Pria Bayaran dan Gadis Mafia

Pria Bayaran dan Gadis Mafia
BAB 28 : KETULUSAN HATI


__ADS_3

Debuman pintu terdengar di telinga Jourrel, yang berarti Tristan turun dari mobilnya. Lelaki itu setengah berlari mengitari mobil hingga berdiri tepat di belakang Jourrel.


Lengannya menjulur dan mencengkeram kuat salah satu bahu Jourrel, memaksa agar menghadap padanya. Dua pria sebaya itu saling berhadap-hadapan. Dengan tautan mata yang sama-sama kuat.


"Kenapa lo nggak pernah bilang sama gue, hah? Lo anggep gue apa? Kenapa lo pendem semua sendirian?" geram Tristan dengan mata memerah. Kepalan tangannya terus memberikan tinju di lengan Jourrel yang hanya pasrah dan menunduk.


Tristan mencengkeram salah satu bahu Jourrel dengan sangat kuat. Lalu menariknya ke dalam pelukan. Seakan turut merasakan beban yang tengah mendera sahabatnya itu.


Ia menepuk-nepuk punggung kokoh Jourrel, "Lo kuat banget, Man! Seenggaknya lo sharing ke gue! Kalau lo ada apa-apa gimana?" Suara Tristan mulai bergetar. Tenggorokannya tercekat.


Selama bertahun-tahun mereka bersama, Jourrel hanya mengatakan pernah dirampok dan ayahnya meninggal dalam tragedi tersebut. Selebihnya bungkam, tidak menceritakan lebih dalam.


Bulir bening mulai berjatuhan di kedua pipinya. Tristan semakin erat memeluk sahabatnya yang sedang rapuh itu. Dia begitu berempati pada masalah yang menimpa sang sahabat.


Sedangkan Jourrel merasa terharu dengan tanggapan Tristan. Padahal dia sudah menyiapkan hati dengan apa pun konsekuensinya. Matanya berkaca-kaca. Perlahan Jourrel membalas ketulusan Tristan.


Air mata lelaki tak selalu menunjukkan mereka lemah. Hanya saja sedang menjadi dirinya sendiri. Bukan sekedar pura-pura. Bahkan dari sana terlihat jelas ketulusan hati mereka.


"Kita harus segera ke rumah sakit. Lihat kondisi Cheryl," ucap Jourrel mengingatkan.

__ADS_1


Terlalu larut dalam kesedihan Jourrel, Tristan sampai melupakan Cheryl. Ia segera meregangkan pelukan. "Cheryl!" seru Tristan berlari memasuki mobil. Jourrel masih bergeming sembari menghela napas panjang.


Seketika membuat Tristan mendelik, "Buruan! Ngapain lo jadi patung kek gitu!" sembur Tristan menyalakan mesin mobil, bersiap melajukannya.


Setelah beberapa waktu menimang-nimang dan membolak-balikkan pikiran, Jourrel memberanikan diri untuk ikut. Sebenarnya dia belum siap bertemu Cheryl untuk saat ini.


Mobil melaju dengan kecepatan tinggi. "Sorry, Tan. Sebenarnya, mobil Cheryl aku sabotase. Jika dia mencapai kecepatan 300 km/jam, rem tidak akan bisa berfungsi. Aku melakukannya ketika kamu tidak ada di bengkel!" aku Jourrel menelan salivanya dengan berat.


Tristan menghela napas berat, "Yang penting lo juga udah selametin dia. Untung aja nggak terlambat. Telat satu detik aja, mungkin gue bakal bunuh lo!" cetus Tristan fokus mengendarai mobilnya.


Jourrel hanya menanggapi dengan tersenyum kecut. Ya, dan jika ia benar-benar terlambat, penyesalannya mungkin seumur hidup. Tidak ada suara lagi selama perjalanan, hanya deru mesin mobil yang mendominasi.


"Bagaimana kondisi Cheryl?" tanya Tristan dengan napas terengah-engah. Begitu pun Jourrel yang mengekori di belakangnya. Semua mata menatap tajam ke arah Jourrel. Mereka terlihat begitu marah, karena menganggap telah mencelakai ratunya.


Tristan yang merasakan hawa-hawa permusuhan segera mencairkan suasana. "Tunggu! Sebenarnya ada kesalahpahaman. Jourrel melakukan itu karena terpaksa. Mobil Cheryl belum sepenuhnya benar. Dia tahu karena waktu itu ikut membantuku!" ungkapnya melindungi Jourrel dari wajah-wajah bengis teman-teman satu club-nya.


Sebenarnya dalam dada Tristan berdegub sangat hebat. Karena ia takut, mereka semua menyerang Jourrel. Oleh sebab itu, dia membuat alasan yang masuk akal.


"Tumben-tumbenan kerja lo nggak bener?" seru salah satu dari mereka.

__ADS_1


"Iya! Ceroboh banget lo bahayain nyawa Cheryl!"


"Lo kalau ada masalah jangan pegang mesin, Bro. Nyawa taruhannya!"


"Baru kali ini, lo seceroboh itu, Tris!"


Hujatan demi hujatan terus menghujani Tristan. Bagai perisai yang melindungi sahabatnya, ia rela mendapat banyak cibiran dari rekan-rekannya.


"Maaf atas kelalaian kami. Aku juga belum konfirmasi kalau mobil belum OK, ternyata sudah dibawa latihan. Semoga tidak ada luka serius." Kini Jourrel angkat bicara.


Dua sahabat itu saling melindungi satu sama lain. Tristan dan Jourrel menoleh serentak hingga mereka saling bersitatap. Kemudian mengangguk pelan secara bersamaan.


"Dokter bilang, Cheryl mengalami syok berat Lo tahu sendiri selama ini dia belum pernah mengalami kecelakaan di arena." Kini salah satu dari mereka berbicara dengan nada sedikit rendah. Tidak emosi seperti tadi.


"Aku yang akan bertanggung jawab," ucap Jourrel membuat semua orang menoleh padanya.


Bersambung~


BTW gaess.. mon maap kalo up nya mungkin sedikit atau ga bisa crazy. actually, 3 hari ini aku drop. hanya rebahan doang di kasur. Jadi mon maap kalo ga sesuai ekspektasi πŸ€— big thanks and big hug buat semua supporrtnya, melalui like, komen, gift dan vote nya.

__ADS_1


I L U seantariksa ☺πŸ₯°πŸ˜˜


__ADS_2