
Rainer terdiam sejenak, ia sendiri belum mengerti kenapa Cheryl di rumah sakit. “Sepertinya kita langsung ke sana aja deh, Yah!” ujar Rain memutuskan sembari menoleh pada sang ayah.
“Oke!” sahut Rico singkat, menganggukkan kepala.
Keduanya melangkah dengan gagah menuju mobil. Rain yang sudah mengetahui titik lokasi keberadaan Cheryl, bergegas melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata.
“Rain, apa yang terjadi dengan Perusahaan Agra? Kenapa kemarin banyak yang ditahan di markas? Katanya suruhan dari perusahaan itu,” tanya Rico yang duduk di samping kemudi.
"Oh, CEO nya cari masalah sama Cheryl, Yah. Jadi ya, sikat aja biar gulung tikar. Mungkin karena itu, dia nggak terima,” sahut Rain yang tidak tahu kejadian detailnya. Karena ia sibuk bersama pengacara untuk mengurus pemutusan kerja sama dan pencabutan saham.
Rico mengangguk, ia bisa menarik kesimpulan sendiri dari kejadian itu. “Mungkin karena itu nona menekan alarm darurat,” gumamnya sangat pelan.
Sedangkan permasalahan Reno, Rico jelas tidak tahu. Karena Poltak dan timnya bekerja sendiri tanpa menyambungkannya ke pusat. Dan lagi, keberangkatannya bersamaan dengan Reno yang dibawa ke Palembang. Mereka tidak sempat bertemu.
Mobil berhenti di lampu merah, Rain menengok pada detik yang sedang berjalan di papan traffic light. Masih 60 detik, ia mencari kontak Poltak dan segera meminta lokasi keberadaan sang boss. Tak butuh waktu lama, Poltak pun membalas.
“Cheryl masih di rumah sakit, Yah,” ucap Rain setelah menelitinya.
“Apa dia terluka?” Rico mengerutkan dahinya, raut wajahnya nampak khawatir. Mengingat sempat menekan alarm daruratnya.
“Sepertinya tidak, Yah.” Rain kembali melajukan mobilnya. Kali ini menaikkan kecepatan karena sudah memasuki area toll.
*******
Malam telah menyambut, menggantikan senja yang membias di langit biru. Membuat kilauan bintang terpancar di atas sana.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit, Rain dan Rico bergegas menghampiri Poltak yang masih setia menunggu di depan ruang operasi.
“Poltak! Mana Cheryl? Kenapa dia? Kenapa kamu di sini?” seru Rain panik memutar-mutar tubuhnya mencari keberadaan sang boss.
“Nona berada di dalam sedari sore tadi, Tuan,” sahut Poltak pelan tidak berani menatap matanya. Kepalanya menunduk, kedua tangannya saling menggenggam di depan tubuhnya.
Rain mencengkeram kemeja Poltak, matanya mendelik ketika melihat banyak bercak darah yang mengotori kemeja putihnya. “Apa yang terjadi padanya? Kenapa kamu belum melaporkan apa pun padaku, hah? Kamu bisa kerja apa tidak?” berang Rainer dengan emosi meledak.
“Nona sedang mendonorkan darah untuk seorang pria di dalam, Tuan. Beliau tidak apa-apa,” sahut Poltak dengan tenang, masih tidak berani menatap Rain.
Rico hanya diam sedari tadi, membaca situasi dan kondisi sambil mendengarkan penuturan bawahannya.
Ia lalu menepuk punggung Rain agar tidak melampaui batas. Barulah Rain melepaskan cengkeraman tangannya, napasnya berembus lega.
“Duduklah,” ajak Rico menunjukk kursi di sana.
Ayah dan anak itu duduk tenang memperhatikan Poltak untuk menuntut jawaban.
Meski tanpa berucap apa pun, sepasang manik Rico sudah cukup bisa mengintimidasi siapa pun yang ada di hadapannya. Hendak membuka suara, pandangan mereka tertuju pada gadis yang hendak menghampiri mereka dengan langkah tertatih.
Cheryl muncul dari pintu berbeda. Ia sudah selesai melakukan transfusi darah. Gadis itu berjalan gontai, hendak menuju kursi tunggu dengan kepala tertunduk.
“Nona kecil!” seru Rico beranjak berdiri dan bergegas menghampiri.
Cheryl yang sedari tadi menunduk, mengangkat wajahnya tatkala mendengar suara yang familiar di telinga. Bibir pucatnya berusaha mengurai senyum di depan pria paruh baya yang menjaganya sejak kecil.
__ADS_1
“Uncle Ric,” panggilnya lirih.
Rico segera berlari mendekat, lalu menangkup kedua bahu Cheryl, memapah gadis itu untuk duduk. Cheryl masih nampak lemah, Rico pun mendudukkan tubuhnya di sebelah Cheryl. Bahu kokohnya langsung dibuat sandaran kepala gadis cantik itu.
“Poltak, segera belikan makanan dan minuman bergizi untuk nona!” perintah Rico yang segera diangguki oleh Poltak.
“Yaampun, baru kali ini liat tuan putri selemah ini!” cibir Rain.
Rico langsung menoleh sembari melemparkan tatapan tajam padanya. Otomatis pria itu langsung menunduk dalam sembari menelan ludahnya susah payah.
“Uncle ....” panggil Cheryl manja masih bersandar nyaman di bahunya.
Rico menoleh, ia refleks merapikan rambut Cheryl yang berantakan. “Ikat rambutnya mana?” tanyanya pelan.
Cheryl mengangkat satu lengannya, “Ini,” tunjuknya.
Pria itu segera melepas dari lengan Cheryl, mengikat rambutnya agar tidak mengganggu.
“Siapa orang itu, sampai kamu rela membuang darah berhargamu itu?” tanya Rico setelah selesai mengikatnya.
Cheryl memejamkan mata, merebahkan kembali kepalanya pada Rico, napasnya berembus dengan pelan.
“Nona kecil, apa dia orang yang sangat penting bagimu?” lanjut Rico lagi karena tak mendapat jawaban apa pun.
Dada Cheryl tiba-tiba kembali berdetak dengan sangat kuat. Ia sendiri tidak mengerti kenapa bisa sampai seperti ini. Di sisi lain, dia takut jika Rico melaporkannya pada Tiger.
__ADS_1
Bersambung ....