
Setibanya di rumah, Jourrel tidak langsung masuk. Ia berhenti sejenak, menatap pintu kayu yang biasanya selalu ada sang ibu menunggunya pulang. Jourrel menunduk, mengatur napasnya yang mulai sesak.
Cheryl mengerti, ia menggamit lengan Jourrel dan menyandarkan kepala di bahunya. Meski tanpa suara, Cheryl ingin meyakinkan Jourrel, bahwa saat ini ia tidak sendiri.
“Ah, maaf,” ucap Jourrel ketika tersadar. Ia segera membuka pintu dan masuk ke rumah yang sederhana itu, diikuti oleh Cheryl dan Rico.
Jourrel langsung mengajak Cheryl ke kamar. Hal itu tentu saja membuat Rico mendelik, langsung menarik Cheryl dan menyembunyikannya di belakang punggungnya.
Jourrel berhenti, menoleh pada Rico yang tengah memancarkan kilat tajam dari sorot matanya. “Eee, ruang latihannya di dalam, Uncle,” tunjuk Jourrel ke dalam kamarnya.
Rico masih menatap waspada, maju terlebih dahulu untuk memeriksa keadaan kamar. Keningnya mengernyit saat pandangannya mengedar ke semua penjuru ruangan.
“Di mana tempat latihannya? Kamu mengarang ya?” Rico berbalik badan hingga berdiri tepat di depan Jourrel.
Jourrel tersenyum, ia menyelinap masuk melalui tubuh Rico. Mendorong ranjangnya hingga menghimpit dinding. Kemudian berlutut mengangkat sebuah pintu dari kayu yang ia cat menyerupai ubin kamarnya.
Rico dan Cheryl tercengang, mereka saling pandang lalu mendekat karena penasaran. Jourrel menuruni sebuah tangga menuju ruang rahasianya.
“Ayo masuk,” ajak Jourrel menatap keduanya.
Cheryl tentu sangat bersemangat, ia tidak pernah menduga sebelumnya. Di dalam rumah yang sederhana itu ternyata ada ruangan tersembunyi yang cukup luas.
“Woah keren,” puji Cheryl ketika sudah sampai di lantai tersebut. “Pantes aja takut gelantungan. Mainnya bawah tanah!” cetus Cheryl terkekeh geli.
__ADS_1
Jourrel mendengkus kasar. Ia hanya memutar bola matanya malas karena Cheryl terus mengungkitnya.
Berbagai jenis senjata api, baik itu laras panjang, revolver, berbagai jenis pisau lipat, seperangkat komputer dan tempat latihan yang cukup terawat kini memanjakan matanya. Rico mengangguk-angguk, masih mengedarkan pandangan.
“Kalian orang pertama yang aku ajak ke sini. Ibu saja nggak tahu kalau aku punya tempat rahasia ini,” ucap Jourrel mengambil beberapa jenis revolver yang akan dipakai latihan oleh Cheryl. “Ayo kita mulai!” ajak Jourrel melempar satu pistol yang segera ditangkap oleh Cheryl.
Gadis itu sangat bersemangat menyambutnya. Jourrel mengajari teknik-teknik dalam menembak jarak jauh, baik itu cara, bidikan dan titik lemah yang langsung melumpuhkan musuh.
Rico duduk santai sembari menatap pasangan itu. Di tengah keseriusannya terkadang terselip candaan Jourrel yang suka sekali menggoda Cheryl.
...\=\=\=\=000\=\=\=\=
...
Pagi ini, mereka berkumpul di kamar Cheryl, di sebuah hotel bintang lima. Mereka tiba di Medan sejak semalam, siap menjalankan misi. Tiger sudah menyiapkan akomodasi selama mereka berada di sana. Sebuah hotel mewah di kota Medan telah dibooking seluruhnya untuk Cheryl dan beberapa bawahannya. Mereka akan bersiaga ketika Cheryl membutuhkan bantuan.
Cheryl duduk di balkon kamarnya sembari mempelajari sebuah berkas di tangannya. Didampingi Rico, Jourrel pun turut bergabung dengannya.
“Berangkat jam berapa?” tanya Jourrel.
“Bentar lagi nih. Uncle udah pesen tempat duduk yang bisa dipantau Jourrel dari gedung seberang ‘kan?” timpal Cheryl bertanya pada Rico.
“Sudah siap semuanya, Nona!” sahut Rico mengangguk.
__ADS_1
Penampilan Cheryl kali ini berubah drastis. Ia mengubah rambutnya menjadi lurus dan berwarna hitam. Pakaian yang dikenakan pun kaos hitam, celana jeans dan dibalut jaket kulit berwarna hitam. Sepatu boots tinggi membalut kaki jenjangnya.
Sedangkan Jourrel, seperti biasa akan mengenakan masker yang menutup sebagian wajahnya. Tas ransel di punggungnya sudah berisi banyak sekali perlengkapan untuk misinya.
“Jou, apa pun yang kamu lihat nanti, entah kamu kenal atau tidak, aku mohon tahan dirimu untuk rencana selanjutnya,” pesan Cheryl memasangkan earphone pada telinga Jourrel.
Mereka saling berhadapan dan menatap lekat. Jourrel mengangguk sembari tersenyum lembut padanya. “Iya, aku akan menahannya,” janji Jourrel meraih tangan Cheryl dan menciumnya.
“Ehm!”
Suara deheman membuyarkan suasana romantis itu. Siapa lagi kalau bukan Rico. Ketiganya segera melenggang keluar dari kamar Cheryl. Mereka berpisah di loby, Jourrel sudah disediakan motor sport oleh Tiger, juga sebuah mobil untuk Cheryl agar memudahkan gerak mereka.
“Jou! Semangat!” seru Cheryl membuka jendela saat mereka berpapasan di pintu keluar.
Jourrel mengangguk, ia tersenyum di balik helmnya. Kemudian melajukan motor dengan kecepatan tinggi. Disusul Cheryl yang berjalan perlahan, karena Rico yang duduk di balik kemudi.
Bersambung~
sicantik & pemberani 💜
ayang plus motornya 😌
__ADS_1