Pria Bayaran dan Gadis Mafia

Pria Bayaran dan Gadis Mafia
BAB 25 : EKSEKUSI YANG BERBEDA


__ADS_3

"Jourrel! Lu mau ngapain? Ada apa?" teriak Tristan sama sekali tidak digubris.


Tristan menatapnya dari ujung lintasan sembari berkacak pinggang. Melihat Jourrel yang panik seperti itu, memunculkan firasat tak enak di benaknya.


Konsentrasi Jourrel terpecah, ia memperhatikan gerakan mobil Cheryl sekaligus laju motornya yang harus melebihi kecepatan Cheryl saat ini.


Ia mengira-ngira, Cheryl masih melaju pada kecepatan 100 km/jam. Dan semakin lama, tentu gadis itu akan semakin menambah kecepatan.


Jourrel tak mau kalah, di sisi lintasan terus menarik tuas gas hingga mencapai 180 km/jam. Beberapa menit kemudian, Jourrel berhasil menyamai mobil Cheryl.


Deru mesin mobil Cheryl terdengar jelas semakin ditambah kecepatannya. Jourrel sedikit panik, namun dia masih berkonsentrasi agar tidak kalah.


Jourrel berhasil mendahului, ia menurunkan kecepatan ketika melihat celah memasuki lintasan balap. Jourrel melintangkan motornya di tengah jalan yang akan dilalui Cheryl pada jarak kurang lebih 20 km.


Dengan cepat Jourrel turun dan berlari ke tepi untuk mencabut bendera spanduk yang tertanam. "Sial! Susah sekali!" gerutunya lalu mematahkan bambu sepanjang satu meter.


Lelaki itu kembali berdiri dekat motornya, derap dadanya sudah sampai terasa nyeri. Napasnya tersengal-sengal dengan wajah pucat. Ia sungguh ketakutan.

__ADS_1


"Please, Cheryl. Berhenti! Jangan sampai kecepatan mobilmu di atas 300 km/jam," mohon Jourrel dalam hati sembari melambai-lambaikan bendera yang berkibar di tangannya.


Dari kejauhan, Cheryl menajamkan tatapannya. "Apa-apaan sih tu orang? Mau mati ya?" gerutu Cheryl yang masih melaju dengan kecepatan tinggi.


Semakin dekat, Jourrel masih tidak menyingkir. Ia semakin kuat menggerakkan bendera di lengannya. "Tidak ada cara lain lagi! Maaf," ucapnya pelan meraih pistol di saku jaketnya dan membidik salah satu roda mobil.


"DOR!"


"Aaarrghh!" teriak Cheryl yang kehilangan kendali atas mobilnya.


"Jo! Apa yang kamu lakukan?" Tristan tak habis pikir. Otaknya tiba-tiba ngeblank. Tubuhnya gemetar melihat kondisi mobil Cheryl saat ini.


Mobil itu menjadi oleng tak terarah, kedua tangan Cheryl menggenggam kuat setirnya. Kecepatan yang tinggi dan seolah dihentikan secara paksa membuat mobil sulit dikendalikan.


"Ya Tuhan, apa aku akan mati hari ini. Ma, aku harap mama maafin Cheryl. Pa, maaf!" ucapnya pasrah meski sekuat tenaga berusaha menguasai laju mobilnya dengan susah payah. Sepasang netra indahnya mulai berair.


Baru beberapa jam yang lalu ia memarahi papanya karena masih mengirim pengawal bayangan dan meminta agar menariknya. Ia merasa tidak nyaman dimata-matai seperti itu. Jika sudah seperti ini, ia merasa bersalah pada sang papa.

__ADS_1


"Brak!"


Hantaman pada dinding lintasan, membuat mobil berputar-putar. Cheryl memejamkan matanya, ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana sekarang.


"Brak! Sreeekkkk!"


Setelah berputar-putar, kini kembali menghantam dinding dan terseret beberapa meter. Rem tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Sehingga Cheryl menghantamkan badan mobil pada apa pun, agar lajunya bisa berhenti.


Jourrel menyingkir saat jarak mereka tinggal beberapa meter. Ia mendorong motornya, lurus pada mobil Cheryl. Agar mobil tersebut bisa berhenti. Kemudian mundur beberapa langkah dengan raut penuh kekhawatiran.


Selama melakukan eksekusi, baru kali ini dia merasa ketakutan luar biasa. Bahkan nekad mengorbankan keselamatan dirinya sendiri. Apalagi secara terang-terangan mengeluarkan peluru demi bisa menggagalkan aksinya.


"Cheryl," gumamnya dengan bibir bergetar.


Wajahnya pucat pasi. Dentuman keras terdengar ketika mobil Cheryl menghantam motor Jourrel yang melintang hingga terseret beberapa meter. Akhirnya mobil bisa terhenti. Jourrel segera berlari sekuat tenaga untuk menghampiri Cheryl.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2