Pria Bayaran dan Gadis Mafia

Pria Bayaran dan Gadis Mafia
BAB 92 : TANTANGAN


__ADS_3

Jourrel mengangguk, “Saya, Tuan!” ucapnya lalu melirik Cheryl yang kini mendelik padanya. Dalam hati hanya bisa berharap, jika Tiger merubah keputusannya. Karena Jourrel sendiri tidak ingin mengingkari janjinya.


“Aku pegang ucapanmu untuk menjaga Cheryl di atas nyawamu sendiri. Jika nanti kamu bisa membawa Cheryl kembali dari misi itu dalam kondisi tanpa luka setitik pun, bawa dia ke altar!” tantang Tiger dengan tatapan serius.


Jourrel terperangah mendengarnya, mulut dan matanya melebar dengan sempurna. Rasanya ia seperti berada dalam mimpi. 'Mungkinkah ini efek terjatuh tadi,' batin Jourrel masih bergeming.


“Kau dengar tidak?” sentak Tiger ketika tak mendapat tanggapan apa pun dari lelaki itu.


“I ... iya, Tuan. Saya mendengarnya. Saya akan pastikan Cheryl pulang dengan selamat dan dalam kondisi tanpa luka sedikit pun!” sahut Jourrel mantap dengan degupan jantung yang semakin tak beraturan.


Kedua tangan Jourrel mengepal dengan kuat, sekuat tekad dan impiannya. Matanya seketika berkaca-kaca mendapat kepercayaan penuh dari calon ayah mertuanya, bahkan sekaligus mendapatkan restu. Meski harus melalui satu rintangan yang belum bisa dipastikan ke depannya nanti.


Bukan hanya Jourrel, Cheryl sendiri rasanya tak percaya kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir papanya. Ia mencengkeram kuat kedua sisi jas pria itu, mendongak dan tertawa lebar namun, netranya berkaca-kaca.


“Pa!” panggilnya dengan suara bergetar. Terharu karena pria otoriter itu akhirnya luluh dan mau mengerti perasaannya.


Tiger menunduk, senyum tipis tercetak di bibir pria itu. Walaupun memang terasa berat mengatakannya, namun kebahagiaan putrinya adalah prioritasnya. Apalagi melihat kesungguhan dan tanggung jawab Jourrel, Tiger yakin putrinya tidak menjatuhkan pilihan yang salah.


Cheryl kembali menghambur ke dalam dekapan sang ayah. Kali ini lebih erat dari sebelumnya. “Papa, terima kasih,” gumam Cheryl menangis haru.


“Kembalilah dengan selamat, jika ingin menikah dengannya. Sedikit saja ada luka, papa sendiri yang akan menghabisinya!” tegas Tiger menatap tajam pada Jourrel. Cheryl mengangguk dengan cepat.

__ADS_1


Axel ikut bahagia melihatnya, dia adalah orang pertama yang mendukung penuh hubungan sang kakak. Karena melihat kakaknya bahagia juga menjadi prioritasnya, sama seperti sang ayah.


“Sekarang PR kita, merayu duo mama.” Leon menepuk bahu Tiger dan meremasnya dengan seuntai senyum. Ah, dua lelaki super milik Cheryl itu memang terbaik.


Cheryl meregangkan pelukannya, beralih memeluk Leon dengan erat. “Om papa, makasih banyak! Sekarang lepasin Luna dari hukuman ya, Om.”


“Tidak bisa, Sayang. Itu sebagai pelajaran untuk Luna. Tenang saja, dia baik-baik saja,” ucap Leon menepuk-nepuk punggung Cheryl.


Axel mendelik ketika mendengarnya, kebetulan berpapasan dengan sepasang netra sang kakak. Wajahnya tampak khawatir mendengar pernyataan mereka. “Kak? Luna kenapa?" tanya Axel tanpa suara.


Cheryl hanya menjawab dengan sebuah gelengan kecil. Karena ia sendiri tidak tahu apa yang terjadi. Leon dan Khansa tidak mau memberi tahunya.


“Kembali ke meja bundar. Papa ingin dengar rencana kalian. Papa akan memantau dari Palembang, sambil memberi hukuman para kecoak yang sudah berusaha berencana mencelakai kamu, Cheryl!” tegas Tiger melenggang pergi ke ruangan rahasia mereka.


Semuanya segera mengekori langkah Tiger. Axel menarik lengan Cheryl hingga gadis itu tertinggal dari yang lain.


“Apa yang terjadi sama Luna, Kak?” tanya Axel dengan raut penuh kekhawatiran.


“Nggak tahu, Dek. Kayaknya dia ketahuan waktu meretas identitas Jourrel. Tapi om papa nggak mau bilang lebih jelasnya!” papar Cheryl, menepuk bahu Axel. “Kamu tenang aja, Luna pasti baik-baik aja. Cuma sekarang lagi nggak bisa dihubungi. Setelah misi kakak berhasil, kakak akan bantu cari tahu!” sambung gadis itu lalu berlari menyusul yang lainnya.


Axel memaku di tempat, tidak bisa tenang sebelum mendapatkan kabar dari gadis itu. “Tanya sama siapa? Haruskah sama kembarannya yang seperti frezeer diberi nyawa itu?” gumamnya mengacak-acak rambutnya. Ia tidak ingin ikut campur masalah para orang dewasa, sehingga membuatnya melipir ke kamar lagi.

__ADS_1


\=\=\=\=000\=\=\=\=


Setelah dua jam lamanya, rapat meja bundar pun selesai. Jourrel dan Cheryl sudah menyusun rencana untuk menumbangkan musuhnya dari segala penjuru.


Sore itu juga, Leon dan Tiger langsung terbang ke Palembang. Mereka sudah terbelenggu kerinduan yang mendalam pada wanitanya masing-masing.


Rico masih stanby untuk nona-nya. Tanggung jawabnya sudah sedikit berkurang, karena ada Jourrel di sampingnya yang sudah mendapat mandat secara langsung dari tuan besarnya.


“Kita mulai latihan!” ajak Cheryl setelah mengantar kepergian dua papanya hingga teras rumah.


“Besok saja. Sudah hampir malam,” ucap Jourrel menatap jam di pergelangan tangannya.


“No! Lebih cepat lebih baik. Ya ‘kan, Uncle?” ucap Cheryl.


“Iya, Nona! Di sini tidak ada tempat latihan. Hanya di perusahaan dan markas Tuan di Palembang,” sahut Rico tersenyum.


“Di rumah saya saja! Lebih nyaman, Uncle!” balas Jourrel.


“Oke, ayo!” ajak Cheryl bersemangat sembari menggamit lengan Jourrel.


Rico berjalan lebih dulu, menyiapkan mobil. Sedangkan Jourrel menatap gadis di sampingnya. Full senyum menghiasi bibir dua sejoli itu.

__ADS_1


 


Bersambung~


__ADS_2