga nona kecil! Di mana dia sekarang?” tanya Rico sambil melenggang ke arah mobilnya.
Sampai sekarang, Rico masih tetap menganggap Cheryl sebagai nona kecilnya. Walaupun usianya bahkan sudah dewasa sekarang.
“Sebentar, Yah. Terakhir dia bilang sedang di rumah sakit,” ucap Rain merogoh ponselnya untuk menelepon Cheryl.
“Apa? Kenapa dengan nona kecil?” pekik Rico terkejut.
Bersambung~
__ADS_1