Pria Bayaran dan Gadis Mafia

Pria Bayaran dan Gadis Mafia
BAB 46 : PENASARAN


__ADS_3

Jourrel meraih pinggang Cheryl dan menjatuhkan tubuhnya, sembari melesatkan dua buah peluru tepat di tangan musuhnya, sehingga tembakan mereka meleset dan senjatanya terlepas dari tangan keduanya.


Tepat bersamaan dengan sebuah peluru berkaliber besar yang melesak dari udara yang mengenai mobil musuh.


Sebuah helikopter mulai mendarat perlahan di area persawahan. Beberapa anggota berjas rapi dan beringas tengah menodongkan senjata mereka.


Tubuh keduanya terhempas jauh karena guncangan yang begitu hebat di mobil mereka. Senjatanya berhamburan jauh dari jangkauan mereka.


Sedangkan tubuh Jourrel ambruk, dengan Cheryl menindihnya. Lengan pria itu melingkar erat di pinggang Cheryl. Napas keduanya terengah-engah. Cheryl dapat melihat manik mata Jourrel di balik kaca helm.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Jourrel dengan suara pelan.


Tersadar tubuh mereka tak berjarak, Cheryl segera beranjak berdiri, membuka kaca helm-nya. Ia menoleh pada para anggota Tiger yang kini sudah melingkari musuh-musuhnya sembari menodongkan senjata.


"Terserah mau kalian apakan!" ucap Cheryl serius pada para pengawalnya.


"Siap, Nona!" seru mereka kompak.


Lalu pandangan Cheryl menunduk, menatap dua orang yang tangannya berhasil dilukai oleh Jourrel, namun masih dalam keadaan sadar. "Bilang sama Gevano, suruh siap-siap!" tegas Cheryl dengan wajah seriusnya.


Para pria berpakaian rapi itu, segera menggiring para musuh ke dalam helikopter untuk interogasi. Jika sudah menyangkut persenjataan, Cheryl menyerahkan keputusan pada papanya.


Cheryl lalu berbalik, berjalan mendekati Jourrel yang termangu melihat pemandangan di depannya. Ia menelan ludah dan semakin bertanya-tanya, siapa sebenarnya Cheryl Anastasia?


'Sepertinya, banyak misteri yang belum aku ketahui dari gadis ini,' batin Jourrel kini menatap lekat manik indah Cheryl.

__ADS_1


"Ayo!" ajak Cheryl melenggang dengan anggun dan duduk di motor.


Jourrel bergegas menyusulnya, segera menyalakan motor dan melesat pergi. Cheryl diam tak bersuara. "Mau pulang aja?" tawar Jourrel.


"Enggak! Jhoni, kenapa kamu bisa bawa senjata api gitu?" tanya Cheryl yang ternyata memikirkan itu sedari tadi.


"Eee ... buat jaga-jaga aja!" sahut Jourrel bingung menjawabnya.


"Ck! Jangan-jangan kamu anggota mafia!" tebak Cheryl dengan tatapan menyelidik.


"Apa? Bu ... bukan!" sahut Jourrel dengan cepat. Dadanya berdegub hebat karena takut identitasnya terbongkar.


Sementara itu, Tiger yang masih tersambung dengan para anak buahnya segera berbicara. "Bagaimana kondisi Cheryl?" tanya Tiger dengan geraman tertahan.


"Nona muda tidak terluka, Tuan!" balas ketua yang ditugaskan oleh Tiger.


"Baik, Tuan!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Jhon, mampir dulu ke minimarket aja deh. Keknya nggak kuat kalau ke supermall," pinta Cheryl.


"Kamu terluka?" tanya Jourrel khawatir.


"Entahlah, mungkin. Pokoknya yang penting jangan pulang ke rumah dulu. Seluruh benda di rumahku bisa berbicara! Nanti bisa dapat surat tilang dari papa. Dan kamu, hutang penjelasan sama aku, Jhon. Kenapa bisa bawa senjata itu," celoteh Cheryl.

__ADS_1


Jourrel menelan salivanya. Bukan hanya dia yang penasaran mengenai Cheryl. Namun gadis itu lebih penasaran terhadapnya. Otaknya bekerja dengan keras, memilih alasan yang tepat.


'Jika dilihat, cukup berbahaya jika memiliki uruusan dengan gadis ini. Haruskah aku mengakuinya? Dari pada nanti aku mati sia-sia karena ketahuan pernah hampir membunuhnya?' batin Jourrel merasa tidak tenang.


Tak berapa lama, Cheryl berhenti di sebuah minimarket. Ia berbelanja aneka kebutuhan pokok. Namun tidak terlalu banyak. Karena sadar kapasitas motor tidak mampu mengangkut banyak beban.


Tanpa disuruhh, Jourrel mendampinginya. Membawakan keranjang belanja layaknya seorang suami yang menemani istrinya berbelanja.


Setelah dirasa cukup, Cheryl berjalan ke kasir untuk membayarnya. Jourrel bergeming namun hatinya berkecamuk dengan bimbang.


Selesai transaksi, Cheryl hendak membawa tiga kantong besar belanjaan itu. Dengan sigap, Jourrel merebutnya dan membawa semua keluar. Bibir Cheryl mengulas senyum tipis, ia segera duduk di jok belakang.


"Mau di bawa kemana?" tanya Jourrel menyalakan mesin motornya.


"Aku tunjukin jalannya," sahut Cheryl.


Jourrel mengangguk, ia pun segera melajukannya dengan perlahan. Cheryl sedikit maju sembari lengannya menunjuk-nunjuk jalan, sesekali lengannya bersinggungan dengan bahu Jourrel.


Beberapa saat kemudian, Jourrel tersadar. Bahwa jalan yang ia lalui merupakan jalan menuju ke rumahnya. Dadanya semakin berdentum dengan sangat kuat, kepalanya juga berdenyut hebat, apalagi kini jarak rumahnya semakin dekat.


"Jhon, kenapa makin lambat?" tanya Cheryl ketika merasa Jourrel semakin melambatkan kecapatannya.


Bersambung~


__ADS_1


Nah lo,, mau apa? 😅😅


__ADS_2