
Derai air mata mulai menghujani kedua pipi mulus Cheryl. Sulit sekali ia menerima kenyataan ini. Baru saja ia merasakan sesuatu yang berbeda pada seorang laki-laki, tetapi harus patah saat itu juga.
Satu-satunya lelaki yang mampu membuatnya berdebar-debar, senyum-senyum sendiri, salah tingkah, ternyata orang yang hampir melenyapkan nyawanya.
Cheryl menunduk dalam, dengan kedua tangan menggenggam begitu kuat. Terbesit rasa tak rela dari dalam hatinya. Berbagai pikiran buruk berterbangan di kepalanya. Bagaimana jika benar, Jourrel hanya mendekatinya untuk melancarkan aksinya?
Tetapi bagaimana pula dengan ibu Dina? Mungkin, jika dia tidak pernah bertemu dengan Ibu Dina, saat ini juga Cheryl akan menyerangnya, memukulnya, entah itu dengan tangannya sendiri atau melalui tangan-tangan ayahnya.
Setelah membereskan keperluan yang akan dibawa, Jourrel berjongkok di depan Cheryl, tangannya yang dingin dan gemetar memberanikan diri menggenggam jemari Cheryl.
Jourrel mendongak, sepasang netranya memerah dan berkaca-kaca. "Cheryl, aku janji akan menjelaskan semuanya nanti, setelah ibu berhasil ditangani. Aku bersumpah, aku tidak akan menyakitimu, tolong percayalah, kali ini saja," ucap Jourrel dengan suara pelan.
Dapat terlihat jelas, mata yang biasanya tajam itu menyorot penuh harap, sayu dan terlihat ketulusan di sana.
Bersamaan dengan itu, Tristan berdiri tepat di ambang pintu. Dua sejoli itu menoleh bersamaan pada Tristan. Napas lelaki itu masih terengah-engah usai berlari dari jalan raya menuju rumah Jourrel. Sempat terpaku melihat pemandangan itu, matanya menatap Jourrel dan Cheryl bergantian. Keningnya mengernyit, apalagi melihat keduanya sama-sama menangis.
Jourrel segera tersadar dan melepas tautan tangan mereka. Ia beranjak menyeka air matanya, beralih berdiri pada sang ibu, "Tolong, Tan!" ujar Jourrel menyusupkan lengan pada leher dan punggung ibunya.
Tristan pun segera membantunya, dua pria itu segera menggenndong Ibu Dina keluar rumah. Cheryl yang masih kalut pun turut beranjak, membawakan barang-barang Jourrel dalam sebuah tas kecil.
__ADS_1
Gadis itu berlari kecil menyusul mereka, hingga mendahului langkah mereka dan membukakan pintu mobil. Setelah meletakkan Ibu Dina dengan nyaman di jok penumpang belakang, Jourrel berdiri menatap Cheryl.
"Kamu mau ikut?" tanyanya dengan suara rendah.
Tanpa bersuara, Cheryl hanya mengangguk. Masih ada sisa-sisa air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Tak dapat dipungkiri, ia juga turut khawatir dengan wanita tua itu.
Jourrel berlari menghampiri Tristan yang sudah duduk di kursi kemudi, mengetuk jendela hingga terbuka dari dalam. "Jam segini jalan pasti rame. Aku naik motor buka jalan," ujar Jourrel mencari alasan.
Tristan menoleh pada Cheryl yang memeluk sebuah tas di tepi jalan. Jourrel yang paham segera menjelaskan, "Dia mau ikut, tapi dia masih trauma naik mobil."
"Yaudah, buruan!" ujar Tristan menyalakan mesin mobilnya. Segera memutar kemudi dan menuju ke rumah sakit terdekat.
Jourrel berlari dengan langkah panjang, menyentuh lengan Cheryl dan menatapnya lekat, "Tolong tunggu di sini saja. Aku akan ambil motor," ucapnya kemudian berlari kembali ke rumah untuk mengambil motor.
Tak berapa lama, Jourrel berhenti di depan Cheryl. Dua lengannya menjulur memakaikan helm pada kepala Cheryl, memastikannya sudah benar-benar aman.
"Ayo," ajak Jourrel mengedikkan kepala.
Cheryl menurut, ia segera melangkah dan duduk di belakang Jourrel. Tidak berani mendekat, membuat jarak yang sangat jauh, sama seperti saat pertama kali mereka berboncengan.
__ADS_1
Setelah itu, Jourrel segera menjalankan motor dengan kecepatan tinggi hingga mampu mendahului mobil Tristan.
Benar saja, saat ini jalanan cukup ramai, Jourrel berteriak sembari menekan klaksonnya, "Tolong kasih jalan! Darurat mau ke rumah sakit!"
Bahkan ia sampai turun ke jalan, menggedor-gedor tiap mobil di depannya agar menyingkir dan memberikan jalan.
Melihat itu, Cheryl ikut turun, ia melakukan hal yang sama seperti Jourrel di sisi yang berbeda. Jourrel tercengang, gadis itu berlarian ke sana ke mari di bawah teriknya mentari hanya demi membantunya. Hatinya benar-benar terenyuh. Jourrel kembali berlari dan meminta tiap mobil membuka jalan untuk mobil Tristan.
Alhasil, berkat kerja keras mereka berdua, mobil bisa kembali melaju dengan cepat hingga sampai ke rumah sakit.
Jourrel berlari ke motornya, menyusul Cheryl yang sudah jauh di depan. Memintanya untuk naik kembali.
Keringat mengucur di wajah cantik gadis itu, wajahnya memerah karena terpapar panasnya sinar matahari. Napasnya terengah-engah saat kembali duduk di atas motor.
Tanpa menoleh ke belakang, Jourrel meraih kedua tangan Cheryl dan menariknya hingga tubuh Cheryl terhuyung ke depan. Gadis itu tersentak, matanya membelalak dan tidak bisa bergerak. "Terima kasih, Cheryl," ucapnya pelan namun dapat terdengar di telinga Cheryl.
Jourrel kembali menjalankan motor tersebut dengan kecepatan tinggi untuk menyusul mobil Tristan.
Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih banyak supportnya, like, komen, gift maupun votenya ya 😘😘😘 Nih biar seger...