Pria Bayaran dan Gadis Mafia

Pria Bayaran dan Gadis Mafia
BAB 71 : JADI PENGANTINKU!


__ADS_3

Hal yang paling ditakutkan Jourrel akhirnya terjadi. Manik matanya berkaca-kaca, sesak mulai mendera.


Bukan hanya Jourrel, rupanya Ibu Dina juga menangis. Tetapi enggan menatap putranya. Ditambah, ia tidak dapat merasakan apa pun pada separuh tubuhnya.


“Maaf, Bu.” Suara Jourrel bergelombang.


Tidak ada balasan apa pun yang terdengar, karena Ibu Dina memilih bungkam dalam tangisnya. Benar-benar kecewa dengan putranya.


Beberapa saat kemudian, tim medis mendatangi ruangan mereka. Dokter melakukan pemeriksaan, termasuk luka Jourrel.


“Dok, kenapa separuh tubuh saya tidak bisa digerakkan?” tanya Ibu Dina dalam tangisnya.


Dokter yang baru saja memeriksa saling pandang dengan perawatnya. Kemudian menghela napas berat.


“Ibu mengalami gejala struk ringan. Dugaan saya, ada beberapa syaraf motorik yang mengalami gangguan. Selanjutnya kami akan menghubungi ahli fisioterapi untuk memastikan kondisi ibu sekaligus penanganannya,” jelas dokter tersebut.


“Apa?” sahut Jourrel tersentak.


Ibu Dina terdiam sesaat, “Kenapa saya nggak sekalian mati saja!” gumamnya kemudian.


“Ibu! Apa yang ibu bicarakan? Ibu pasti sembuh!” sanggah Jourrel.


“Ibu, tenang saja. Kami akan mengusahakan yang terbaik untuk kesehatan ibu. Semangat ya, Bu,” pamit dokter.


Hening, ruangan tersebut kembali hening. Semua ucapan Jourrel sama sekali tak ditanggapi. Wanita paruh baya itu benar-benar mendiamkannya. Jourrel pun memilih diam, memberikan waktu dan ruang untuk sang ibu.


\=\=\=\=°°°\=\=\=\=


“Sepertinya aku sudah memikirkan ganti rugi atas ketidaksopananmu semalam!” Dokter Gita memicingkan mata. “Makanan ini bukan penebus. Saya bisa membayarnya sendiri!” lanjutnya sembari menyuapkan satu potong daging ke mulutnya.


“Dih, rugi dong!” cebik Tristan makan dengan gerakan kasar.

__ADS_1


“Berapa sih? Sini saya ganti!” Dokter itu mengulurkan tangannya.


“Enggak! Harga diri laki-laki! Masa iya dibayarin perempuan.” Pria itu memutar bola matanya malas. “Lalu aku harus apa? Memang tulang Dokter ada yang melesat? Patah? Atau kenapa?”


Ada seutas senyum tipis di bibir Dokter cantik itu. Ia menyesap jus jeruk miliknya lalu menatap Tristan lekat-lekat.


“Mmm ... Ya! Aduh!” rintih gadis itu mengibas-ngibaskan lengannya.


‘Perasaan tadi baik-baik aja!’ gerutu Tristan menaikkan sebelah alisnya.


“Kamu harus menjadi pengantinku!” seru Dokter Gita membuat Tristan tersedak makanan.


Pria itu batuk brutal sampai dadanya terasa sesak. Ia meraih gelas di meja, membuang pipetnya dan meneguk minumannya langsung dari gelas.


“Hah? Saya tidak menghamili Anda, Dokter! Gimana ceritanya saya harus nikahin Anda!” seru Tristan masih dalam keterkejutannya. Napasnya masih terengah-engah, wajahnya memerah.


Dokter Gita terkekeh, “Panjang ceritanya! Kalau nggak mau saya bisa membuat laporan ke polisi, menyertakan bukti visum atas pemukulan pada seorang dokter,” ancam gadis itu beranjak berdiri.


\=\=\=\=\=°°°\=\=\=\=\=


Sementara itu di arena balap Extraordinary Riders, Cheryl berhenti setelah 10x putaran. Ada setitik kelegaan yang menjalar di hatinya.


Namun terkejut ketika menoleh ke samping. Matanya mendelik sembari berteriak, “Uncle?!”


Cheryl segera turun, berlari untuk mengambil air mineral yang tersedia tak jauh dari start lintasan. Cheryl memang membangun semacam cafe juga di sana. Tempat untuk nongkrong semua anggota club tersebut.


“Lho, Cheryl!” seru salah satu temannya.


Cheryl mengabaikannya, ia berlari lagi menghampiri Rico yang sudah pucat dan terlihat begitu lemah.


“Uncle! Minumlah!” pinta Cheryl membungkuk dan menyodorkan minuman dingin itu.

__ADS_1


Rico segera meneguk air tersebut sampai tandas. Menyandarkan punggungnya sembari memejamkan mata. Keringat sudah membasahi seluruh wajahnya. Napasnya masih berembus tak beraturan.


“Jantungku kayaknya masih ketinggalan di sana!” celetuk Rico menunjuk ujung jalan.


Cheryl menepuk bahu Rico, “Uncle ngelantur ngomongnya!” pekik gadis itu.


“Astaga, nona! Aku hampir mati!” sahutnya dengan napas tersengal-sengal menekan dadanya.


“Iihh! Uncle udah puluhan tahun kerja sama Papa kok lemah gini sih!” cibir gadis itu melepas seatbelt Rico agar pria itu mudah bernapas.


Rico membuka matanya, “Hei, Nona kecil! Jangan lupakan, 20 tahun lebih saya itu mengawal Nyonya. Berkendara di atas rata-rata bisa ditembak kepala saya, Nona! Haiihh! Apalagi umur saya sudah tidak muda lagi! Untung saja nggak punya riwayat penyakit apa pun!" sahut Rico memutar bola matanya malas.


“Hahaha! Iya juga. Ah uncle kenapa jadi Axel kuadrat. Maaf ya, Uncle! Cheryl khilaf,” ucapnya terbahak lalu memeluk pengawalnya sejak bayi itu.


"Hemmm! Nona, tadi sepanjang jalan Nona teriak apa? Sekilas denger sebut nama Jourrel," tanya Rico penasaran. Karena pacuan jantung dan ketakutannya yang kuat, Rico sama sekali tidak fokus mendengar teriakan Cheryl.


 


Bersambung~


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2