Pria Bayaran dan Gadis Mafia

Pria Bayaran dan Gadis Mafia
BAB 35 : TERGANTUNG ORANG BERSIKAP


__ADS_3

Cheryl bergeming masih dengan seringai tajamnya. Manik matanya mengeliling hingga ke setiap sudut pom bensin tersebut. Banyak CCTV yang mengintai. Ia lalu berdehem sembari memicingkan mata. Tanpa meladeni lelaki itu, Cheryl memutar langkah dan segera naik ke motor.


Jourrel sampai memutar tubuh agar dapat melihat Cheryl. Memberikan tatapan penuh tanya, "Siapa? Perasaan kamu banyak sekali musuhnya?" tanya Jourrel meraih catokan helm dan mengaitkannya.


Cheryl hampir memundurkan punggungnya, namun kalah kuat dengan Jourrel yang menarik tali pengait helm lalu menyatukannya. "Kaya gini! Biar nggak kebawa angin!" ucap Jourrel menekan pucuk helm di kepala Cheryl setelah selesai.


"Wah iya, nggak gerak-gerak ternyata. Kenapa baru bilang sih? Buruan pergi. Ada orang gila!" sahut Cheryl berbisik di telinga Jourrel.


Sempat melirik pria di balik kemudi, namun akhirnya Jourrel melajukan kembali motornya dengan perlahan. Di bawah terik matahari, disertai embusan sepoy angin yang membawa debu beserta asap kendaraan.


Cheryl begitu menikmatinya. Entah kenapa dia merasa lebih bebas. Memeluk erat tasnya, sembari memejamkan mata.


"DUGH!"


"Jhoni!! Lu itu sebenarnya bisa nggak sih bawa motor!" teriak Cheryl ketika Jourrel tiba-tiba berhenti mendadak hingga helmnya terantuk kepala Jourrel, tubuhnya pun terhuyung ke depan. Padahal pria itu yang kesakitan, akan tetapi tetap saja yang histeris adalah Cheryl.


"Tuh lihat? Mobilnya motong jalan dan berhenti tiba-tiba. Untung nggak nabrak!" jawab Jourrel mengedikkan kepala pada mobil mercedes di depannya.


"Dih, pria sombong itu!" gerutu Cheryl segera turun dari motor.


"Siapa sih? Pacar kamu? Cemburu kali, lihat kamu bareng sama aku!" cetus Jourrel asal.


Seketika Cheryl membelalak. "What? Dia? Pacar? Hiiih, amit-amit! Jangan sampai deh!" sanggah Cheryl tidak terima. Ia menarik-narik kaitan helmnya dengan susah payah.

__ADS_1


"Ah ini gimana sih bukanya!" kesal Cheryl mengerucutkan bibirnya. Jourrel terkekeh geli melihatnya.


Ia lalu menjulurkan kedua lengannya dan membantu melepas tautan pengait helm tersebut. Tanpa sengaja, manik mata mereka saling bertumbukan. Tidak ada yang berkedip maupun bergerak. Keduanya bergeming dalam keheningan.


"Wah! Wah! Ternyata begitu ya gaya pacaran kelas bawah?" Sebuah suara bariton diiringi sebuah tepuk tangan yang menggema di tepi jalan raya itu.


Mereka berdua menoleh serentak. Jourrel kembali menurunkan kedua lengannya, usai berhasil melepas tautan pengait tersebut.


"Apa mau lo?" seru Cheryl menantang.


"Tidak ada. Hanya mau nunjukin aja, kalau mobil butut ini terlalu mewah untuk kamu caci. Oh iya, tadinya mau minta ganti rugi pencucian bekas telur yang kamu lempar, tapi ...." Mata Gevano menilik dari ujung kepala hingga kaki Cheryl. "Nggak jadi deh. Sepertinya kamu nggak mampu! Atau, bisa bayar pakai tubuh sexy kamu ini," ejeknya tertawa sinis.


"Brak!"


Cheryl mendengkus kesal, "Silakan hina dan caci saya sepuas Anda. Saya, tidak peduli!" teriak Cheryl yang emosinya membuncah. Gadis itu berbalik hendak kembali ke motor. Ia tidak sabar menunggu hari senin tiba.


"Hei! Aku belum selesai bicara!" seru Gevano dengan berani menyentuh lengan Cheryl dan menariknya hingga tubuhnya menempel, kedua lengan Cheryl berada di dada pria itu.


Cheryl mendelik saat pria itu menatapnya dengan tatapan mesum. Segera ia menurunkan tubuhnya dan berputar, kemudian melesatkan sebuah tendangan di perutnya hingga pria itu jatuh berdebam di tanah.


Jourrel melongo melihatnya. Ia sudah bersiap untuk menolong Cheryl, namun lagi-lagi ia dibuat kagum dengan reaksi cepat dan tak terduga gadis itu.


"Beraninya sentuh-sentuh!" geram Cheryl menepis-nepis lengannya yang sempat dicekal oleh Gevano.

__ADS_1


Cheryl berjalan meraih helmnya, yang menggelinding ke tanah. Lalu mengangkatnya di atas kepala, mengarahkannya pada Gevano yang berusaha berdiri.


"Ayo sini maju!" tantang Cheryl.


Buru-buru Jourrel menarik lengan Cheryl dan memaksanya naik ke atas motor. Jourrel juga memasangkan helm dengan cepat. 'Pantesan kamu banyak musuh!' gerutu Jourrel dalam hati.


"Udah, kamu butuh istirahat. Jangan buang-buang tenaga!" tegasnya lalu melajukan motornya dengan cepat, meninggalkan Gevano yang menatap penuh emosi ke arah mereka.


Deru napas Cheryl berembus dengan kasar. Ia tak bersuara di atas motor. Tubuhnya masih menegang dikuasai emosi. Jourrel yang merasakannya kini memelankan laju motor.


Menoleh sekilas untuk memperhatikan wajah Cheryl yang begitu merah. Selain karena paparan sinar matahari, juga karena tengah menahan emosi.


"Pantesan musuhmu banyak, lagian biarin aja kenapa sih? Nggak usah diladenin orang kayak gitu!" ceramah Jourrel menatap lurus ke depan.


"Sikapku itu tergantung bagaimana orang bersikap padaku! Udah keputusan yang tepat buat mutusin kerja sama dengan perusahaannya!" jawab Cheryl dengan ketus.


"Emang kalian punya masalah sebelumnya?" tanya Jourrel.


Cheryl menepuk kedua bahu Jourrel dan mencengkeramnya kuat. "Dia itu hampir nabrak ibu-ibu tua yang lagi nyeberang tahu nggak? Terus nggak sopan 'kan dengan arogannya menekan klakson mobilnya terus menerus. Dia kira yang punya mobil dia doang apa! Udah gitu tadi berani-beraninya bersikap mesum. Pemimpin apaan kayak gitu!" Amarahnya kembali meledak. Cheryl berteriak sembari memukul-mukul bahu Jourrel, melampiaskan kekesalannya.


Jourrel tidak fokus pada rasa sakit di punggungnya. Hanya saja, memikirkan kalimat yang terlontar dari bibir Cheryl barusan.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2