
"Ah interkom!" Setelah beberapa lama Cheryl bergelut dengan kepanikannya sendiri.
Cheryl berjalan menuju dinding yang terdapat alat komunikasi dengan para penjaga gerbang dan beberapa pelaya . Ia menyalakan interkom itu dan menunggu sampai terhubung.
"Halo, Paman! Tolong bukain pintu gerbang ya. Temen aku ada yang datang. Suruh masuk aja. Minta tolong bukain pintu dan sediain minuman. Aku mau mandi dulu," ucap Cheryl setelah mendengar ada gelombang suara.
"Baik, Nona!" sahut mereka serentak.
Setelah itu Cheryl bergegas ke kamar mandi. Dan pintu gerbang terbuka untuk Jourrel. Penjaga keamanan, mempersilakannya masuk.
"Terima kasih," ucap Jourrel menunduk sejenak, kemudian membawa motornya masuk ke pelataran luas rumah tersebut.
Dalam hati Jourrel terkagum-kagum, sepanjang perjalanan menuju pintu utama, pandangannya menyisir setiap sudut halaman rumah yang begitu luas namun tertata rapi, indah dan sangat bersih.
Motornya berasa semut yang tersesat di pelataran. Sempat ragu ingin masuk, tetapi sudah terlanjur berada di dekat teras rumah. Mau tak mau, ia pun harus segera turun.
Belum mulai mengetuk, pintu sudah terbuka. Disambut oleh seorang pelayan laki-laki bertubuh tegap dengan jas rapi. Jelas saja, karena Cheryl sudah menghubunginya terlebih dahulu.
"Silakan masuk, Tuan. Nona muda sedang mandi. Mohon tunggu sebentar," ucap pria berseragam itu dengan bahasa formal.
__ADS_1
Lagi-lagi Jourrel mengangguk. Ia merinding dengan pelayanan di rumah Cheryl. Speechless, ia sampai tidak bisa berkata-kata. Sepertinya feelingnya saat bertemu dengan Cheryl pertama kali memang benar, dia bukan gadis sembarangan.
Pelayan itu berjalan mendahului, menunjukkan ruang tamu dan mempersilakan dengan gaya yang sangat elegant. "Silakan duduk, Tuan," ujarnya membungkuk, mengulurkan satu tangannya.
"Terima kasih," ucap Jourrel merasa gugup.
Tak berapa lama setelah duduk, beberapa pelayan wanita menghampiri membawakan minuman dan makanan ringan. Jourrel merasa tak nyaman, apalagi Cheryl tak juga menampakkan batang hidungnya.
Hanya ucapan terima kasih setelah beberapa pelayan meninggalkannya. Ia tak tenang dalam duduknya. Sesekali mengusap wajahnya kasar.
Pandangannya pun mengedar ke setiap penjuru ruangan. Meski tidak semua bisa terjangkau oleh netranya. Ia merasa kerdil dan sesak napas melihat semua kemewahan yang tersaji di depannya.
"Eee ... Cheryl. Tadi saya sudah menelepon," sahut Jourrel sedikit gugup dan beranjak berdiri.
Axel menoleh ke belakang, belum nampak kehadiran sang kakak. Ia melangkah cepat menghampiri Jourrel yang membuat Jourrel mendelik.
"Pacarnya ya?" selidik Axel ketika tubuh mereka hanya berjarak beberapa centi saja.
"Bu ... bukan! Saya temannya!" jawab Jourrel terbata-bata.
__ADS_1
Axel menepuk lengan Jourrel, "Heleh, ngaku aja kali. Nggak usah malu-malu! Belum pernah ada laki-laki yang diperbolehkan ke rumah selain asistennya dan kakak!" ujar Axel berbisik kemudian menjulurkan lengannya di depan Jourrel. "Kenalin, Axel, adik satu-satunya Kak Cheryl. Eh bukan sih, Kak Cheryl masih ada adik kembar. Tapi di Palembang!" ujarnya sok akrab, memperkenalkan diri.
Jourrel mengernyit bingung. Ia hanya mengangguk mengiyakan. Meski dalam benaknya bertanya-tanya. Jourrel membalas uluran tangan Axel dan tersenyum.
"Yang sabar menghadapi kakak ya, sebenarnya dia baik kok!" ujar Axel memeluk ala lelaki dan berbisik di telinganya. Tinggi mereka memang hampir sama. Berbeda dari Cheryl yang lebih pendek dari mereka berdua.
"Axel! Ngapain kamu?" seru Cheryl menuruni tangga dengan cepat. "Eh jangan ngomong macem-macem ya!" tambahnya melayangkan tatapan tajam pada adik lelakinya.
Dua pria itu saling melepas, menoleh ke sumber suara. Axel menggeleng dan menggerakkan kedua tangan di dada. "Enggak kok, Kak. Cuma mau kenalan sama calon kakak ipar!" teriaknya berlari keluar rumah. Karena tahu, Cheryl pasti akan segera menerkamnya.
"Heh, anak kecil bicara apa kamu! Sini nggak?" teriak Cheryl hendak mengejar adiknya.
"Kakak! Aku izin mau fitness sama temen!" Axel pun berteriak sambil berlari dengan kencang. Takut tertangkap oleh sang kakak.
Cheryl mendengkus dengan napas terengah-engah. Jourrel tersenyum melihat keramaian kakak beradik itu. Apalagi dia hanya seorang diri tanpa saudara. Terbesit rasa iri di hatinya.
Cheryl beralih menatap Jourrel yang tersenyum tulus padanya. "Maaf ya. Adikku emang suka rese. Dia nggak bilang apa-apa 'kan?"
Bersambung~
__ADS_1