Pria Bayaran dan Gadis Mafia

Pria Bayaran dan Gadis Mafia
BAB 70 : RAJA BUAYA


__ADS_3

Di rumah sakit....


Tristan berjalan dengan langkah panjang, ingin segera mencapai lift yang akan mengantarkannya pada cafetaria rumah sakit. Tepatnya di roof top.


Pintu tersebut sudah hampir tertutup, namun sebuah tangan menahannya hingga kembali terbuka.


Hanya ada dua insan di dalam lift tersebut. Tristan bersandar pada dinding lift, melipat kedua tangan di depan dada.


Di depannya seorang wanita cantik tengah membuka cardigan yang membungkus tubuh sexy-nya. Menyisakan tanktop hitam memperlihatkan lekukan tubuh yang indah dan bening.


Tristan mendelik seketika, sembari menegakkan punggung. “Woy! Gila lu ya? Buka-bukaan di tempat umum!” seru Tristan melepas jaketnya lalu disampirkan ke bahu gadis itu.


Tubuhnya merinding, takut juga ketika disajikan tubuh molek nan menggoda. Takut tidak kuasa menahan diri.


Gadis itu menoleh, keduanya membelalak tepat terbukanya pintu lift. Beberapa orang yang bergantian masuk menyadarkan mereka berdua dari lamunan. Sehingga dengan cepat memutus tautan mata mereka dan melenggang keluar. Kebetulan mereka memiliki tujuan yang sama.


“Dokter? Anda mau berbuat mesum ya? Gila, dokter sih tapi kok .... ” tuduh Tristan menatap penuh intimidasi.


“Aarrghh!” Tristan merintih ketika kakinya diinjak dengan heels yang lumayan tinggi.


Dokter Gita menajamkan tatapannya. “Sembarangan kalau ngomong! Nih lihat, baju aku basah! Sepertinya ketiban sial gara-gara ketemu kamu! Dan lagian jam kerjaku udah habis. Udah waktunya pulang!” sahut gadis cantik itu dengan ketus.


“Oh! Sorry!” Tristan menggaruk kepalanya.


“Yaudah itu dibawa aja jaketnya. Biar nggak jadi santapan buaya darat!” sambung Tristan.


“Terima kasih raja buaya!” balas Dokter Gita memaksa bibirnya tersenyum lebar. Namun sembari memutar bola matanya malas. Dokter Gita lalu melenggang pergi terlebih dahulu meninggalkan Tristan yang mendelik tidak terima.

__ADS_1


Langkahnya semakin panjang hingga menjajari gadis cantik itu. “Mana ada raja buaya setampan ini, heh?” elak Tristan tidak terima.


Dokter Gita menaikkan satu sudut bibirnya. “Mana ada maling ngaku maling?” sambungnya duduk di kursi kosong.


Tristan hampir melayangkan protes, akan tetapi Dokter Gita keburu menaikkan tangannya. “Ssstt! Tolong diamlah. Aku ke sini tuh pengen nenangin diri. Bukan buat berdebat hal nggak penting gini! Kalau nggak mau diem pergilah!” perintah Dokter Gita mengibaskan tangannya.


Tristan mendaratkan tubuhnya di kursi yang berhadapan dengan Dokter Gita. Ia menopang dagu dengan kedua lengannya, sembari menatap dokter itu lamat-lamat. Ia merasa, raut wajah perempuan itu seperti tengah memendam masalah.


“Dokter,” panggil Tristan.


“Apa?!” ketus gadis itu mendongak.


“Itu apa? Ingus atau apa?” tanya Tristan menunjuk hidungnya.


Dokter Gita membelalak. Buru-buru meraih tissu dan menekan kedua hidungnya. Kepalanya menunduk, sembari memejamkan mata sejenak.


“Nggak apa-apa. Udah biasa! Nanti mampet sendiri,” elak gadis itu memutar tubuh, masih menutup hidung dengan tissu yang terkena noda merah.


Tristan tidak mengerti bagaimana menanganinya. Ia beralih memesan minuman hangat, dingin dan beberapa makanan. Kemudian kembali lagi ke kursinya.


“Dokter tidak apa-apa?” tanya Tristan khawatir.


“Enggak!” sahut Dokter Gita menggeleng.


Tidak ada perbincangan lagi. Tristan enggan beranjak. Ada rasa khawatir yang tiba-tiba menyelusup hatinya.


Sampai beberapa waktu berlalu, berbagai jenis makanan sayur, daging, seafood berjajar di meja. Minuman pun hangat, dingin tersedia semua. Dokter Gita mendelik.

__ADS_1


“Kamu mau pesta? Berlebihan!” tanya gadis itu mulai galak lagi.


“Enggak. Cuma karena nggak tahu apa makanan yang baik dan yang disukai dokter, jadi ya dipesen saja semua! Tenang aja, bill sudah saya bayar. Sebagai permintaan maaf saya semalam,” tutur Tristan panjang lebar.


Dokter Gita tak berbicara lagi, ia segera meraih salah satu piring dan melahap makanan tersebut. Tristan pun melakukan hal yang sama. Meskipun keduanya dihadapkan kecanggungan, tetapi mencoba untuk bersikap biasa saja.


...\=\=\=\=\=°°°\=\=\=\=\=


...


“Nak, Cheryl!” gumam Ibu Dina.


Jourrel yang mendengar segera berjalan mendekati sang ibu. Ia menggenggam jemari lemah itu dan menciumnya, “Ibu,” panggil Jourrel.


Sepasang netra ibu Dina mulai terbuka, mengerjap dengan sangat pelan. Napasnya pun berembus pelan pula. Ia lalu memutar manik matanya, hingga bertemu dengan mata elang putranya.


Tatapan Ibu Dina berubah nyalang, kedua tangannya mencengkeram begitu kuat. Sadar digenggam oleh Jourrel, Ibu Dina melepas dan menepisnya dengan kuat.


“Pergilah! Jangan perlihatkan mukamu di hadapan ibu! Ibu kecewa sama kamu!” ucap Ibu Dina membuang wajahnya. Ia tidak mau berlama-lama menatap wajah putra semata wayangnya itu.


“Bu,” panggil Jourrel lagi.


“Jangan panggil aku ibu!” teriak Ibu Dina menahan marah.


Bersambung~


Gimana kondisi uncle ric ya 😰

__ADS_1


__ADS_2