
Jourrel sudah sampai terlebih dahulu, dua kakinya menjajak kuat di roof top sebuah hotel, yang berseberangan dengan restoran mewah tempat Cheryl melakukan pertemuan dengan targetnya itu.
Pria itu melepas tas ransel di punggungnya, meraih sebuah teropong dan mengatur lensanya agar terlihat lebih jelas.
Cheryl juga sudah duduk anggun sembari memilih-milih menu. Gadis itu masih sendirian, Rico stand by di mobil, namun pandangannya tak lepas dari sang nona. Sedangkan beberapa bawahannya duduk menyebar di setiap sudut untuk melindungi Cheryl. Mereka menyamar sebagai pengunjung, penampilannya biasa saja dan tidak mencolok.
“Poltak! Sudah ada tanda-tanda kedatangan?” ucap Cheryl menyentuh earpiece di telinganya.
“Arah jam 9, Nona!” sahut Poltak yang bertugas mengawasi datangnya musuh. “Dua orang,” lanjutnya lagi.
“Oke!” Cheryl merapikan rambut panjangnya yang tergerai sempurna.
Tak berapa lama, seorang pria paruh baya datang menghampiri didampingi seorang pria yang lebih muda. Terlihat seperti seumuran dengannya.
Jourrel mendelik ketika melihat pria paruh baya itu. Dadanya bergemuruh hebat. Tangannya terus bergerak mengatur lensa untuk memperjelas wajah pria itu. Wajah yang tidak asing baginya.
“Benar dengan Nona Cheryl?” tanya pria yang lebih muda itu.
Cheryl mendongak, mengurai senyum manis namun dengan tatapan yang tajam. “Ya! Silakan duduk,” ujar Cheryl mempersilahkan.
__ADS_1
“Perkenalkan, saya Bonar. CEO Perusahaan Greenlight, dan ini Dame asisten sekaligus putra saya. Haha, saya tidak menyangka, perusahaan sebesar Sebastian Group bahkan ingin menjalin kerja sama dengan perusahaan saya,” papar Bonar panjang lebar memperkenalkan diri.
Cheryl tersenyum paksa, manik mata birunya memindai dengan tajam kedua orang itu. Memasukkan ke dalam memori otaknya saat ini.
“Saya tidak punya banyak waktu. Langsung saja, jelaskan jenis persenjataan terbaru milik Anda. Sebutkan kelemahan dan kelebihannya, juga keunggulannya dibandingkan dengan yang lain.”
Bonar dan Dame justru terkejut dengan ucapan Cheryl. Mereka saling menatap tak percaya. Karena sebelumnya, pembahasan mereka tidak menyinggung persenjataan sama sekali.
“Ma—maksudnya?” tanya Bonar mulai gugup. Ia mengedarkan pandangan, takut jika ternyata ini jebakan dari kepolisian. Akan tetapi melihat penampilan Cheryl memang cukup meyakinkan, bahwa gadis itu kemungkinan besar merupakan anggota mafia.
“Tenang saja, saya sudah tahu semuanya. Tujuan saya ke sini sebenarnya untuk hal itu, hanya saja tidak saya bahas melalui surel karena takut akan mudah terlacak,” ujar Cheryl berucap anggun sekaligus berwibawa.
Bonar menghela napas lega, ia langsung menatap Dame dan meminta agar segera membuka file yang sama sekali tidak ada dalam rencana mereka.
“Wow! Menarik. Bisa secepatnya? Tapi kali ini saya ingin Anda sendiri yang menangani Tuan Bonar. Saya tidak ingin ada kekurangan sedikit pun,” tutur Cheryl setelah menerima semua penjelasan Dame.
“Maksimal satu minggu, Nona! Baik! Baik, saya akan lakukan. Terima kasih kepercayaannya!” sahut Bonar dengan cepat.
“Baiklah, nanti tolong kirimkan jadwal pengirimannya, lokasi dan waktu yang jelas. Ingat, Tuan Bonar. Anda harus datang secara langsung untuk mengurusnya! Pembayaran akan saya transfer 40%, sisanya setelah barang diterima!” tegas Cheryl.
__ADS_1
“Baik, Nona!” sahut Bonar tersenyum semringah.
“Permisi” Cheryl beranjak berdiri sebelum menyentuh makanannya sedikit pun. Ia berjalan dengan langkah tegap namun tak meninggalkan keanggunannya.
Dame tampak ternganga, terkagum-kagum dengan gadis itu. Tidak menyangka kliennya kali ini seorang perempun tangguh, tetapi sangat cantik dan memiliki pesona luar biasa.
Gadis itu segera berpindah ke hotel seberang, menyusul Jourrel di lantai teratas gedung tinggi tersebut. Dia takut, Jourrel tidak bisa mengendalikan emosi. Langkah kakinya terburu-buru ketika pintu lift terbuka dan berhenti di roof top.
Bulir keringat mulai mengalir di wajah tampan Jourrel. Kedua tangannya mencengkeram kuat teropong di tangannya. Dadanya terasa sesak dengan debaran yang antah berantah.
Jourrel meraih senjata laras panjangnya lalu membidik sasaran yang masih tertawa bangga di dalam restoran tersebut. Aliran darah seolah mendidih di dalam tubuhnya.
Cheryl membelalak saat melihat Jourrel menodongkan senjatanya. Dia dan Rico segera berlari mendekati Jourrel dan menepis moncong senjata yang digenggam Jourrel.
Jari telunjuknya sudah hampir menarik tuas untuk melesatkan sebuah tembakan jarak jauh. Akan tetapi, dengan cepat Cheryl mendorong senjata itu.
“Jangan sekarang,” pinta Cheryl berdiri di depan Jourrel.
Keduanya saling bertatapan, mata Jourrel memerah menahan amarah. Gerahamnya tampak mengetat. Cheryl langsung mengambur ke pelukan lelaki itu untuk meredakan kemarahan Jourrel.
__ADS_1
“Sabar sebentar lagi, Sayang. Sabar, tarik napas dalam-dalam, keluarkan lewat mulut,” gumam Cheryl masih mengeratkan pelukannya.
Bersambung~