Pria Bayaran dan Gadis Mafia

Pria Bayaran dan Gadis Mafia
BAB 80 : SIDANG


__ADS_3

Cheryl masih menoleh ke belakang, menunggu jawaban dari Leon yang hanya melempar tatapan misterius padanya.


“Kamu pasti bisa menebaknya,” sahut Leon menimbulkan rasa penasaran di benak Cheryl.


Gadis itu menelan salivanya dengan begitu berat. “Om papa nggak apa-apain Luna ‘kan? Bukan salah dia, Om. Luna cuma membantuku aja!” rengek Cheryl panik.


“Sudahlah, tidak usah kau pikirkan. Om papa tahu apa yang terbaik untuk kalian!” tandasnya dengan jawaban tegas.


“Tapi, Om! Luna nggak salah. Aku yang maksa Luna buat cari identitas dia!” mohon gadis itu, menunjuk ke wajah Jourrel.


Leon tak menjawab lagi, hanya mengedikkan kedua bahunya tak acuh. Kemudian melirik Jourrel yang tampak kebingungan, hanya jakunnya terlihat naik turun menelan saliva tanpa berani menyela.


Cheryl berdecak kesal, kembali memutar tubuhnya ke depan dan segera menghubungi Luna. Namun percuma, karena sama sekali tidak bisa tersambung. “Ah ya Tuhan!” gumam Cheryl menyibak rambut dengan kedua tangannya.


Tak berapa lama, mereka sampai di kediaman Sebastian. Cheryl segera turun dari mobil, berdiri sejenak sembari menghela napas untuk menghadapi ayahnya.


“Ayo!” ajak Cheryl hendak menggamit lengan Jourrel.


“Heh! Apa itu? Lepas!” seru Leon menunjuk tangan dua sejoli itu.


Cheryl segera melepas tautan tangan mereka, bibirnya mengerucut kesal. Sudah tidak memberi kabar mengenai Luna ditambah jiwa protective dan posesifnya keluar. Jourrel menurut, beralih menekan tengkuknya untuk mengurai kegugupan.


Mereka segera menaiki tangga menuju lantai tiga. Cheryl memimpin jalan, diikuti Jourrel dan Leon paling belakang sebagai pengawas bersama Rico.


Sebuah ruangan rahasia yang memang selalu digunakan oleh Keluarga Sebastian membahas hal-hal serius dan bersifat rahasia. Tidak semua orang bisa masuk ke sana, bahkan Jihan dan Axel saja tidak pernah tahu ruangan tersebut.


Langkah kaki mereka menggema di sebuah lorong hingga melewati sebuah pintu yang hanya bisa diakses sebuah kartu. Kartu tersebut hanya dipegang oleh Tiger, Cheryl dan Leon saja.


Tidak ada yang mencurigakan, tempatnya seperti ruang kerja biasa. Banyak rak buku, berbagai piala dan penghargaan yang terpajang. Akan tetapi, setelah Cheryl menatap sebuah sensor kecil, tiba-tiba rak bergeser dengan sendirinya.

__ADS_1


Jourrel dan Rico terkejut, ini pertama kalinya mereka masuk ke ruangan rahasia ini.


Cheryl melangkah diikuti yang lain. Di sana, sudah ditunggu Tiger yang duduk membelakangi pintu masuk.


“Duduk kecuali Jourrel!” ucap Tiger menekan, lalu membalikkan kursinya. Ia bisa mendengar derap langkah kaki yang memasuki ruangan tersebut.


Jourrel paham, ia yang menjadi tokoh utama saat ini. Sebelum berdiri di depan, Jourrel menatap Cheryl yang mengangguk dan tersenyum padanya.


Leon dan Rico duduk di tempatnya masing-masing. Semua mata tertuju pada Jourrel yang kini mengangguk memberi penghormatan.


“Katakan apa yang saya tanyakan. Jangan berbasa-basi dan langsung pada intinya!” Tiger mencecar dengan suara bariton yang menggema dan tatapan mengintimidasi.


“Baik,” sahut pria itu mengangguk, menguatkan diri untuk membalas tatapan tajam dan menusuk dari Tiger.


“Kenapa kau berusaha mencelakai Cheryl?”


Leon dan Rico juga melayangkan tatapan yang sama. Semua perhatian tertuju pada Jourrel.


“Siapa yang membayarmu waktu itu?”


“Tuan Reno Aleandro!”


Tiger menoleh pada Rico, hanya dengan menatap matanya saja Rico langsung mengerti. Ia mengangguk, “Tuan Reno sudah diamankan di markas, Tuan. Beliau saudara kembar Tuan Rexo. Yang pernah Anda ledakkan beberapa tahun silam!” sahutnya.


Jourrel terperanjat, napasnya tertahan sesaat mendengar penuturan Rico. Ternyata orang di harapannya ini lebih kejam darinya. Jourrel menggerakkan manik matanya, hingga kini bertemu kembali dengan netra indah Cheryl yang tampak meyakinkannya. Sebuah anggukan juga ditunjukkan oleh gadis itu, berharap Jourrel tetap tenang.


“Haiihh! Kau ini, kenapa tidak sekalian diledakkan semua!” canda Leon dengan tatapan tertuju pada Tiger. “Untung Cheryl gadis yang kuat! Lanjut!” sambungnya dengan santai.


“Setelah ini juga kuledakkan kepalanya!” sahut Tiger mendengkus kesal. Ia kembali pada Jourrel. “Bukankah kamu memiliki banyak kesempatan untuk membunuh Cheryl, kenapa tidak melakukannya? Apa kau sudah tahu siapa dia sebenarnya? Ya, jika sampai itu terjadi, tubuhmu akan kucincang menjadi beberapa bagian!” Ucapan Tiger kali ini sukses membuat Jourrel bergidik. Namun ia mampu menutupinya dengan baik.

__ADS_1


“Bukan, Tuan. Saya sama sekali tidak mengetahuinya. Yang saya tahu, Cheryl arsitek hebat. Saya berhenti melakukannya, karena Cheryl berhati malaikat. Dia telah menolong ibu saya. Satu-satunya tujuan hidup saya,” Suara Jourrel mulai bergetar.


“Bagaimana bisa saya menghabisi nyawa Cheryl, sedangkan dia telah menyelamatkan ibu saya?”


Kali ini dia kembali teringat ibunya, matanya berkaca-kaca. Tiger dan Leon sama-sama tertegun. Dua orang itu sama-sama kehilangan kasih sayang seorang ibu sejak kecil.


Tanpa diminta, Jourrel mulai membuka cerita hidupnya. Bagaimana dia bisa terdampar di kota ini, perjuangan hidup bersama ibunya setelah kehilangan segalanya hingga bagaimana dia bisa menjadi seorang pembunuh bayaran.


Semua orang larut dalam kisah hidup Jourrel. Dari situ mereka dapat menarik kesimpulan, bahwa Jourrel sebenarnya memiliki hati yang baik. Hanya saja, keadaan yang memaksanya salah jalan.


“Lalu, kapan kau kembali ke tempat asalmu?” tanya Leon setelah Jourrel terdiam.


“Menunggu ibu saya sembuh. Saat ini, beliau hanya bisa terbaring di ranjang. Karena mengalami struk ringan,” ujarnya menyeka air mata yang sialnya menetes tanpa diminta.


“Siapa nama mendiang ayahmu?” Kali ini Tiger menyahut.


“Nugraha Alvaro, Tuan,” sahut Jourrel.


Leon dan Tiger saling melempar pandang. Tatapan mereka tampak serius.


 


Bersambung~


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2