Pria Bayaran dan Gadis Mafia

Pria Bayaran dan Gadis Mafia
BAB 43 : KETIBAN SIAL


__ADS_3

Sementara itu, ketika baru menginjakkan kakinya di pelataran cafe mewah tersebut, mata elang Jourrel langsung menangkap mobil mercedes berwarna kuning incarannya.


Jourrel bergegas ke toilet, saat Cheryl mulai memasuki cafe tersebut. Sebuah tas ransel menggantung di kedua punggungnya.


Keluar dari toilet, Jourrel meninggalkan tas, menutup hampir seluruh tubuhnya dengan kain berwarna hitam. Masker menutup sebagian wajah tampannya. Juga topi berwarna hitam, ia turunkan ujungnya, agar wajahnya sama sekali tak terlihat.


Langkah kakinya begitu cepat, mata elangnya memindai sekeliling untuk memastikan keamanannya dari intaian CCTV. Satu tangannya masuk ke dalam saku hoodie. Begitu panjang langkah kakinya hingga mungkin orang yang berlalu lalang tidak terlalu memperhatikan.


Jourrel menjatuhkan korek api tepat di samping mobil Gevano, kemudian dengan gerakan tak terlihat, mengeluarkan sebuah pisau lipat yang tajam dan cukup panjang. Ia menusukkan pisau pada ban mobil dengan penuh emosi, membayangkan sedang menusuk jantung Gevano.


Jourrel melakukan hal yang sama pada setiap ban. Dengan modus berbeda-beda. Seperti pura-pura menyimpulkan tali sepatu, tersandung dan gerakan tidak mencurigakan lainnya.


Bibirnya menyeringai tajam, beranjak berdiri dan kembali ke toilet dengan cepat. Ia bergegas mengganti seluruh pakaiannya, seolah tidak terjadi apa-apa.


"Jhon! Dari mana aja sih? Ditunggin dari tadi juga!" panggil Cheryl yang tiba-tiba muncul di hadapannya.


Sedikit terperanjat, namun Jourrel segera berdehem untuk menyamarkan kepanikannya. "Dari toilet. Mules," ucapnya singkat.

__ADS_1


"Kamu diare? Udah minum obat?" tanya Cheryl khawatir.


"Enggak kok. Udahan meetingnya? Mau ke mana lagi?" tawar Jourrel kini melangkah beriringan.


"Pulang. Sisanya biar diurus sama Rain," sahut Cheryl menoleh pada sang asisten, "Bisa 'kan? Aku tinggal ya," sahutnya menepuk bahu Rainer.


Pria itu mengangguk, "Siap, Boss! Jangan lupa bonusnya!" cetus Rainer tertawa.


"Dasar mata bonusan!" celetuk Cheryl membuat mereka bertiga tertawa.


Di belakang mereka, ada seseorang yang sudah menggeram marah. Emosi yang membuncah membuat sekujur tubuhnya menegang. Siapa lagi kalau bukan Gevano. Matanya menatap nyalang pada Cheryl beserta asistennya. Embusan napasnya pun terdengar sangat kasar.


"Jhon! Ini gemoy banget helmnya. Nemu di mana?" seru Cheryl mengenakan sebuah helm berwarna hitam, ada sepasang sungut berbentuk telinga kelinci. Sehingga tampak begitu menggemaskan.


Saat berangkat tadi, ia terburu-buru. Sehingga menyimpulkan kekaguman dan rasa penasaran yang tinggi.


"Beli lah! Masa iya mulung di jalan! Suka?" celetuk lelaki itu mengenakan helm bawaan motor.

__ADS_1


Cheryl mengangguk cepat dengan senyum lebarnya. "Suka banget. Makasih ya, Jhon. Nanti aku bawa ya!" ucap gadis itu terlampau bahagia.


"Iya, simpen aja!" sahut Jourrel.


Mereka segera meninggalkan cafe tersebut. Gevano yang sudah memendam kebencian kini menyambungkan teleponnya pada para bawahannya yang standby tak jauh darinya. Ia meminta untuk mengikuti motor yang dikendarai Cheryl dan menghabisinya.


Setelahnya, Gevano masuk ke dalam mobilnya. Ia ingin menyaksikan sendiri proses kematian gadis yang menghancurkan perusahaannya. Ia sampai tidak mempedulikan sekretarisnya.


"Matilah kau gadis sialan!" geram Gevano dengan kepercayaan diri yang tinggi.


Hendak melajukan mobilnya, namun terasa begitu berat. Sangat sulit digerakkan. "Kenapa ini?" gumamnya bingung, kembali melepas seatbelt dan turun dari mobilnya.


Sepasang matanya membelalak lebar ketika melihat ban mobilnya kempes. Gevano berkeliling dan melihat ke semua sisi. Ternyata keempat ban mobilnya kempes secara bersamaan.


"Sialan! Siapa yang berani melakukannya!" teriak Gevano berkacak pinggang sembari menendang ban mobilnya.


Bersambung~

__ADS_1


Huurftt aku lagi sibuk banget ngeet ngeett sehariaan geenggs... mon maap up ya sedikit 🤗 sabar yaa


__ADS_2