
Bibir Tristan tampak bergetar ketika hendak berucap. Lain dengan Cheryl yang masih menatapnya penuh intimidasi, bahkan tatapan itu seakan bisa mengoyak isi hatinya.
"Sebenarnya, Jourrel ...."
"Keluarga Ibu Dina!" Suara suster bersamaan dengan pintu IGD yang terbuka menghentikan kalimat Tristan.
Cheryl dan Tristan beranjak dengan serentak dan mendekati petugas medis tersebut. Raut khawatir tak lepas dari wajah mereka berdua.
"Bagaimana keadaannya, Sus?" tanya Cheryl cepat.
"Putrinya? Silakan menemui dokter. Ada hal penting yang hendak beliau sampaikan," ucap suster tersebut.
"Anaknya sedang ke toilet. Boleh saya wakili?" sanggah gadis itu penasaran bercampur khawatir. Dadanya berdegub hebat, takut terjadi sesuatu yang buruk dengan Ibu Dina.
Jourrel yang melihat dari ujung lorong segera berlari dengan jangkauan panjang, agar lekas sampai. Napasnya tersengal-sengal ketika berdiri di samping Cheryl.
"Bagaimana ibu saya?" tanya Jourrel tanpa basa basi.
__ADS_1
Suster tersebut mengangguk, "Mari ikut saya," ajaknya masuk terlebih dahulu.
Tanpa bicara lagi, Jourrel masuk dengan tergesa. Cheryl menarik ujung jaket Jourrel, langkah pria itu tertahan. Ia menoleh dan membalikkan tubuhnya menatap Cheryl.
"Ikut!" ucap gadis itu singkat dan tegas.
Tak ada pilihan lain, Jourrel pun tak ingin membuang banyak waktu. Ia mengangguk dan menahan pintu hingga Cheryl masuk ke ruangan.
Dokter sudah menunggu di balik meja dengan sebuah berkas rekam medis dari Ibu Dina. Ia nampak menilik setiap catatan medis itu dengan serius.
"Dokter, bagaimana kondisi ibu saya?" tanya Jourrel mendudukkan tubuhnya dengan kasar.
Air mata Jourrel mulai menggenang di kedua matanya. Ia menunduk dalam, merasa gagal menjaga sang ibu dengan baik. Jourrel tidak sanggup mendengar kabar selanjutnya.
"Selain TBC beliau yang masih dalam tahap pengobatan, kini tensi yang tinggi, kolesterol, gula darah yang juga ikut tinggi, mengakibatkan Ibu Dina mengalami serangan jantung ringan," papar dokter tersebut.
Bahu Jourrel bergetar hebat, air matanya berhamburan begitu deras. Ia menangis tanpa suara. Kedua tangannya mengepal dengan kuat, merutuki kebodohannya, juga terjatuh pada jurang penyesalan yang begitu dalam.
__ADS_1
Cheryl tersentak kaget, tidak menyangka Ibu Dina memiliki riwayat penyakit yang kompleks. Tanpa disadari, ia pun menitikkan air mata. Kemudian menoleh pada Jourrel yang kali ini tampak begitu rapuh.
"Ibu Dina harus dirawat di ICU sampai kondisinya stabil," sambung dokter itu lagi.
"Tolong lakukan yang terbaik, Dok!" sahut Cheryl dengan suara yang bergelombang. Sedangkan Jourrel sudah tak sanggup bersuara.
Dokter meminta untuk menandatangani berkas-berkas persetujuan untuk penanganan Ibu Dina. Dengan tangan gemetar, Jourrel menandatangani setiap lembar kertas tersebut hingga selesai. Masih menunggu beberapa saat untuk disiapkan ruangan terlebih dahulu.
Cheryl mengamatinya sedari tadi, ia lalu mendekatkan kursinya pada pria itu, satu tangannya terulur meraih jemari Jourrel, menggenggam kuat, mentransfer kekuatan untuk pria itu.
Jourrel menoleh, kedua pipinya basah, sepasang matanya memerah. Ia sungguh tampak rapuh sekarang.
Cheryl menyentuh bahu Jourrel dengan tangan lainnya, ia beranjak berdiri dan refleks memeluk pria itu. "Ibu pasti sembuh," ujar Cheryl membelai kepala Jourrel dengan lembut.
Jourrel semakin menangis. Tubuhnya semakin menegang dengan getaran yang hebat. Cheryl hadir di waktu dan suasana yang tepat. Jourrel belum pernah menumpahkan segala kesedihannya, selama ini ia selalu memendamnya sendiri. Lelaki itu melingkarkan lengannya dengan kuat pada pinggang Cheryl, menyandarkan kepalanya,
Kini, hadir sosok yang memberinya kenyamanan, tempatnya bersandar dan tanpa tahu malu bahkan mengeluarkan air mata, memperlihatkan kerapuhannya pada gadis itu.
__ADS_1
Mereka tak menyadari, sepasang netra berembun melihat reaksi dua sejoli itu.
Bersambung~