Pria Bayaran dan Gadis Mafia

Pria Bayaran dan Gadis Mafia
BAB 69 : LUAPAN AMARAH CHERYL


__ADS_3

Cheryl sudah duduk di balik kemudi. Kedua jemarinya meremas kuat setir tersebut. Ia menelan salivanya berkali-kali. Embusan napasnya pun mulai tak beraturan.


Cheryl menginjak pedal gas, memainkannya namun tanpa mengubah posisi persneling. Deru mesin mobil yang menggema, senada dengan pacuan jantungnya.


“Nona! Kau baik-baik saja bukan?” tanya Rico tampak khawatir. Karena Cheryl tampak berbeda dari biasanya.


Bulir keringat membanjiri wajah gadis cantik itu, netra indahnya berkaca-kaca. Cheryl meneguk salivanya dengan berat. Dadanya pun bertalu dengan sangat kuat.


Cheryl mengabaikan pertanyaan Rico. Ia tengah berperang dengan dirinya sendiri saat ini. Menekan ingatan-ingatan mengerikan yang masih melekat di kepalanya.


“Nona kecil, apa yang sebenarnya mau kamu lakukan?” seru Rico mulai panik sendiri. Baginya, Cheryl lebih berharga dibanding nyawanya.


Cheryl seperti gelas kristal yang harus dijaga. Jadi, tentu saja pria itu sangat khawatir.


Barulah Cheryl menoleh, memberikan senyum tipis. “Uncle Ric, kencangkan sabuk pengamanannya,” ucap Cheryl dengan suara tenang.


Cheryl menghela napas panjang. Mengatur persneling agar siap melaju. ‘Aunty mama bilang, aku harus lawan semua rasa takut. Sampai ketakutan itu benar-benar hancur dan menghilang. Ya, aku harus melakukannya,’ batin Cheryl membulatkan tekadnya.


Pandangan Cheryl fokus ke depan. Jari-jemari lentiknya terus bergerak pada setir mobil di depannya.

__ADS_1


Perlahan, Cheryl menginjak pedal gas. Mobil berjalan dengan kecepatan rendah. Cheryl masih berusaha mengontrol emosinya.


Tubuhnya menegang, tangannya sampai memerah karena cengkeraman yang begitu kuat.


Rico diam, ia masih tenang karena laju mobil tidak segila yang ia bayangkan. Terus mengawasi gadis di sebelahnya yang ternyata, tanpa suara menitikkan air mata. Pria itu tidak ingin menyela, membiarkan sang nona meluapkan semua emosinya.


‘Oke, Jourrel. Aku akan menuruti kemauanmu. Terima kasih atas pertemuan singkat yang begitu mengesankan ini.'


Cheryl mengatupkan bibirnya rapat. Namun hatinya berteriak kuat.


Sampai setengah jam berlalu, mereka baru mencapai satu putaran. Rico mengira, Cheryl akan berhenti. Akan tetapi, dia tersentak dan mencengkeram kuat seatbelt yang membelit tubuhnya.


Laju mobil semakin cepat, spedometer terus bergerak ke kanan. Kaki Cheryl menginjak pedal gas dengan kuat dan begitu dalam.


“Aaaaaaaa! Nona! Nona! Saya masih mau hidup! Nona juga harus hidup. Ahh shitt! Ternyata begini rasanya di ambang maut,” teriak Rico meracau ke mana-mana.


Mendengar celotehan Rico yang ketakutan, membuat Cheryl justru tertawa terbahak-bahak.


“Unclee!! Aku benci dengan hati ini. Aku bencii!!” Cheryl pun berteriak, sembari memutar setir mobil dengan cepat karena lintasan mulai berbelok.

__ADS_1


"Aaaaa! Nona! Nona tolong!” Rico tak kalah heboh tubuhnya terhuyung ke kiri dan kanan.


“Brengsek! Nggak peka! Gue nggak bakal nemuin lo lagi! Jourrel brengsek! Gue benci sama lo!” teriak Cheryl semakin menggila dalam mengemudi.


Ia sangat membenci situasi ini. Di mana hati dan otaknya sudah terkontaminasi oleh Jourrel, namun sama sekali tak dihargai. Bahkan terang-terangan ditolak.


Cheryl sungguh sakit hati, semua pengorbanan dan kekhawatirannya sama sekali tidak ada harganya di mata lelaki itu.


“Gue benci sama lo Jourrel. Gue bersumpah, ini terakhir kalinya gue peduli sama lo!” Cheryl terus berteriak histeris, air matanya pun mengalir deras, tetapi sama sekali tidak menghalangi pandangannya.


“Nonaaa! Sampai kapan? Berapa putaran lagi!!” Rico tidak mau kalah, ia juga berteriak histeris, mencengkeram kuat pegangan yang ada di atasnya. Kedua kakinya gemetar, jantungnya bertalu begitu kuat.


Apalagi lintasan yang mereka lalui banyak sekali tikungan, hingga tubuh keduanya turut bergerak ke kiri dan kanan berlawanan arah dengan setiap belokannya.


Cheryl meluapkan semua teriakan yang mengganjal di hati. Terus mengumpat Jourrel seolah sedang berbicara di hadapannya.


Dua manusia dalam supercar itu saling bersahutan dalam teriakan yang sama kuatnya. Meskipun teriakan mereka sama sekali tidak nyambung. Cheryl sendiri seolah tak mendengar jeritan Rico.


Bersambung~

__ADS_1


InshaAllah nnti disempetin up lgi.. maaf y agak sibuk. 😘


__ADS_2