Pria Bayaran dan Gadis Mafia

Pria Bayaran dan Gadis Mafia
BAB 101 : KESABARAN CHERYL


__ADS_3

Jihan tak menjawab, tangannya sibuk menyeka air mata yang terus bergulir membasahi pipinya. Tiba-tiba, Jihan beranjak dan pergi meninggalkan mereka semua tanpa mengatakan apa pun.


“Pa,” rengek Cheryl mendongak pada sang ayah.


“Biar papa yang bicara, kamu sudah banyak menangis. Awas saja kalau lelaki itu bangun, papa akan menghajarnya karena sudah membuang begitu banyak air matamu!” canda Tiger namun dengan tatapan serius.


“Ah, Papa!” Cheryl mengerucutkan bibirnya kesal.


“Bercanda, Sayang. Makanya jangan nangis lagi. Tunggu di sini. Biar papa yang urus mama,” ujarnya menangkup kedua pipi Cheryl lalu mencium keningnya.


Tiger segera menyusul kepergian sang istri. Cheryl tersenyum sembari menyeka air matanya. Ia bahkan sampai tidak bisa mengucapkan kata terima kasih pada lelaki hebatnya itu. Hanya berteriak kegirangan dalam hatinya.


Khansa yang mendengar keributan sebenarnya langsung keluar dari ruangan, sebelum pemeriksaan selesai. Dia berdiri di sebelah Leon sembari memperhatikan interaksi keluarga Tiger.


Setelah kepergian kedua orang tuanya, Khansa langsung menghampiri Chery. Duduk di sebelahnya dan menatap Cheryl lekat-lekat.


“Aunty,” panggil Cheryl lirih.


“Apa benar tadi yang aunty dengar? Kamu mencintai lelaki itu? Bahkan ingin menikah?” tanya Khansa dengan tatapan serius.


Cheryl mengangguk perlahan, “Iya, Aunty,” ucapnya ragu sembari menggigit bibir bawahnya. “Dia, yatim piatu.”


“Ah, aunty tidak masalah dengan itu. Mau dia anak presiden atau raja sekalipun, tidak masalah. Yang terpenting, dia baik, bertanggung jawab, mencintai kamu dari hati. Bukan dari kecantikan, keluarga atau kekayaan kamu. Kamu sudah yakin, Sayang?” cecar Khansa meraih kedua tangan Cheryl dan menggenggamnya erat.


"Tenang saja, Sayang. Jourrel sudah memenuhi kriteria!” Leon menimpali sembari mendekatinya.


“Kok kamu tahu?” sela Khansa menoleh pada suaminya dengan cepat.


“Dia yang diselidiki Luna waktu itu,” sahut Leon.


Seketika sepasang netra Khansa membelalak dengan sempurna, “Apa?! Jadi dia yang hampir mencelakai Cheryl? Kok kamu nggak ngomong?” pekik Khansa benar-benar terkejut.


Cheryl tidak berani menimpali, ia menyerahkan semua pada Leon untuk bisa meyakinkan Khansa.


“Ini udah ngomong, Sayang,” ujar Leon mengelak.

__ADS_1


“Ih, nggak bisa dibiarin! Jangan-jangan dia meluluhkan Cheryl hanya untuk membunuhnya?” seru Khansa menyentuh kedua bahu Cheryl. “Sayang, Aunty nggak mau kamu dalam bahaya. Aunty nggak mau kamu salah pilih. Terserah mau jatuh cinta sama siapa saja, tetapi jangan musuhmu, Sayang. Aduh, mendadak kepalaku pusing!” keluh Khansa menyentuh kepalanya.


“Aunty, itu dulu. Dia cuma pembunuh bayaran. Musuh utama Cheryl bukan Jourrel, tetapi yang membayar Jourrel. Dia terpaksa melakukan itu semua, Aunty. Sebenarnya dia pria yang baik.” Cheryl menjelaskan dengan perlahan.


Kemudian ia menceritakan semua kehidupan Jourrel yang begitu menyedihkan. Bahkan sepanjang Cheryl bercerita, ia sampai menitikkan air mata karena larut dalam perjuangan hidup Jourrel.


“Ya ampun, kasihan sekali,” empati Khansa setelah mendengar semuanya.


“Dokter, pasien sadar!” Suara asisten Khansa menyela percakapan mereka.


“Tunggu sebentar,” ucap Khansa melenggang masuk.


Ia segera memeriksa kondisi Jourrel yang terdiam tanpa suara. Tatapannya kosong, hanya sesekali berkedip bersamaan dengan lelehan air matanya.


Jourrel tak merespon apa pun yang ditanyakan Khansa. Ia bisa menilai, tekanan pria itu begitu dalam dan besar. Apalagi setelah mendengar semua perjalanan hidupnya. Khansa memberikan resep obat sekaligus menjadwalkan terapi berkala untuk Jourrel.


“Sabar ya, dia pasti akan segera pulih,” ucap Khansa menepuk bahu Cheryl yang berdiri di belakangnya. Gadis itu tak sabar ingin segera mengetahui kondisi Jourrel.


Cheryl mendekati ranjang, menggenggam tangan Jourrel dan menciumnya. “Kamu kuat, kamu pasti bisa melewatinya. Aku akan selalu ada di sisimu,” ucapnya tepat di telinga Jourrel, lalu memberikan kecupan di keningnya.


Napas Jourrel berembus sangat pelan. Dia merasakan lelah yang luar biasa. Lelah fisik, hati, pikiran dan jiwanya. Bibirnya masih bungkam, tidak sanggup untuk sekedar bersuara.


...\=\=\=\=000\=\=\=\=...


“Sayang, aku dapat kabar dari kuasa hukum keluargamu, kalau sekarang semua aset telah jatuh ke tanganmu lagi. Sekarang masih dalam proses balik nama. Ayo semangat, kamu harus bangkit,” ucap Cheryl yang terus mengajaknya berbicara.


Ia menunduk, menahan air matanya namun gagal. Tetap saja sesak mulai menghimpit dadanya, “Jou, aku merindukan kamu. Apa kamu tidak kangen sama aku? Kamu nggak pengen nikah sama aku? Kamu udah berhasil menyelesaikan tantangan papa. Dan kini, kamu harus meyakinkan mamaku. Apa kamu udah nggak cinta sama aku? Ayolah, Jou, semangat!” seru Cheryl menelungkupkan wajahnya di tepi ranjang. Menumpahkan kesedihannya di sana.


Jakun Jourrel bergerak naik turun menelan saliva berulang, ia mengangkat satu tangannya dan membelai puncak kepala Cheryl dengan sangat pelan.


Cheryl terperanjat, ia segera menegakkan duduknya. Netranya yang basah sudah menangkap senyuman di bibir Jourrel.


“Sayang. Maaf,” lirih Jourrel menyeka air mata Cheryl.


Terharu, Cheryl langsung memeluknya. “Kamu harus kuat, Jou,” bisik Cheryl merebahkan kepalanya di dada Jourrel. Kesabarannya terbayar sudah.

__ADS_1


“Tentu saja! Demi kamu,” aku Jourrel membelai kepala Cheryl. “Maafkan aku, sungguh, rasanya ini sangat melelahkan,” keluh Jourrel menghela napas berat.


“Iya, aku tahu. Aunty mama sudah menjelaskan semuanya. Tapi aku yakin, kamu pasti bisa melewati semuanya,” sahut Cheryl mencium Jourrel bertubi-tubi. Ia terlampau bahagia karena kesadaran Jourel kembali sepenuhnya.


Cheryl segera menelepon Khansa untuk menyampaikan kabar bahagia ini. Tak berapa lama, Khansa datang bersama sang asisten.


Ia segera melakukan pemeriksaan seperti biasa. Jourrel sudah memberikan respons setiap pertanyaan yang diajukan Khansa. Dokter cantik walaupun tak muda lagi itu, tersenyum lega.


“Syukurlah, kondisinya semakin stabil,” ucap Khansa menoleh pada Cheryl.


“Jourrel. Aku ada pertanyaan lagi yang wajib kamu jawab," ujar Khansa menatapnya serius. Jourrel mengangguk bersiap menerima pertanyaan apa pun itu.


“Apa kamu mencintai Cheryl?” tanya Khansa di luar terapinya.


Jourrel menoleh pada Cheryl, “Saya bahkan mencintainya melebihi nyawa saya sendiri, Dokter.”


“Benarkah? Kalau begitu kamu semangat dong. Gimana mau jagain Cheryl kalau kamu-nya saja lemah kayak gini. Saya ini orang tua kedua buat Cheryl, jadi jangan pernah main-main dengan anak saya. Sekali kamu berkomitmen, hidupmu menjadi jaminannya,” ucap Khansa dengan tegas.


“Baik, Dokter. Terima kasih,” sahut Jourrel tersenyum tulus.


“Satu lagi! Setelah kalian menikah, jangan harap kamu bisa bernapas jika berani menyakiti Cheryl. Baik itu ucapan ataupun perbuatan! Ingat baik-baik, nyawa kamu taruhannya!” ancam Khansa dengan manik mata tajamnya.


“Siap, Dok!” balas Jourrel mantap.


Cheryl memeluk Khansa dengan erat. “Aunty mama, makasih,” ucap Cheryl berbunga-bunga.


...\=\=\=\=000\=\=\=\=...


Hari demi hari berlalu, Jourrel sudah semakin membaik. Ia sudah diperbolehkan pulang. Tetapi ragu, ketika diajak pulang ke rumah Cheryl untuk menemui orang tuanya.


“Ayo turun! Mama sama papa udah nungguin. Aku udah bilang kalau kamu keluar dari rumah sakit pagi ini. Makanya mereka sengaja nggak pergi,” ajak Cheryl setelah mobilnya berhenti di pelataran rumahnya.


“Kok deg-degan gini ya, Cher. Nanti dulu deh. Aku mau sewa hotel atau villa deket sini aja dulu!” ucap Jourrel menekan dadanya yang berdentuman dengan kuat di dalam sana.


 

__ADS_1


Bersambung~


Mungkin 1 atau 2 bab lagi ya 🥰😚


__ADS_2