Pria Bayaran dan Gadis Mafia

Pria Bayaran dan Gadis Mafia
BAB 57 : KONSEKUENSI


__ADS_3

Jourrel yang sudah waspada sedari tadi melesat mundur, mengayunkan kakinya tepat pada dua senjata yang mengarah padanya hingga terjatuh berhamburan.


Setelah musuh kehilangan senjata, Jourrel langsung menyerang mereka berdua. Memberikan tendangan dan pukulan telak pada orang-orang suruhan itu.


"Kurang ajar!" seru Reno menggeram melihat Jourrel melakukan perlawanan.


Reno meraih gelas minuman di hadapannya, mencengkeram kuat dan melempar dengan sangat keras. Gelas kaca itu menghantam tepat pada kepala belakang Jourrel. Serpihannya berjatuhan kemana-mana.


"Aarrgh!" erang Jourrel merasakan kepalanya ngilu sekaligus nyeri. Sedikit lengah, membuatnya tidak bisa mengelak tendangan di perut oleh dua kaki bawahan Reno.


Dan seketika tubuhnya ambruk. Disusul tendangan lagi pada lengan, perut dan kakinya. Jourrel berusaha menarik kesadarannya, akan tetapi terlanjur mendapat serangan beruntun, ditambah darah yang mulai mengalir di kepala, membuat pandangannya memburam.


Tangan Jourrel meraih kaki salah satu musuhnya, dengan sisa tenaga, Jourrel menghempaskan tubuh itu ke lantai. Juga menendang musuh satunya. Akan tetapi berhasil menghindar dan hampir menginjak dada Jourrel jika saja dia tidak menggulingkan tubuhnya. Ia berusaha bangun, bertopang pada pinggiran sofa.


"Kunci tubuhnya!" seru Reno dengan suara berat.


Dua bawahannya segera menarik Jourrel di kedua lengannya. Meski berusaha memberontak, tubuhnya mulai melemah. Pandangannya mulai gelap, akan tetapi Jourrel terus menggerakkan kepala agar tetap pada kesadarannya.


'Aku harus pulang. Aku harus kembali,' gumam Jourrel dalam hatinya.


Kedua tangannya mengepal dengan kuat. Meski kini gerakannya terkunci. Saat kepalanya mendongak, wajahnya berhadapan dengan Reno yang kini menodongkan senjata padanya.

__ADS_1


Reno tampak tertawa puas. "Mati saja kau! Dasar tidak berguna!" pekiknya.


Jourrel menatapnya penuh seringai dingin. Berusaha memberontak di sisa-sisa tenaganya. Napasnya tersengal, mata elangnya begitu tajam. Bak macan yang siap menerkam.


"Dor!"


Peluru bersarang di punggung salah satu dari bawahan Reno. Jourrel berhasil menarik salah satu musuh, untuk menjadi tameng pada tubuhnya. Sehingga peluru yang dilesatkan Reno tidak dapat melukainya dan menembus punggung anak buahnya sendiri.


"Brengsek!" seru Reno menarik pelatuk kembali. Peluru berhasil menembus perut Jourrel. Sisi tubuhnya yang tidak tertutupi musuh.


"Hahaha!" Tawa Reno menggelegar. Hampir menembak kembali, perhatiannya tersita pada suara pintu yang didobrak. Reno menoleh, keningnya mengernyit. "Apa-apaan ini? Beraninya masuk ke ruangan dengan tidak sopan!" pekik Reno.


Bukannya takut, pria berseragam satpam itu justru mendekat pada Reno, mengangkat kakinya tinggi hingga senjata di tangan Reno terhempas. Kemudian beralih menyerang Reno, menendang kedua tulang keringnya hingga berlutut di lantai.


Poltak menoleh pada pria yang masih mengunci pergerakan Jourrel, memicingkan mata dengan tajam. "Lepaskan dia atau aku tembak kepalamu!" seru Poltak dengan suara dingin.


"Aaa ... ampun. Lepas! Lepaskan!" seru Reno ketakutan. Tubuhnya gemetar dan raut wajahnya pucat pasi.


"Heh! Dengar tidak? Lepaskan dia!" seru Poltak pada pria yang mencengkeram lengan Jourrel.


Tak berapa lama, menyusul beberapa rekan Poltak yang turun dari helikopter. Selama berjalan ke lantai atas, Poltak terus berkomunikasi dengan semua anggota keamanan Sebastian Group lainnya.

__ADS_1


Setelah mendengar pembicaraan mereka, Poltak meminta tim lain untuk segera datang. Sehingga bisa meringkus otak perencanaan pembunuhan pada nona mereka.


Pria yang mencengkeram Jourrel segera mengangkat kedua lengannya, dan langsung disergap para pria berjas rapi. Sedangkan Tubuh Jourrel ambruk dengan luka tembak di perutnya. Matanya terpejam dengan perlahan. Kilasan kejadian-kejadian di masa lalu mulai berhamburan dari ingatannya.


Mulai dari perampokan di rumah, kehilangan sang ayah, kesulitan menjalani kehidupan setelahnya, pekerjaannya yang sudah menghabisi banyak nyawa, pertemuan pertama dengan Cheryl, kemudian perjuangannya menolong Cheryl sampai pada ibunya yang kembali drop.


"Ibu, Cheryl!" gumamnya sangat pelan, matanya tertutup rapat dengan air mata yang keluar dari kedua sudut matanya.


"Darurat! Segera bawa target ke rumah sakit! Dan serahkan pelaku pada Tuan Tiger! Dia sudah merencanakan pembunuhan pada Nona muda!" seru Poltak pada alat komunikasi di telinganya. Agar pilot helikopter segera bersiap.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Jourreeeel!!" teriak Cheryl menangis histeris. Dengan mendengarkan debuman berulang yang ia yakini perkelahian Jourrel, suara tembakan, membuat hati Cheryl teremas tangan tak terlihat. "Poltak, gimana keadaannya? Jourrel baik-baik saja 'kan? Aku mau bicara dengannya," cecar Cheryl panik.


Beberapa tim sudah membekuk Reno dan kawananannya. Segera menyerahkan pada Tiger, sang ketua mafia yang begitu kejam tanpa mengenal kata ampun. Ayah dari Cheryl Anastasia.


"Nona, dia tidak sadarkan diri. Ada luka tembak di perutnya!" lapor Poltak sembari berlari membawa tubuh Jourrel bersama beberapa timnya.


"Apa?! Cepat bawa ke rumah sakit Amarta, sekarang juga!" Cheryl memekik dan berlari keluar ruangan.


Sampai di ambang pintu, Cheryl teringat dengan Ibu Dina. Dia kembali berlari, Tristan menghampirinya, menatapnya lekat.

__ADS_1


"Pergilah, biar aku di sini," ucap Tristan tersenyum getir.


Bersambung~


__ADS_2