Pria Bayaran dan Gadis Mafia

Pria Bayaran dan Gadis Mafia
BAB 100 : DRAMA KELUARGA


__ADS_3

Tak berapa lama, pintu ruangan rawat inap VIP itu terbuka. Cheryl semakin mengeratkan pelukannya ketika sempat melirik dua super mom bersama Leon, masuk beriringan.


“Pa,” bisiknya.


“Ada apa ini?” Jihan membuka suara terlebih dahulu, mengamati seorang pria muda terbaring di atas ranjang juga putrinya bergantian.


Sedangkan Khansa bersama seorang asistennya, segera memeriksa kondisi pasien. Ia telah membaca rekam medis dan surat rujukan dari dokter yang menangani sebelumnya.


“Kita bicara di luar, biar Khansa memeriksanya lebih dulu,” ucap Tiger menyentuh pergelangan istrinya dan beranjak berdiri.


Cheryl tidak berani menatap mamanya, apalagi ketika melihat perubahan wajah wanita itu setelah melihat Jourrel di atas ranjang pasien. Dia sama sekali tak melepaskan cengkeraman tangannya dari lengan sang ayah. Kepalanya terus menempel di lengan Tiger.


“Duduklah,” titah Tiger ketika mereka di luar ruangan.


“Kamu ngapain, Kak, sembunyi di ketek papamu gitu?” tanya Jihan melongokkan kepala.


“Kangen papa, Ma!” sahut Cheryl singkat.

__ADS_1


Jihan semakin mendekat, hingga membuat Cheryl semakin merapat pada Tiger. Kepalanya menunduk dalam. Kening Jihan mengernyit, ia menaikkan dagu putri kesayangannya, menggerakkan wajah cantik itu ke kiri dan kanan.


“Kenapa? Siapa yang bikin kamu nangis sampai kayak gini, hah? Apa lelaki itu tadi yang ada di ruangan? Apa yang dia lakukan sampai wajahmu sembab kayak gini?” cecar Jihan mulai menaikkan nada bicaranya.


“Aa ... i—itu ... ah, bukan, Ma!” Cheryl tergagap menjawabnya. Ia berdebar-debar ketika menatap sorot mata sang mama yang begitu menakutkan baginya. Ya, gadis itu tak pernah berubah sejak kecil. Selalu menurut dan takut dengan wanita yang melahirkannya itu.


“Sayang, tenanglah.” Tiger meremas jemari istrinya.


Jihan menghempaskan tangan sang suami, “Tenang-tenang bagaimana? Cheryl sampai seperti ini kamu bilang tenang? Jelasin apa yang terjadi. Ini pasti gara-gara kamu yang terlalu memanjakannya!” seru Jihan kesal dan semakin marah.


“Dengar, lelaki itu calon menantumu. Dia ....”


Leon yang berada di belakang mereka tidak ingin ikut campur masalah keluarga itu. Ia hanya menjadi penonton, layaknya menikmati sebuah drama.


Cheryl semakin menyembunyikan wajahnya. Tangannya gemetar mencengkeram lengan sang papa. Dadanya berdegub dengan sangat kuat.


“Diapain kamu sama dia, hah? Sudah mama bilang berulang kali, jangan terlalu percaya dan terlalu dekat dengan lelaki mana pun selain keluarga! Mentang-mentang jauh dari mama dan papa kamu berbuat seenaknya saja!” pekik Jihan dengan mata memerah dan berkaca-kaca. Takut kejadian yang pernah menimpanya dahulu, kini menimpa putrinya.

__ADS_1


Jihan tidak mau itu terjadi, dia sangat membatasi pergaulan Cheryl. Dia tidak akan terima jika hal buruk itu terjadi pada putrinya. Tubuh Jihan menegang, sedangkan Cheryl menangis di balik punggung ayahnya.


Tiger paham apa maksud Jihan. Karena memang berulang kali wanita itu selalu memperingatkan putrinya. Jihan hanya tidak mau Cheryl melakukan kebodohannya sebelum menikah, sekaligus tidak mau putrinya terluka seperti awal pernikahannya dulu. Walaupun semua berubah seiring berjalannya waktu.


“Jihan! Cheryl baik-baik saja. Mereka saling mencintai, apa salahnya kita mendukungnya? Jourrel, nama lelaki itu. Dia laki-laki pertama yang berhasil membuatku cemburu. Karena lelaki itu membuat putriku menangis sejadi-jadinya ketika dia terluka. Dan Jourrel, dia berani bertaruh nyawa demi keselamatan Cheryl. Apa yang ada di pikiranmu tidak benar!” Kali ini Tiger yang bersuara lantang sembari membelai puncak kepala Cheryl.


Jihan bergeming dengan deru napas yang tak beraturan. Tiger menghela napas panjang, lalu melanjutkan ucapannya melembutkan suara, “Cheryl bisa menjaga diri. Hanya saja, sekarang dia sudah dewasa. Dia telah menemukan tambatan hatinya. Jangan perlakukan dia seperti anak kecil terus. Apa kamu tega menghalangi kebahagiaannya? Dia bahagia bersama pilihan hatinya, Sayang,” papar Tiger panjang lebar.


Tiger tahu, Cheryl tidak akan berani membantah ibunya. Dia takut akan menyakiti hati sang mama. Karena ia pernah menjadi saksi perjalanan pahitnya kehidupan ibunya dulu.


Jihan terduduk di sebelah Tiger, menutup wajahnya yang kini berlinang air mata. Dalam hati bersyukur ketakutannya tidak terjadi.


Tiger merengkuh bahu wanita itu, memeluknya sembari mencium kepalanya. Cheryl masih menempel di punggung sang ayah. Isakannya pun masih terdengar.


“Sayang, Cheryl ingin menikah dengan pilihan hatinya. Apa kamu tidak ingin melihatnya bahagia?” tanya Tiger dengan suara bergetar.


 

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2