Pria Bayaran dan Gadis Mafia

Pria Bayaran dan Gadis Mafia
BAB 26 : MAAF


__ADS_3

"Cher! Cheryl! Cheryl kamu mendengarku?" Jourrel mengetuk-ngetuk kaca mobil.


Cheryl masih bergeming di kursi kemudi. Air bag yang mengembang menyelematkannya dari setiap hantaman. Akan tetapi, ia terdiam, tubuhnya serasa kaku dan sulit digerakkan. Syok yang mendera membuat pikirannya mendadak kosong.


"Cheryl please, buka pintunya. Cher!" Jourrel masih mengetuk-ngetuk jendela dengan panik. Tangannya menarik-narik tuas pintu yang masih terkuci. Bahkan ia menopang satu kakinya dan sekuat tenaga menarik pintu mobil tersebut.


Beberapa saat kemudian, pintu berhasil dibuka, apalagi memang sudah sedikit rusak akibat benturan-benturan tadi.


Jourrel segera melepas seatbelt dan menggendong tubuh gadis itu. Jourrel bersimpuh dengan Cheryl berada di pangkuannya.


Gadis itu menangis tanpa suara, hanya air mata yang terus berjatuhan. Tatapan kedua netranya kosong. Seluruh tubuhnya pun kini melemas seolah tak bertulang. Jarak mereka begitu dekat. Wajah cantik Cheryl terekam jelas di mata Jourrel, meskipun sangat pucat.


Jourrel merasa bersalah, ia menggenggam jemari Cheryl yang begitu dingin. Biasanya melihat gadis itu garang, bar bar dan selalu melawan, kali ini berubah 180°.

__ADS_1


"Cher, Cheryl maafin aku," gumam Jourrel mengusap punggung tangan Cheryl.


Manik mata biru gadis itu berputar ke atas, hingga bertumbukan dengan netra Jourrel. Kedipan matanya sangat pelan dan sorot yang sayu.


"Maaf," ucap Jourrel lagi. Tidak ada tanggapan apa pun, napas Cheryl berembus berat. Bibirnya sedikit terbuka, namun tak mampu bersuara.


Tak berapa lama, rombongan mobil Tristan dan teman-temannya datang. Mereka segera berlari menghampiri ratunya itu. Mengangkatnya dan segera membawa ke rumah sakit.


Jourrel tak beranjak, hanya menatap penuh sesal pada Cheryl yang kini sudah dibawa ke rumah sakit oleh rekan-rekannya, kecuali Tristan.


Baru hendak beranjak bangun, Jourrel menerima bogem mentah dari sahabatnya. Pancaran kemarahan terlihat jelas dari gestur tubuh Tristan. Jourrel bergeming mengabaikan rasa nyeri di pipinya. Ia tak berani menatap wajah Tristan.


"Brengsek!! Apa yang lo lakuin sama Cheryl, hah?" berang Tristan mencengkeram kuat jaket Jourrel. "Lo mau bunuh dia? Apa salah dia sama lo, Jourrel!" teriaknya lagi tepat di depan wajah Jourrel.

__ADS_1


Jourrel hanya menunduk lemah. Hatinya pun hancur melihat Cheryl seperti itu karena ulahnya. Apalagi mengingat bagaimana Cheryl menolong sekaligus merawat ibunya. Sesal yang begitu besar membuncah hingga ubun-ubun.


"Jawab, sialan! Apa mau lo?!" Tristan tidak bisa menahan emosinya lagi. Mungkin jika mendengar cerita dari orang lain, dia sama sekali tidak percaya.


Akan tetapi, kali ini dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Jourrel menyelekai gadis yang dicintainya itu. Tristan kembali memukuli Jourrel. Melampiaskan kekecewaan dan kemarahannya.


Jourrel sama sekali tidak membalas, ia pasrah saja dengan apa yang dilakukan Tristan. "Sorry, Tan," ucap Jourrel tanpa mengangkat kepalanya. Wajahnya sudah babak belur penuh dengan hasil karya sahabatnya sendiri.


"Gue nggak butuh maaf lo! Gue kecewa sama lo, Jou!" Tristan menyentuh kedua bahu Jourrel. "Lo tahu gue sayang banget sama dia. Gue takut kehilangan dia. Dan lo? Elo mau bunuh dia di depan mata kepala gue sendiri! Brengsek!" sembur Tristan kali ini memukul perut Jourrel hingga pria itu membungkuk.


"Gue bakal jelasin alasannya. Tapi tidak sekarang," balas Jourrel sesekali meringis menahan sakit.


"Jelasin sekarang juga!" pekik Tristan menggelegar. Sekujur tubuhnya menegang, bahkan matanya melotot dengan begitu tajam. Tristan benar-benar marah. Selama mereka bersahabat, ini pertama kalinya Tristan sebegitu marahnya pada Jourrel. Menurutnya ini sudah keterlaluan, karena membahayakan nyawa seseorang.

__ADS_1


Bersambung~


Ngaku nggak Jou? Musuhmu bukan hanya papa macan, dan tristan dkk, tapi para emak2 juga loh.. 😒


__ADS_2