Pria Bayaran dan Gadis Mafia

Pria Bayaran dan Gadis Mafia
BAB 37 : RENCANA


__ADS_3

Perjalanan yang ditempuh Jourrel cukup jauh, akan tetapi ia bisa sampai di rumah dalam waktu tidak kurang dari setengah jam. Dengan terburu-buru, pria itu berlari memasuki rumah sampai mengejutkan ibunya yang tengah duduk di depan televisi.


"Jourrel ...." panggil Dina terkejut.


Pria itu segera duduk di sebelah ibunya, menggenggam jemari wanita baya tersebut dan merebahkan kepala di bahu sang ibu sembari mengatur napas.


Bagai kucing yang bergelayut manja pada ibunya, Jourrel selalu seperti itu jika bersama wanita yang telah melahirkannya, "Bu, ada yang ingin aku tanyakan," ucap pria itu bersuara pelan.


"Apa, Nak?" sahut Dina menepuk pelan pipi Jourrel.


"Sebelum ibu ditolong gadis itu, apakah ibu sedang menyeberang dan hampir ditabrak mobil berwarna kuning?" tanya Jourrel tanpa basa basi setelah menautkan kejadian demi kejadian yang ia lihat dan dengar.


Dina sedikit terkejut, merasa aneh, kenapa tiba-tiba Jourrel menanyakan hal tersebut. Dan bagaimana bisa anaknya itu tahu? "Kenapa?" tanyanya balik.


Bagi Dina, sudah tidak begitu mempermasalahkannya lagi, yang terpenting ia masih selamat dan tidak terluka sedikit pun.


"Jawab saja, Bu. Iya atau tidak," ucapnya bergerak menghadap sang ibu.


"Iya. Tapi, bagaimana bisa kamu tahu? Gadis cantik itu selain menolong ibu, juga membela ibu. Entahlah ibu sangat kagum padanya. Sudah baik, cantik, tidak memandang orang lain sebelah mata," papar Dina tersenyum membayangkan wajah cantik Cheryl.

__ADS_1


Seketika seolah ada sesuatu yang melesat naik hingga ke ubun-ubun. Dada Jourrel langsung meledak-ledak. Jourrel mengepalkan kedua tangannya dengan begitu kuat. Giginya bergemeletuk, "Kurang ajar!" desis Jourrel bersuara pelan namun penuh penekanan.


"Sssttt ... sudah, yang penting ibu 'kan tidak apa-apa sekarang. Sana mandi, mau ibu siapin makan sekarang?" tawar Dina.


"Nggak usah, Bu. Ibu istirahatlah," ucapnya lalu melenggang menuju kamar mandi.


Jourrel segera membersihkan diri sekaligus melepas penat. Otaknya yang sempat memanas segera didinginkan.


Beberapa menit kemudian, Jourrel masuk ke kamarnya dan berganti pakaian. Ia lalu meraih kartu nama Cheryl dan memasukkan nomor ke ponselnya.


Jemarinya mulai mengetik pesan. "Cher, ini Jourrel!" Tersadar, ia menghapusnya lagi. "Cheryl, ini Jhoni." Setelah yakin barulah ia mengirimkannya.


"Besok senin kalau keluar sama aku 'kan?" Jourrel memastikan.


"Iya, Jhon. Malam ini pun kalau mau keluar tetep sama kamu! Lagian assistenku nggak bisa bawa motor! Oh ya, kirim nomor rekening kamu ya," balas Cheryl.


"Oke. Tolong kabari lokasinya sebelum berangkat," balasnya tak sabar kemudian mengirim nomor rekeningnya. Meski sebenarnya ia tidak terlalu membutuhkannya karena ia anggap sebagai balas budi, namun Jourrel tidak ingin Cheryl curiga lebih jauh.


"Iya."

__ADS_1


Dalam relung hati terdalam, Jourrel ingin mengucapkan terima kasih atas pembelaan dan pertolongan Cheryl untuk ibunya. Namun, ia menunggu waktu yang tepat. Karena takut identitasnya akan terbongkar.


"Terima kasih, Cheryl," gumamnya tersenyum menatap percakapan mereka. Apalagi mengingat jelas bagaimana emosi gadis itu meledak untuk membela orang yang bahkan sama sekali tidak dia kenal. Dan begitu tulusnya bersikap dengan orang tua.


"Kamu terlalu baik untuk disakiti. Memang benar, sikap kamu tergantung bagaimana orang bersikap padamu," ucapnya seolah sedang berbicara dengan Cheryl di depan layar ponselnya.


Setelah membalas pesan singkat itu, Jourrel beralih ke ruangan rahasia. Menyiapkan apa saja yang harus ia bawa senin nanti. Langkahnya pelan namun tegas ketika menuruni tangga.


Jemarinya membuka sebuah almari yang di dalamnya terdapat berbagai jenis senjata. Baik itu laras panjang, revolver dan beberapa jenis dessert eagles lainnya. Beberapa koleksinya diperoleh dari kliennya yang menjadi sindikat senjata api.


Tak hanya itu, seperti biasa ketika ia menjalankan tugasnya, Jourrel mengenakan kostum yang serba hitam dan menutupi seluruh tubuhnya. Meninggalkan sepasang mata elang nya saja.


Setelah mendapat yang lebih cocok, ia beralih ke depan komputer dan mulai menyalakannya. Jemarinya sibuk menyusuri perusahaan Agra. Target pemutusan kerja sama Cheryl sekaligus kini akan menjadi targetnya.


Dengan mudah semua informasi berderet di layar komputernya. Struktur organisasi yang lengkap beserta foto-fotonya. Kini bibirnya menyeringai, matanya seolah menyala ketika melihat wajah seorang Gevano.


"Kamu belum tahu, dengan siapa kamu berhadapan," gumamnya dengan seringai tajam.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2