
Tiger berlari mendekati putrinya, begitu pun Leon yang bergegas mendekat. Tiger langsung merampas ponsel Cheryl dan meletakkannya di telinga.
“Ada apa? Siapa ini?” sentak Tiger dengan suara lantang. Tentu saja mengejutkan sang penelepon di seberang sana.
“Ma ... maaf, Tuan. Saya temannya Cheryl. Ingin mengabarkan, bahwa Ibu Dina meninggal dunia. Sekarang ada di RS Permata. Saya ingin meminta tolong agar Cheryl menyampaikannya pada Jourrel.”
Tristan kembali menjelaskan dengan suara bergetar. Dia tidak ingin menghubungi Jourrel secara langsung, takut ada apa-apa dengan pria itu. Tristan yakin, Cheryl masih bersama Jourrel.
Tiger melirik putrinya yang justru menangis tersedu-sedu. Dia langsung mematikan sambungan telepon itu dan berjongkok di depan Cheryl. Merapikan rambut anak gadisnya itu, menyisipkannya ke belakang. “Hei, kita ke rumah sakit sekarang?” tawar Tiger dengan suara pelan.
“Siapa yang sakit?” tanya Leon penasaran.
Tiger melirik Jourrel yang tampak kebingungan, namun tidak berani bertanya. Kemudian mengedikkan kepala agar mengikutinya.
“Jourrel! Ikutlah!” ajak Tiger.
Sang pemilik nama mengangguk, kemudian beranjak berdiri dan mengikuti langkah mereka semua. Sungguh, dadanya berdebar-debar sekarang. Ia beberapa kali berdehem untuk mencoba menenangkan diri, walaupun semakin lama justru semakin terasa sesak dadanya. Embusan napasnya juga terasa berat.
__ADS_1
Leon tak bertanya lagi, ia hanya mengamati apa yang terjadi. Namun tetap mengikuti Tiger dan Cheryl.
Rombongan itu sampai di rumah sakit. Derap langkah kaki terburu-buru dan menggema di lorong yang mereka lalui.
Aura yang terpancar dari para pria gagah itu, begitu kuat dan memikat, walaupun usia mereka sudah matang. Perhatian semua orang tertuju padanya. Meski wajah mereka tetap dingin seperti biasa.
Jourrel mematung ketika melihat Tristan duduk di kursi tunggu dengan kepala tertunduk dalam. Manik matanya bergerak tak tentu arah, mencoba tetap berpikir positif.
“Tan!” panggil Jourrel ketika berdiri di depan pria itu.
Tristan mendongak, matanya tampak memerah. Bahkan air mata masih menggenang di kedua netranya.
“Ada apa?” tanya Jourrel semakin gusar dan dadanya semakin berdegup kencang.
Cheryl masih dalam pelukan Tiger, menyembunyikan wajah cantiknya dalam dada bidang sang ayah.
Tristan meregangkan pelukan, menatap lekat manik mata Jourrel, “Lo harus kuat, Bray!” ucapnya menepuk-nepuk lengan Jourrel.
__ADS_1
“Apasih? Jangan berbelit-belit!” pekik Jourrel mulai emosi.
Tristan berbalik, membuka pintu ruangan tak jauh darinya. Berdiri di ambang pintu lalu mengedikkan kepala, agar Jourrel segera masuk.
Tak sabar, Jourrel melangkah panjang menerobos ruangan tersebut. Dokter Gita menoleh, menatap sendu pria yang kini semakin mendekat padanya.
Jourrel membeku saat melihat seseorang terbaring di atas ranjang dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Napasnya memburu, tubuhnya mulai gemetar.
“Ibu, sudah pergi,” bisik Tristan merengkuh bahu Jourrel.
BRUGH!
Kedua lulut Jourrel terasa lemas, tubuhnya meluruh ke lantai. Bumi yang ia pijaki seolah berhenti berputar. Air matanya berjatuhan tanpa suara. Sesak, berat, mulutnya bergetar tidak mampu berucap apa-apa.
Tristan membantunya berdiri, lalu memapahnya berjalan mendekati ranjang. Meski berat sekali melangkah, Jourrel menyeret kedua kakinya hingga berhasil mencengkeram tepian ranjang. Tristan mengangguk pada Gita agar membuka selimut dan memperlihatkan wajah Ibu Dina.
Kedua tangan Jourrel bergetar hebat, berusaha mencapai wajah ibunya yang sudah pucat. Matanya tertutup rapat. Jourrel menggerakkan jari jemarinya dengan sangat pelan, menyusuri permukaan wajah sang ibu yang terasa sangat dingin.
__ADS_1
“Aku sudah berjuang sejauh ini demi ibu. Tapi kenapa ibu menyerah?” lirih Jourrel yang tenggorokannya seperti tercekik. Kepalanya tertunduk dalam, bahunya bergetar dengan sangat hebat lalu memeluk ibunya begitu erat.
Bersambung~