
"Brengsek! Lu udah tahu dari awal kalau gue suka sama Cheryl, gue cinta sama dia. Tapi apa ini, hah? Lu bahkan mesra-mesraan sama dia di depan mata kepala gue sendiri!" pekik Tristan meraih bahu Jourrel lalu kembali memukulnya. Tepat mengenai sudut bibir Jourrel hingga sobek dan mengeluarkan darah.
Jourrel menegakkan tubuhnya sembari mengusap darah yang mengalir di wajahnya. Ia bergeming dengan helaan napas yang berat, lalu menatap pria yang ada di hadapannya. Bukannya marah, Jourrel justru tersenyum meski tak lama kemudian mendesis merasa perih dan nyeri di wajahnya.
"Gue selalu ada buat lo! Gue selalu bantu tiap lo ada kesulitan. Gue belain lo tiap ada yang nyalahin lo! Tapi ...." Tristan yang masih dikuasai amarah memutar bola mata malas sembari tersenyum menyeringai tajam. "Lo rebut dia, bahkan sebelum gue nyatain perasaan ke dia!" berangnya menunjuk ke arah lain, namun tatapan menghunus tepat pada manik Jourrel.
Jourrel tetap menatapnya dengan lembut, ia membiarkan Tristan mengeluarkan semua emosinya. Keduanya bahkan mengabaikan orang-orang di sekitar yang terkejut dan menatap mereka.
"Udah?" tanya Jourrel pelan.
Tristan bergeming dan hanya memicingkan mata. Kedua tangannya terkepal kuat di atas meja hingga urat-uratnya menonjol. Keningnya berkedut dan terdengar gigi yang bergemeletuk.
Jourrel hanya menghela napas panjang. Ia meraih kursi yang bergelimpangan dan mendekatkan pada Tristan, "Duduklah," ucapnya dengan tenang.
__ADS_1
Walaupun tak terdengar jawaban apa pun, Jourrel hanya mendesah kasar. Ia duduk di sebelah Tristan, meraih cangkir dan meneguk sisa kopi Tristan yang tinggal setengah. Tenggorokannya terasa kering. Setelah habis ia meletakkannya kembali tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Semua tidak seperti yang kamu pikirkan," ujar Jourrel membuka percakapan. Ia mendongak menatap sahabatnya dengan senyum tipis di bibirnya walau dibalas dengan ekor mata Tristan yang memicing tajam.
"Aku hanya ingin bertanggung jawab atas apa yang sudah aku lakukan padanya. Dan mungkin apa yang terlihat adalah gerakan refleks kami. Sedangkan tadi, waktu di IGD, aku sendiri nggak sadar ngelakuinnya. Kehadiran Cheryl bagaikan tiang disaat aku hampir terjatuh, setelah mendengar kondisi ibu," papar Jourrel dengan dada yang berdegub kencang.
Kini pria itu menunduk, gerakan jakunnya naik turun terlihat jelas ia tengah menahan sesuatu di hatinya. Akan tetapi, sebisa mungkin dia mencoba menutupinya.
"Tan, aku dan Cheryl bagaikan pungguk merindukan bulan. Dia jauh berada di langit, selamanya tidak akan bisa aku jangkau. Aku juga sadar diri kali, Bro. Siapa aku, sampai berani memimpikannya? Ayolah. Ada hal yang lebih penting dari ini!" serunya tertawa getir meninju lengan Tristan dengan sangat pelan. Jourrel memberi waktu sejenak agar Tristan mampu menyerap apa yang dia ucapkan.
Helaan napas berat kembali diembuskan Jourrel, ia mengangguk, kemudian menatap jam di pergelangan tangannya.
"Aku mau menemui orang yang berencana mencelakai Cheryl. Tolong jaga dia, jangan biarkan dia keluar seorang diri. Minta padanya segera menghubungi para pengawalnya demi keamanannya. Takutnya, orang itu sudah menyewa pembunuh bayaran lain untuk mencelakai Cheryl. Dan ...."
__ADS_1
Tristan menautkan kedua alisnya. Ia tidak mengerti, namun tidak memotong ucapan Jourrel dan mendengarkannya dengan serius.
Jourrel menghentikan ucapannya, dadanya berdenyut hebat hingga terasa sesak. "Jika aku tidak bisa kembali, tolong sampaikan maaf pada ibuku. Dan, ceritakan semuanya pada beliau, kenapa aku nekat mengambil pekerjaan berbahaya ini," ucapnya dengan berat.
"Bicara apa lo?! Lo harus kembali apa pun yang terjadi!" seru Tristan menggeram marah.
Jourrel mengangguk perlahan. "Pasti! Aku akan berusaha. Sorry ya, aku cuma bisa ngerepotin kamu aja selama ini. Semoga ini yang terakhir," ucapnya dengan senyuman pahit. "Aku harus segera berangkat," tukasnya beranjak berdiri kemudian melenggang cepat meninggalkan Tristan yang termangu menatap punggungnya.
Sesampainya di lantai bawah, Jourrel melangkah cepat menuju parkiran sepeda motor. Tiba-tiba ia hampir tersungkur ketika ada seseorang yang mendorong punggungnya cukup kuat.
Bersambung~
Ayangg...semangatt yaa.. Ayangnya siapa eh 🙃
__ADS_1