
Derap langkah terburu-buru kini menggema di lorong kediaman Sebastian. Wajah mereka tampak serius, Cheryl memimpin jalan sembari menyiapkan kartu untuk membuka pintu ruangan rahasia mereka.
“Om, Papa!” panggil Cheryl berlari mendekati para lelaki hebat itu.
“Di sini!” tunjuk Leon memperlihatkan pencariannya. Memutar Laptop pada Cheryl dan Jourrel hingga mereka dapat melihat dengan jelas.
Tiger masih sibuk mencari tahu struktur organisasi yang terbentuk dari perusahaan tersebut. Juga mencari tahu beberapa kelemahan untuk melumpuhkan perusahaan yang ternyata adalah rivalnya itu.
“Secara keseluruhan semua sudah berubah. Mungkin ini sedikit sulit, karena kita harus menemukan surat-surat pengalihan perusahaan. Saya yakin ada pemalsuan dokumen di sana,” jelas Leon.
“Benar dugaanku. Perusahaan property hanya alibi. Sebenarnya mereka bergerak di dunia hitam. Melakukan transaksi jual beli senjata illegal!” tambah TIger memutar kursinya hingga mereka berempat saling berhadapan.
Cheryl mengetuk-ngetuk meja dengan jemarinya. Otaknya berusaha bekerja dengan cepat. Memikirkan strategi yang akan mereka gunakan.
“Biarkan yang muda yang turun langsung. Para orang tua tugasnya memantau saja!” usul Cheryl mendudukkan tubuhnya.
Leon melipat kedua lengannya, matanya memicing dengan tajam. Begitu pun dengan Tiger. Mereka seolah tidak terima disebut orang tua.
“Apa aku salah?” tanya Cheryl menunjuk wajahnya sendiri.
__ADS_1
“Salah!” sentak Tiger dan Leon kompak.
Cheryl menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal. Ia memundurkan punggungnya sembari menelan salivanya. ‘Udah tua, nggak mau disebut tua! Masa mau muda terus?’ batin Cheryl menggerutu dalam hati.
“Iya deh, papa dan om papa nggak ada yang tua. Cuma uncle Ric yang tua. Iya ‘kan uncle?” Cheryl beralih pada Rico yang tersentak mendapat pertanyaan random dari gadis itu.
“I ... iya, Nona!” ucap Rico tersenyum kaku.
Cheryl tertawa puas. Jourrel masih menatap serius pada setiap detail bangunan yang tampak dalam slide layar laptop Leon. Dadanya berdegup, karena ia akan segera menemukan orang yang telah membuat keluarganya porak poranda.
Melihat tubuh Jourrel yang menegang, Cheryl menepuk bahu Jourrel dan mengusapnya lembut. Jourrel menoleh pada gadis yang kini tersenyum lembut padanya.
“Pa, biar Cheryl dan Jourrel yang ke sana,” pinta gadis itu bersemangat.
“Tidak! Kamu tidak bisa menggunakan senjata. Ini terlalu berbahaya!” tolak Tiger dengan tegas.
“Cheryl bisa belajar, Pa. Tenang aja, Jourrel pasti bisa menjaga Cheryl. Iya ‘kan Jou?” ucap gadis itu.
“Saya akan menjaganya, melebihi nyawa saya sendiri, Tuan. Saya akan menjamin keselamatan Cheryl!” timpal Jourrel dengan tatapan penuh keseriusan.
__ADS_1
Tiger berdiri, berjalan mondar-mandir sembari berpikir keras. Begitu berat membiarkan Cheryl terjun sendiri. Belum lagi jika mamanya tahu, tamatlah sudah riwayat mereka.
“Tidak! Papa tidak akan pernah mengajarimu bersenjata!” tolak Tiger tak terbantahkan.
Akan tetapi bukan Cheryl namanya kalau menyerah begitu saja. Dia melangkah dan berdiri di belakang punggung kekar sang ayah.
“Pa, beri Cheryl waktu satu minggu. Jika Cheryl bisa menunjukkan kemampuan Cheryl, izinkan kami pergi! Biarkan Jourrel yang turun tangan sendiri. Karena dia lebih berhak. Dan aku akan berperan sebagai penjembatannya,” kekeh Cheryl.
Tidak ada jawaban yang keluar dari bibir Tiger, bahkan pria itu tidak mau menoleh sama sekali. Masih membatu dengan keputusan yang tidak bisa digoyahkan.
“Tuan, terima kasih banyak bantuannya hingga sejauh ini. Saya tidak tahu bagaimana cara membalasnya. Sisanya, biar saya yang membereskannya,” tukas Jourrel membungkuk setengah badan sebagai rasa hormat sekaligus rasa terima kasihnya.
“Hmm ... baiklah. Saya tahu, pasti kamu punya cara tersendiri untuk membalasnya. Saya akan kembali ke Palembang. Tapi tetap masih bisa memantau kalian dari sana. Jika membutuhkan bantuan jangan sungkan. Cheryl, berikan dia alat komunikasi dan sambungkan pada jaringan kita!” Titah Leon lebih legowo menyikapinya.
Tiger memicingkan mata. Tidak terima dengan keputusan sepihak yang dilakukan oleh Leon.
“Cheryl! Sekali papa bilang tidak, tetap tidak!” teriak Tiger menggelegar.
__ADS_1
Bersambung~