Pria Bayaran dan Gadis Mafia

Pria Bayaran dan Gadis Mafia
BAB 36 : KERJAAN SAMPINGAN


__ADS_3

Jourrel masih bergeming, larut dalam pikirannya. Tak peduli punggungnya menjadi sasaran empuk Cheryl melampiaskan kekesalannya. Ia tetap fokus berkendara.


"Eh! Sorry, Jhon!" Cheryl tersadar, karena melampiaskan pada orang yang salah.


"Nggak apa-apa, lanjutin aja sampai kamu puas!" sindir Jourrel.


Cheryl hanya meringis, menutup kaca helm menutupi wajahnya yang kepalang malu. Merasa tak enak juga pada lelaki itu. Ia masih belum menemukan jawaban, kenapa Jourrel berubah baik padanya. Namun Cheryl tak begitu mempedulikannya.


Lima belas menit kemudian, mereka sampai di depan pagar kokoh yang menjulang tinggi ke langit. Jourrel menghentikan motornya. Cheryl mengernyitkan keningnya heran.


"Lho, Jhon! Kok kamu tahu rumahku? Aku 'kan belum sebutin alamat. Jangan-jangan kamu pernah buntutin aku ya?!" selidik Cheryl turun dari motor tersebut.


"Iya! Eh enggak!" sahutnya gugup melambaikan kedua tangan di depan dada. Mengelak dengan tegas, bisa gawat jika Cheryl tahu.


Cheryl memukul-mukul lengan Jourrel. "Ngaku nggak? Kamu pernah buntutin aku ya?!" serunya dengan tatapan tajam.


"Enggak Cheryl, aku tahu alamat dari KTP kamu waktu ngurus administrasi tadi. Dan, aku pernah lewat jalan sini," elak pria itu tidak berani menatap netra Cheryl terlalu lama.

__ADS_1


Kening Cheryl berkerut dalam, "Masa? Di sini cuma ada beberapa rumah doang!" cetusnya mengerlingkan manik cantiknya, sembari melipat lengannya di dada.


"Ya, aku tahu. Kawasan ini adalah perumahan para konglomerat. Kebetulan aku ada kerjaan dari salah satu mereka." Jourrel memberi alasan.


"Iyakah? Kerja apaan?" tanya Cheryl penuh kekepoan.


"Tukang kebun!" celetuk Jourrel. Barulah gadis itu bungkam dan merasa tidak enak.


Cheryl berjalan pelan hingga tepat di depan pagar. Menekan bell, dan menunggu beberapa saat. Pintu gerbang terbuka lebar ketika para penjaga melihat nona mudanya berdiri di depan melalui kamera pengawas.


"Eh, ssstt! Ini motornya!" panggil Jourrel.


"Bawa aja! Motor kamu 'kan masih rusak. Tapi kalau aku mau ke mana-mana kamu harus siap." Cheryl meraih sebuah kartu nama dan menyodorkannya pada Jourrel. "Ini kartu nama aku. Tenang aja, nanti aku kasih fee. Anggep aja kerjaan sampingan," ucapnya.


Jourrel sempat terkejut, namun kemudian mengiyakannya. "Helmnya, bisa buka nggak?" tanyanya.


"Oh iya, gimana sih caranya?" Cheryl bertanya balik.

__ADS_1


Jourrel pun bergegas turun menghampirinya. Sedikit menunduk karena lebih tinggi dari gadis itu. Tangannya meraih kedua tangan Cheryl dan menuntunnya ke bawah dagu.


"Ini tekan dulu, baru ditarik," ucap pria itu lembut mengarahkan jemari lentik Cheryl.


Cheryl mengerjap sangat pelan, mulutnya sedikit terbuka. Jarak yang begitu dekat menciptakan desiran hebat dalam darahnya. Bahkan derap jantungnya mulai tak beraturan.


"Gampang 'kan?" lanjut pria itu lagi menatap netra yang begitu cantik.


"Ah, iya. Gampang. Kalau masih nggak bisa 'kan ada kamu. Haha!" gurau Cheryl melepas helm dan menyodorkannya pada Jourrel. "Makasih, bawa aja!" ucapnya lalu meninggalkan Jourrel yang bergeming menatap kepergiannya hingga menghilang dari pandangannya.


Pintu gerbang menggeser dan tertutup rapat setelah sang pemilik rumah masuk. Jourrel menatap kartu itu lekat-lekat. Tersenyum tipis lalu memasukkan ke dalam saku jaketnya dan mengenakan helm.


Jourrel bergegas pulang ke rumahnya, memacu kendaraan itu dengan kecepatan tinggi. Karena ingin memastikan sesuatu.


Sedangkan Cheryl, diantar oleh salah satu penjaganya menuju pelataran. Karena jarak antara pintu gerbang dan pintu rumahnya cukup jauh.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2