Pria Bayaran dan Gadis Mafia

Pria Bayaran dan Gadis Mafia
BAB 68 : MELAWAN TAKUT


__ADS_3

“Gimana?” tanya Jourrel sedikit panik.


Tristan menggeleng, masih mencoba menghubungi gadis itu, “Nggak diangkat,” ucapnya berkutat dengan benda pipihnya.


Jourrel mengembuskan napas beratnya. Wajah sendu gadis itu sebelum meninggalkan ruangan ini masih terekam jelas di kepalanya.


Tak berapa lama, terdengar ketukan pintu ruangan tersebut. Tristan bergegas membukanya. Ia mengira Cheryl yang kembali. Namun ternyata bukan.


“Ada apa?” tanya Tristan menautkan alisnya. Pasalnya di depannya tengah berdiri beberapa petugas medis yang tersenyum padanya.


“Permisi, Tuan. Tolong beri jalan,” ucap salah satunya membuka lebar pintu tersebut.


Setelah itu, sebuah brankar kosong dibawa masuk dan di sejajarkan dengan ranjang pasien Ibu Dina.


Jourrel yang memang masih menahan sisa-sisa rasa sakitnya enggak banyak bersuara. Hanya menatap bingung ke arah mereka yang sibuk membenahi ranjang pasien kosong tersebut.


“Tuan Jourrel, silakan beristirahat dengan nyaman. Dokter masih harus melakukan kontrol pada kesehatan Anda,” ujar perawat yang sempat ikut pemeriksaan tadi.


“Tapi saya tidak memintanya!” elak Jourrel.


“Benar, ini adalah permintaan penanggung jawab Anda. Kami harus memastikan Anda pulih 100%. Silakan, Tuan,” tambah perawat itu dengan sopan.


Jourrel mengalihkan pandangan pada Tristan. Mereka seolah saling melempar tanya. Namun tak lama kemudian, Tristan mengerti.


“Siapa lagi kalau bukan Cheryl!” sahut Tristan santai. Memasukkan tangan di saku celananya.


Sesal merambat cepat dari ujung kaki Jourrel, hingga mencengkeram kuat hatinya. Bahkan sudah diabaikan pun, Cheryl masih begitu memperhatikannya.


“Sana baringlah. Ibu sudah ada peningkatan. Pagi ini harusnya sudah siuman. Kita tunggu saja!” saran Tristan menggerakkan kepala mengarah ranjang tersebut.


Kemudian, pengantar makanan juga mengirim dua porsi makanan pasien, sesuai dengan saran ahli gizi rumah sakit tersebut.


“Gue mau ke kantin dulu. Mau nitip apa?” tawar Tristan sebelum melenggang pergi.

__ADS_1


“Nggak usah. Thanks, Tris,” sahut Jou setelah duduk di ranjang pasien miliknya. Perlahan ia merebahkan tubuhnya, sesekali meringis menahan nyeri di perutnya. “Maaf, Cher. Terima kasih banyak,” gumamnya memejamkan mata.


...\=\=\=\=°°°\=\=\=\= ...


Sementara itu, di dalam mobil....


Rico menepuk bahunya sembari menoleh pada Cheryl. Sepasang alisnya bergerak naik turun, membuat Cheryl memasang wajah aneh.


Gadis itu memang sedari tadi diam saja, mengatur napas yang mulai tak beraturan. Mengingat kecelakaan yang pernah menimpanya. Akan tetapi karena mobil melaju dengan pelan, ia mulai bisa menguasai pikirannya.


“Sini! Nangis aja, nggak usah ditahan!” ucap Rico masih menepuk bahunya.


“Siapa?” sanggah Cheryl.


“Hmmm... nggak usah pura-pura, Nona,” ledek Rico menyandarkan punggungnya.


Cheryl mencebikkan bibir, “Diih, uncle sok tahu. Oh ya, kita ke mana? Aku mau ambil mobil dulu boleh nggak?” tanyanya.


“Di mana?” Rico balik bertanya.


Rico terkekeh, ia lalu meminta sopir untuk putar balik dan mengunjungi bengkel Tristan.


Cheryl yakin mobilnya sudah beres. Ia malas membuka ponsel yang sudah dalam mode silent. Sedang tidak ingin diganggu apa pun.


“Dulu mamamu kalau lagi sedih bisa bikin desain gaun yang indah, Nona!” pancing Rico.


“Uncle! Jangan diingetin dong. Masih banyak proyek yang belum aku kerjain desainnya! Aku lagi mau refresh otak dulu!” protes gadis itu kesal.


“Oke! Diem!” pasrah Rico.


Sesampainya mereka di bengkel, Cheryl langsung mencari keberadaan mobilnya, menanyakan pada salah satu karyawan.


“Mobil sudah beres, Nona. Kata boss, tidak perlu bayar. Karena kesalahan dari kami,” lapor seorang laki-laki muda bergegas mengambilkan mobilnya.

__ADS_1


“Lho, gratis? Wah, jangan jangan....” Rico kembali menggodanya. Akan tetapi Cheryl langsung melayangkan tatapan tajamnya pada Rico. Yang langsung mengunci kembali bibirnya.


Mobil sport milik Cheryl sudah berhenti di hadapannya. Karyawan yang membawanya segera turun dan mempersilahkan.


“Uncle yang nyetir ya. Kita ke arena!” pinta Cheryl.


“Oke!” sahut Rico beranjak menuju kursi di balik kemudi.


“Terima kasih, ya. Sampaikan sama boss kamu. Mobilnya sudah aku ambil.”


Cheryl melenggang pelan, duduk di samping kemudi dengan jantung berdegub kencang. Ia harus bisa melawan rasa takut itu. Tidak mungkin selamanya terbelenggu ketakutan.


“Pelan-pelan aja, Uncle!” seru Cheryl.


Rico mengangguk, ia mulai menyalakan mobil sang nona, melajukannya dengan kecepatan rata-rata.


Hampir 20 menit mereka baru sampai. Cheryl langsung meminta Rico berhenti di lintasan. Tatapannya lurus ke depan, tiba-tiba dadanya merasa sesak. 'Aku harus bisa melawannya!' tekadnya dalam hati.


“Uncle, temenin Cheryl ya,” pinta gadis itu memelas.


“Apa? Tumben! Tapi, kalau saya jantungan gimana, Nona?”


“Uncle! Jangan bicara seperti itu dong! Buruan pindah!” titahnya segera turun dan berpindah posisi.


Rico mengerjap pelan, “Ni anak nggak ada rencana mau ngajak mati bareng ‘kan? Serem banget kalau lagi galau!” gumam Rico bergidik.


 


Bersambung~


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2