
Cheryl begitu panik ketika tubuh wanita tua itu luruh ke lantai. Dia berjongkok sembari menopang kepala Dina. "Bu! Ibu! Paman cepat! Ibu pingsan!" teriak Cheryl ketakutan.
Jemarinya bergetar berusaha meraih ponsel dari tasnya. Ia menggulir dengan cepat layar benda pipih itu untuk menemukan kontak yang dicari. "Paman buruan buka pintunya!" Gadis itu heboh sendiri.
Paman Coy, sopir pribadi Cheryl bergegas membuka pintu yang tidak terlalu lebar itu. Kemudian kembali lagi berusaha membawa Ibu Dina dibantu Cheryl menopang kakinya.
"Aunty mama! Aunty! Aunty tolong Cheryl!" pekik gadis itu ketakutan.
"Sayang, ada apa? Coba ambil napas panjang, keluarin pelan-pelan biar tenang. Baru ngomong lagi," ucap Khansa di seberang telepon.
Cheryl melakukan apa yang diperintahkan oleh Khansa. Menarik napas panjang, sembari memejamkan matanya. Memusatkan seluruh kepanikannya. Kemudian membuangnya dengan kasar bersamaan embusan napasnya.
"Aunty, ini ada ibu-ibu pingsan. Aku harus gimana? Apa yang harus aku lakukan? Aku takut, aunty!" cerocos Cheryl dengan cepat.
"Jangan panik, Cheryl. Coba, cek denyut nadi, detak jantungnya. Kamu harus tenang dulu," ucap Khansa pelan.
Cheryl mengangguk walaupun tak terlihat oleh Khansa. Ia menghampiri wanita tua itu di sofa. Meraih lengan dan menyentuh dadanya untuk memastikan. "Masih ada, Aunty. Tapi pelan sekali, gimana dong?" tuturnya penuh kekhawatiran.
"Longgarkan semua pakaian, pastikan ruangannya cukup oksigen, gosok telapak tangan dan ujung kakinya agar hangat. Rangsang juga hidungnya dengan minyak angin ya, balurkan pada dada sedikit. Siapkan minuman ketika sadar nanti. Cheryl nggak boleh panik," jelas Khansa secara detail.
"Baik, Aunty. Jangan matiin!" Cheryl menoleh pada Paman Coy yang masih bergeming menunggu perintah nona mudanya itu. Cheryl meletakkan ponsel di meja, ia berjongkok dan menggenggam tangan Dina.
"Paman, punya minyak angin atau sejenisnya nggak?" tanya Cheryl yang wajahnya mulai berkeringat.
Paman Coy merogoh-rogoh sakunya. "Saya biasanya pakai ini, Nona," ucapnya menyodorkan minyak angin roll on.
Cheryl segera merebutnya, membalurkan pada bagian yang disebutkan Khansa dan merangsangnya tepat di bawah lubang hidungnya. "Bibi ayo dong bangun!" ucapnya. "Paman, tolong ambilkan minuman."
Pria itu mengedarkan pandangan. Dari ruang tamu bisa langsung terlihat dapurnya. Ia mengangguk dan dengan sigap segera menuangkan air putih pada gelas, membawanya ke depan.
"Nona, kamu selalu bisa menempatkan diri dengan baik," puji Paman Coy kagum.
Di kamar, Jourrel berlari dari ruang bawah tanah ketika mendengar pekikan seorang perempuan yang ia yakini bukan suara ibunya. Setelah keluar dari pintu yang sempit di kolong ranjang, ia beranjak membuka pintu kamar tanpa bersuara.
Tubuh lelaki itu sepenuhnya masih bersembunyi di balik pintu. Hanya mengintip saja, untuk memastikan keadaan di luar. Matanya mendelik ketika melihat gadis incarannya tengah panik.
__ADS_1
Dadanya berembus dengan berat melihat kondisi sang ibu. Kedua kakinya tiba-tiba melemas. Namun, Jourrel tidak berani keluar dari kamarnya.
Cheryl sendiri, lupa bahwa di rumah tersebut bukan hanya ada mereka bertiga saja. Kepanikan dan kekhawatirannya tidak bisa membuatnya berpikir jernih.
"Engggh!" Dina melenguh menggerakkan bola matanya agar terbuka.
"Ah, Ibu akhirnya kau sadar. Paman, mana minumnya!" ucap Cheryl mengembuskan napas lega.
Cheryl membantu membangunkan Dina dan menyodorkan bibir gelas tersebut pada mulutnya, "Minumlah, Bu."
Setelah meminum beberapa teguk, kedua mata Dina terbuka dengan sempurna. Ia mengedarkan pandangan, sedikit linglung lalu menyentuh kepalanya yang masih berdentum hebat.
"Bu, ibu baik-baik saja, kan?" tanya gadis itu lembut.
"Nak, kamu masih di sini? Maaf ya, ibu pasti sangat merepotkan kamu," ucap Dina tidak enak.
"Tidak apa-apa. Ibu masih sakit? Kenapa tidak ke rumah sakit saja?"
Dina tersenyum getir. "Tidak, Nak. Ibu baik-baik saja. Memang sedang dalam menjalani pengobatan. Terima kasih banyak ya, Nak."
Belum sempat menjawab, ekor matanya melihat layar ponsel berkedip berulang-ulang. Khansa masih tersambung dengannya. Namun terlihat panggilan lain dari Tristan. Ia pun meraih benda pipih itu.
"Aunty mama! Makasih ya. Ibunya udah sadar. Aunty jaga kesehatan ya. Love you," ucap Cheryl.
"Harusnya aunty yang bilang gitu. Syukurlah kalau gitu. Udah dulu ya, Sayang. Aunty lagi banyak pasien. Love you more anak cantik," balas Khansa mematikan sambungan ponselnya.
Tak berapa lama, lagi-lagi ada panggilan dari Tristan. Gadis itu kembali menempelkan ponsel ke telinga setelah mengusap layar. "Ya."
"Bentar lagi aku cabut nih. Bisa ke sini sekarang?" ujar Tristan yang sudah menunggu terlalu lama.
"Oke, tunggu bentar!" Cheryl mematikannya.
Ia lalu berpamitan pada Dina, karena kondisinya sudah membaik. Cheryl menyelipkan sejumlah uang cash di sela sofa tanpa diketahui oleh Dina.
"Ibu, Cheryl pamit ya. Karena ada urusan. Ibu cepet sembuh ya," ucapnya tersenyum lembut.
__ADS_1
"Sekali lagi terima kasih, Nak Cheryl." Dina hendak beranjak namun dilarang oleh Cheryl.
"Ibu istirahat saja, tidak usah diantar. Permisi, Bu." Cheryl beranjak dan melenggang diikuti oleh sopirnya.
Setelah beberapa waktu berlalu, Jourrel berlari menghampiri ibunya. Berjongkok sembari menyentuh kedua tangan sang ibu. "Bu," panggilnya pelan.
"Kamu terbangun ya," ucap Dina tersenyum.
"Apa yang terjadi? Ibu belum minum obat?" tanya lelaki itu khawatir. Dina mengembuskan napas berat sembari mengangguk.
Jourrel segera berdiri menyiapkan obat untuk ibunya dan mengulurkan pada wanita itu. Setelah menelan beberapa butir sesuai resep dokter, Dina kembali menyandarkan punggungnya.
"Ibu tadi ditolong seorang gadis, sangat cantik sekali. Sepertinya dia anak orang kaya. Wajahnya mirip bule. Tetapi memiliki hati yang sangat baik," puji Dina mengingat kebaikan Cheryl.
Jourrel bergetar mendengarnya. Hatinya semakin mengelak untuk melakukan pekerjaannya. Akan tetapi, sudah terlanjur menandatangani surat perjanjian kerja itu.
"Jika tidak ada gadis itu, mungkin ibu tidak akan sampai di rumah." Dina tersenyum menceritakannya.
Mata Jourrel berkaca-kaca, ia tengah berperang dengan dirinya sendiri. Dadanya teramat sesak. Sanggupkah dia melanjutkan misinya?
'Bagaimana caranya aku menghabisi nyawa orang yang telah menyelamatkan ibu?' gumamnya dalam hati. Kedua matanya memerah. Tanpa sadar air matanya menetes membasahi pipinya.
Buru-buru Jourrel menyeka sebelum ibunya menyadari. "Lain kali jangan lupa minum obat, Bu. Aku antar ke kamar ya biar bisa beristirahat," ucap Jourrel memapah ibunya.
Setelah mengantar Dina ke kamar, Jourrel berlari keluar rumah. Terus berlari melalui semak-semak belukar di belakang rumahnya. Derap langkah kakinya panjang dan penuh emosi. Sungguh, ia semakin jatuh ke dalam pusaran dilema yang begitu dalam.
"Aaaaarrgh!" teriak lelaki itu ketika sampai di sebuah bukit yang cukup jauh dari rumahnya. Jourrel bahkan sampai menjambak rambut pendeknya.
Jourrel terus berteriak sembari melempar batu pada danau tak terawat yang berjarak beberapa meter di bawahnya.
"Kenapa harus kamu, Cheryl! Kenapa?! Kenapa kamu menyelamatkan ibuku?! Sedangkan aku berencana membunuhmu, aaargggghhh!" teriaknya histeris menjatuhkan tubuhnya di atas rumput liar. Bahunya bergetar karena menangis.
Bersambung~
Jangan kaget kalau judulnya berubah ygy 🥰 makasih banyak supportnya 😘 visualnya beberapa bab lagi setelah kontrak. sabar 😊
__ADS_1