
Mobil benar-benar melesat seperti angin, begitu cepat dan lincah bergerak tak terduga mencari setiap celah kosong. Jiwa Rico seolah terguncang, sama seperti raganya yang kini terombang-ambing. Mulutnya terkunci, tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun lagi.
Tak lupa sirine polisi dan peringatan masih terus membuntutinya. Cheryl sama sekali tak peduli. Kedua tangannya terus bergerak cepat menjaga kestabilan gerakan mobil.
Beberapa waktu berlalu, mobil Cheryl hampir mencapai gerbang masuk bandara. Ia semakin memperdalam pedal gas, tak lama terlihat iring-iringan mobil mewah yang ia yakini adalah rombongan SSG.
Cheryl melesat mengambil lajur kanan. Ia tidak tahu di mobil mana Jourrel berada. Sehingga satu-satunya jalan menghentikan semua mobil.
Setelah berhasil menjajari barisan paling depan, Cheryl menyalakan hazard lamp, semakin menjauh ke depan. Akan tetapi, tak lama kemudian Cheryl menginjak pedal rem hingga mobil berputar-putar lalu melintang di tengah jalan.
“Hei! Kenapa berhenti mendadak?” geram Leon ketika sopirnya menghentikan mobil yang ia tumpangi.
“Ada yang menghalangi jalan kita, Tuan!” lapor sopir yang juga berseragam khusus itu.
Cheryl turun dari mobil, berlari meninggalkan Rico yang sedang berusaha menyadarkan dirinya sendiri. Rico merasa seolah berada di awang-awang. Kepalanya masih terasa berputar-putar. Bahkan kakinya pun terasa tidak bisa menyentuh tanah.
“Om Papa!” teriak Cheryl di tengah jalan dengan napas memburu.
Mendengar suara tak asing, Leon turun dari mobilnya. Ia berada di mobil nomor dua. “Cheryl?” panggil Leon bersiap menerima pelukan gadis itu seperti biasa.
Sedangkan Jourrel berada pada mobil pertama. Ia membelalak ketika melihat kedatangan Cheryl, bahkan berani menghentikan rombongan mobil tersebut.
“Di mana Jourrel, Om pa?” tanya Cheryl masih berteriak tanpa bergerak menyambutnya.
“Tenang saja, sudah om papa amankan. Siapa dia? Berani-beraninya mengusik keluarga kita!” tandas Leon tegas memasukkan satu tangannya ke saku celana.
__ADS_1
Cheryl menggeleng, dapat terlihat jelas air matanya yang berjatuhan. “Lepasin dia, Om!” rengek Cheryl.
Mendengar pembelaan dari Cheryl, bahkan melihat kesedihan gadis itu membuat Jourrel menguatkan lengannya. Dua penjaga yang bersisian dengannya tidak berkonsentrasi karena penasaran dengan Cheryl.
Dengan gerakan cepat, Jourrel menyiku leher kedua penjaga itu bergantian. Lalu menendang salah satunya hingga pintu mobil terbuka, salah satu penjaganya terjatuh.
Jourrel segera melompat keluar, Cheryl langsung berlari menghampiri Jourrel. Semua tim SSG keluar dari mobil dan maju membentuk lingkaran, menodongkan senjata pada Jourrel. Bahkan sudah terdengar suara senjata yang siap dilesakkan.
Bukan hanya Jourrel, tetapi juga mengarah pada Cheryl. Karena gadis itu langsung memeluk tubuh Jourrel dengan sangat erat. Jourrel hanya menumpukan dagu di bahu Cheryl, wanginya tubuh gadis itu langsung menyeruak dalam hidungnya. Mampu memberinya kekuatan.
“Stop!” Leon berseru sembari menaikkan satu tangannya ke atas, memberikan instruksi agar tidak menembak.
Kening Leon mengernyit, memperhatikan reaksi dua sejoli yang saling berpelukan erat di hadapannya. Mencoba membaca apa yang sebenarnya terjadi.
“Jou, kamu terluka, mana lagi? Mereka menyakitimu?” cecar Cheryl setelah meregangkan pelukannya.
Jourrel masih dalam keadaan diborgol, ia terharu. Matanya terpejam merasakan sentuhan tangan Cheryl di wajahnya, mengusap darah yang mulai mengering di keningnya.
“Aku tidak apa-apa. Bagaimana bisa kamu sampai di sini?” Jourrel bertanya balik.
“Itu tidak penting. Kita harus segera pergi dari sini!” tandas Cheryl meraih lengan Jourrel dan hampir melangkah menemui Leon.
Namun, sebuah tembakan peringatan yang menggelegar mengejutkan mereka semua. Cheryl mengedarkan pandangan, detak jantungnya sudah seperti berlari marathon ketika tampak Tiger beralih menodongkan senjata ke arah Jourrel. Semua orang juga menatap ke arah Tiger yang berjalan perlahan, mendekat ke arah Jourrel dan Cheryl.
“Papa,” ucap Cheryl dengan lirih. Lagi-lagi air matanya mengalir deras.
__ADS_1
Jourrel menelan salivanya dengan berat, ia langsung bisa menebak pria yang kini menatapnya begitu tajam dengan sebuah senjata di tangannya. Ya, garis wajah yang sama persis dengan gadis di sebelahnya, tentu saja bisa memperjelas siapa lelaki paruh baya itu.
“Cheryl, lihat aku,” pinta Jourrel menoleh dan sedikit menunduk. Hingga manik mata mereka saling bertumbukan, Jourrel menarik kedua sudut bibirnya, memberikan senyum terbaik untuk gadisnya itu.
“Jika memang aku harus menebus semua kesalahan di masa lalu dengan cara seperti ini, aku ikhlas. Satu hal yang harus kamu tahu. Cheryl, aku menyukaimu, bahkan menyayangimu. Jaga diri baik-baik ya. Satu pesanku, tolong pulangkan aku ke rumah ibu, meskipun sudah tidak bernapas,” aku Jourrel panjang lebar membuat Cheryl menangis histeris.
Cheryl menarik-narik kaos Jourrel, “Tutup mulutmu! Jangan pernah bicara seperti itu! Ingat, ibu menunggumu! Kamu tega meninggalkannya sendirian dalam kondisi terbaring lemah seperti itu, hah?" teriak Cheryl melempar tatapan tajam. Ia sungguh emosi mendengar Jourrel yang putus asa.
Jourrel memejamkan matanya, jika ditanya, tentu saja tidak akan pernah bisa meninggalkan sang ibu. Wanita yang ia perjuangkan selama ini, bahkan ia rela melakukan segala cara demi kesembuhan sang ibu. Tetapi, apa yang harus dia lakukan sekarang? Jourrel sangat lemah jika berhubungan dengan orang-orang yang disayanginya.
Tiger semakin mendekat, buru-buru Cheryl berdiri tanpa jarak di hadapan Jourrel. Tubuh mereka berhimpitan, punggung Cheryl bersandar pada dada Jourrel. Kedua tangannya mencengkeram kuat kaos Jourrel di kedua sisi tubuh pria itu. Hingga kini moncong pistol tepat berada di kening Cheryl.
“Minggir!” seru Tiger memberi isyarat mata pada Cheryl agar segera menyingkir dari tubuh Jourrel.
Bersambung~
__ADS_1